Percabulan Rohani
05 July 2019

Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa orang-orang benar yang sudah meninggal -yaitu mereka yang dikatakan sebagai jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga, dan roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna- akan mendapat istirahat dari kelelahan mereka mengiring Yesus (Ibr. 12:23). Kelelahan tersebut menunjukkan bahwa mereka telah berjuang untuk pekerjaan Tuhan dengan berat. Hanya orang-orang yang telah berjuang dengan berat sampai kelelahan yang akan menerima perhentian di dalam Tuhan. Dengan demikian maka tidak semua orang Kristen memperoleh perhentian di dalam Tuhan. Hal ini sejajar dengan yang dikatakan Firman Tuhan dalam Roma 8:17 – “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Keindahan perhentian di dalam Tuhan itu harus menjadi kerinduan yang menyengat dan selalu membakar hati jiwa kita. Kalau seseorang tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang bernilai tinggi berarti orang tersebut menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (Ibr. 12:15). Hal ini akan memicu seseorang bersikap tidak setia kepada Tuhan. Tidak setia berarti percabulan di hadapan Tuhan. Bukan cabul seks, tetapi menukar keselamatan yang sangat berharga dengan kesenangan dunia (Ibr. 12:16). Kata “cabul” dalam teks ini adalah pornos (πόρνος). Kata ini menunjuk suatu perselingkuhan yang sampai pada titik merusak hakikat persekutuan dengan pasangannya. Berbeda dengan moikos (μοιχός), suatu perselingkuhan yang belum sampai pada tingkat kerusakan total, sehingga masih ada peluang atau posibilitas untuk diperbaiki. Kalau sudah sampai tingkat pornos, maka tidak ada kesempatan lagi untuk orang tersebut dapat menerima kasih karunia, sekalipun dengan mencucurkan air mata (Ibr. 12:17). Ini berarti ada penyesalan yang sangat dalam yang hanya bisa digambarkan dengan ratap tangis dan kertak gigi (Luk. 13:28).

Banyak orang Kristen yang kelelahan hidupnya bukan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, tetapi oleh karena memburu kekayaan, kehormatan, dan segala perkara dunia lainnya. Mereka menganggap hal itu wajar, bahkan mereka melibatkan Tuhan untuk membantu mereka meraih dunia ini dengan menggunakan kuasa-Nya. Malangnya, tidak sedikit gereja yang mencoba membantu orang-orang Kristen seperti ini, sehingga mereka menjadi semakin tersesat. Dari hal ini muncullah Teologi Kemakmuran yang menjanjikan berkat-berkat jasmani untuk jemaat, seakan-akan menjadi orang Kristen berhak menikmati kelimpahan jasmani semata. Jika hal ini tidak dihentikan dan jemaat tidak disadarkan, maka banyak orang Kristen yang akan terbuang dari hadirat Allah dan masuk ke dalam kegelapan abadi.

Sekarang ini, ada kesempatan yang sangat lebar untuk menghampiri Tuhan dan berdamai dengan Dia (Ibr. 12:18-21). Kemudian mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas. Mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas sama dengan mengumpulkan harta di surga, bukan yang di bumi (Mat. 6:19-20; Kol. 3:1-4). Sejak menjadi orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, fokus hidup haruslah hanya ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas. Hal ini sebagai suatu kemutlakan yang tidak dapat ditawar sama sekali. Dalam hal ini Tuhan Yesus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh mengabdi kepada dua tuan.

Tuhan memberi kesempatan untuk menghampiri Dia yang tidak menakutkan, yang berkehendak membawa kita kepada kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat suatu kumpulan yang meriah, jemaat anak-anak sulung dan roh-roh orang benar yang telah sempurna (Ibr. 12:22-23). Kita diperkenan datang kepada Tuhan Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya agar kita beroleh persekutuan dengan Allah Bapa. Oleh sebab itu kita tidak boleh menolak Firman (Ibr. 12:25). Menolak Firman artinya menolak mengenakan gaya hidup-Nya, sebab Firman yang disampaikan adalah hidup-Nya sendiri yang diajarkan kepada orang percaya. Ia datang memberi hidup (Yoh. 10:10).

Orang yang tidak belajar mengenakan gaya hidup-Nya berarti berpaling dari Allah. Ini adalah orang-orang yang pada dasarnya murtad. Karena saat kita menerima Kerajaan Allah, maka kita harus menghargai-Nya dengan mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Satu kali Tuhan Yesus akan datang menggoncangkan dunia, dan berbahagialah mereka yang berdamai dengan Dia. Orang-orang yang beribadah kepada Tuhan di bumi ini, juga akan beribadah kepada-Nya di surga.