Penundukan Diri
13 October 2020

Play Audio Version

Satu rahasia kehidupan yang harus diketahui oleh setiap orang percaya, bahwa sejatinya orang merdeka adalah orang yang tidak lagi memiliki dirinya sendiri, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Penciptanya. Dengan demikian, kesempatan hidup yang hanya satu kali dan sangat singkat di bumi ini hanya untuk menyukakan hati Allah. Jadi, kalau kita melakukan segala kegiatan hidup, semata-mata adalah usaha untuk terus mengalami perubahan, dari kehidupan yang terpusat pada diri sendiri, menjadi seorang yang berpusat hanya pada Allah. Itulah sebabnya, kita mengucapkan kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Dengan mengucapkan kalimat doa ini, maka kita telah kehilangan hidup kita sendiri dan menyerahkannya kepada Allah sebagai Pemiliknya. Kerajaan kita sendiri harus dibongkar atau dihancurkan, untuk kemudian Kerajaan Allah yang harus ditegakkan.

Tidak banyak orang yang berani kehilangan kerajaannya sendiri. Seseorang tidak berkeberatan beragama dengan tekun, menjadi rohaniwan, dan melakukan berbagai kegiatan keagamaan dengan segala pengorbanan yang bisa diberikan. Tetapi untuk kehilangan kerajaan sendiri dan hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah adalah sesuatu yang benar-benar berat. Orang yang kehilangan kerajaannya sendiri seperti seseorang yang kehilangan nyawa, kehilangan kebahagiaan, kehilangan kemerdekaan, dan masuk ke dalam sebuah wilayah hidup yang asing. Apalagi kalau melihat kehidupan manusia pada umumnya, dimana setiap orang memiliki kerajaannya sendiri. Kehilangan kerajaan adalah sesuatu yang benar-benar menyakitkan, tetapi justru inilah kemerdekaan yang sejati.

Seseorang tidak akan mengerti hidup dalam sukacita dan kebahagiaan di dalam Tuhan, sebelum benar-benar berani menyerahkan kerajaannya sendiri kepada Allah. Sama halnya seperti seorang raja yang menyerahkan takhta kerajaannya kepada raja yang lain, serta menundukkan diri kepada raja tersebut. Dalam hal ini, raja yang lain tersebut adalah Allah sendiri, yang memang Dialah satu-satunya Raja di atas segala raja, yang kepada-Nya setiap orang harus menundukkan diri secara mutlak. Orang Kristen yang tidak bersedia menundukkan diri secara demikian kepada Allah berarti seorang pemberontak. Seorang pemberontak tidak memiliki bagian di dalam Kerajaan Allah. Sebenarnya, banyak orang Kristen masih hidup dalam pemberontakan kepada Allah, tetapi tidak menyadari keadaannya tersebut. Ironis, sebab mereka akan ditolak.

Untuk hidup di dalam penundukan diri sepenuhnya kepada Allah, membutuhkan latihan dan ketekunan. Yesus telah berhasil belajar taat dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:7-9), sehingga Ia dapat hidup di dalam ketertundukan yang sempurna kepada Allah Bapa. Dalam kesempurnaan-Nya, Dia dapat menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya, artinya orang yang mau meneladani Dia. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak bisa tidak, harus mengikuti jejak-Nya, artinya memiliki hidup seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Ketika Yesus berkata bahwa Dia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri melainkan kehendak Bapa yang mengutus diri-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak memiliki Kerajaan-Nya sendiri. Yesus hidup di dalam pemerintahan Allah Bapa.

Kita harus tahu bahwa untuk mencapai kehidupan dalam penundukan diri kepada Allah Bapa bukan sesuatu yang mudah. Yesus telah bergumul di Taman Getsemani antara kehendak-Nya sendiri dan kehendak Bapa. Di akhir pergumulan, Ia menang. Kemenangan-Nya ditandai dengan kesediaan-Nya menyatakan bahwa bukan kehendak-Nya yang jadi, tetapi kehendak Bapa. Setiap kita harus memiliki pengalaman “Getsemani” ini, dan bisa meraih kemenangan seperti yang Yesus raih. Dalam hal ini, kita harus berani membenturkan antara kehendak kita dengan kehendak Allah. Dalam segala sesuatu yang kita hadapi, kita harus selalu mempersoalkan kehendak Allah di dalamnya, artinya kita tidak akan melakukan sesuatu di luar kehendak Allah. Dalam hal ini, kita benar-benar belajar menjaga perasaan Allah. Menjaga perasaan Allah berarti berusaha untuk tidak melukai hati Allah. Sebaliknya, berusaha untuk selalu menyukakan hati-Nya.

Hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah adalah hidup dalam suasana merasakan kehadiran Allah di dalam hidup ini atau yang sama dengan hidup di hadirat-Nya. Inilah yang dimaksud oleh Alkitab dengan “hidup di hadapan Allah.” Jika seseorang hidup dengan pola demikian, barulah disebut sebagai seorang yang ber-Tuhan. Tentu saja orang-orang seperti ini hidupnya sangat berkualitas. Dalam konteks hidup sebagai orang percaya, ia pasti akan makin menjadi seperti Yesus. Keagungan hidup orang-orang seperti ini akan memancar kuat, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai utusan Kristus atau saksi Kristus di tengah dunia yang gelap. Dalam kenyataan hidup, lebih banyak orang yang beragama tetapi tidak bertuhan. Dalam lingkungan Kristen, mereka beragama Kristen, tapi tidak seperti Kristus. Tentu saja mereka belum bisa dikatakan sebagai anak-anak Allah.