Percaya yang Luar Biasa
03 April 2021

Play Audio

Menjadi persoalan bagi orang Kristen yang belum dewasa adalah ketika Allah yang disembah dan diakui ada, ternyata tidak nyata dalam kehidupan ini. “Tidak nyata” artinya tidak dialami secara fisik dan tidak dapat dirasakan dengan indera manusia. Seperti misalnya, tidak mendapat penglihatan, tidak diangkat ke surga, tidak pernah mendengar suara Tuhan secara harfiah; dengan telinga secara audible. Tidak pernah melihat sesuatu secara fisik atau penampakan Tuhan Yesus atau malaikat-Nya, dan lain-lain, seperti yang disaksikan oleh beberapa orang. Ini menjadi persoalan bagi mereka yang belum dewasa. Tentu bagi orang percaya yang dewasa hal itu bukan persoalan sama sekali. 

Mengapa menjadi persoalan? Kesalahan ini terjadi dalam kehidupan orang percaya karena menganggap bahwa memiliki pengalaman nyata secara harfiah dengan Allah sebagai tanda ciri kedewasaan rohani. Dimana pengalaman-pengalaman tersebut dipandang sebagai ciri orang yang istimewa di hadapan Allah, dan lebih dikasihi Allah dibanding dengan yang tidak mengalaminya. Seolah pengalaman dengan Tuhan menjadi tidak lengkap ketika Ia tidak dapat dialami dengan cara demikian. Orang Kristen yang percaya kepada Tuhan hanya karena tanda-tanda lahiriah atau hal-hal yang bersifat spektakuler adalah orang Kristen yang invalid. Seperti seorang cacat fisik yang membutuhkan kayu penopang.

Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat” (Yoh. 20:29). Justru menurut pernyataan Tuhan kita, orang yang tidak melihat atau tidak mengalami hal-hal yang bersifat lahiriah namun percaya, berarti berbahagia atau beruntung. Hal ini menunjukkan bahwa kalau mereka tidak mengalami pengalaman-pengalaman harfiah secara fisik, itu bukan berarti kualitas rohaninya lebih rendah. Jika tidak pernah punya pengalaman spektakuler, hendaknya kita tidak merasa memiliki kehidupan rohani yang lebih rendah, apalagi berpikir bahwa kita kurang dikasihi Allah. Orang percaya harus bertumbuh dewasa, belajar memercayai Allah tanpa tanda-tanda lahiriah

Kualitas percaya seseorang kepada Tuhan bukan terletak pada keyakinannya pada kuasa Allah yang dapat mengalir dan dapat dialami—sehingga orang biasanya bukan hanya meyakini bahwa Allah itu berkuasa—melainkan juga meyakini Allah pasti mengalirkan kuasa-Nya itu. Secara tidak langsung, dia mau mengatur dan memaksa Allah. Dengan menggunakan nama Yesus, seolah Allah tidak berdaya dan akan menuruti keinginan seseorang. Ini merupakan praktik yang keliru berkaitan dengan penggunaan nama Tuhan. Seharusnya, prinsip kita adalah “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Biarkan kehendak Tuhan yang jadi, melebihi keinginan dan impian kita. Alkitab memang berkata bahwa apa pun yang kita minta dalam nama Tuhan akan dilakukan oleh-Nya (Yoh. 14:13). Namun, kita harus melihat konteks dari ayat tersebut bahwa mereka yang meminta dalam nama Tuhan adalah orang yang telah percaya kepada Tuhan dan dipercaya oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya (Yoh. 14:12). Jadi, janji Tuhan berkaitan dengan permintaan dalam nama Tuhan tersebut bukan untuk kepentingan diri, melainkan untuk kepentingan-Nya.

Jadi, kualitas percaya seseorang bukan terletak pada keyakinannya pada kuasa Allah dan keyakinannya bahwa kuasa itu bisa dialami sehingga banyak orang meyakini kuasa Allah, dan meyakini pasti bisa mengalami mukjizat dan berkat-berkat Tuhan dari kuasa tersebut. Kualitas percaya kita ditentukan oleh kesediaan kita menerima apa pun yang harus kita alami tanpa menuntut Allah berbuat sesuatu sesuai keinginan kita. Ketika seseorang tetap memercayai Allah tanpa syarat, hal tersebut membuktikan kualitas percayanya. Inilah percaya yang luar biasa. 

Untuk memiliki kualitas percaya seperti ini, memang tidak mudah. Murid Tuhan Yesus yang selalu bersama dengan-Nya juga masih mempertanyakan kapan Tuhan akan memulihkan kerajaan Israel jasmani (Kis. 1:6-7). Hal ini menunjukkan mereka belum sepenuhnya memiliki kualitas percaya yang luar biasa ketika awal mula kebangkitan Tuhan. Namun, melalui proses panjang, para murid akhirnya mengerti dan menghidupi kualitas percaya yang luar biasa. Hal ini terbukti ketika mereka berani mempertaruhkan nyawa demi iman kepada Tuhan tanpa syarat. Mereka tidak lagi menuntut Tuhan melakukan sesuatu bagi mereka, tetapi menyerahkan diri dalam kepercayaan penuh bahwa Allah memelihara jiwa mereka. Jika para murid mengalami proses panjang untuk mencapai kualitas percaya ini, begitu pula dengan kita. Kita akan mengalami proses panjang untuk mencapai titik ini asalkan bersedia diubah oleh Tuhan. Kesediaan tersebut akan tercermin dari kehidupan kita yang tidak menuntut Tuhan, tetapi menjalani semuanya dalam iman percaya kepada-Nya. Ketakutan dan kekhawatiran kita pasti luluh dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepercayaan kita terhadap kebijaksanaan Tuhan yang sempurna. Inilah yang akan membawa kita memiliki kualitas percaya yang luar biasa sehingga kita bisa mengikuti jejak Tuhan.