Pengujian Yang Sesungguhnya
28 January 2017

Mereka yang percaya adanya api penyucian juga melandaskan pandangannya pada pernyataan Alkitab mengenai pengujian dengan api. Paulus dan Petrus dalam tulisannya menunjuk adanya pengujian dengan api (1Kor. 3:15; 1Ptr. 1:7). Hal tersebut dipahami sebagai api penyucian di balik kematian seseorang. Jika kita menganalisa dengan teliti ayat di 1 Korintus 3:15, konteksnya mengenai hasil pekerjaan rasul-rasul dalam pelayanan. Paulus menasihati jemaat Korintus yang masih duniawi, belum dewasa dan terpecah-pecah, seakan-akan ada orang percaya di pihak Paulus dan yang lain di pihak Apolos. Dalam nasihatnya tersebut Paulus menunjukkan bahwa baik Paulus dan Apolos adalah pelayan-pelayan Tuhan yang memiliki tempat sendiri dalam pelayanan. Paulus yang menanam, Apolos yang menyiram dan Allah yang menumbuhkan. Suatu saat hasil pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu (1Kor. 3:13-14). Masalahnya adalah apa yang dimaksud dengan api di sini. Tentu ini bukanlah api penyucian yang akan dialami orang percaya nanti di balik kubur. Tetapi api ini adalah kiasan dari masa aniaya dan penderitaan yang dialami orang percaya. Hanya dengan aniaya atau keadaan yang sulit -yang digambarkan sebagai api di bumi ini- kualitas iman seseorang teruji. Pengujian bukan secara mistis di balik kubur.

Adapun 1 Petrus 1:7 konteksnya juga sama, yaitu penderitaan yang dialami orang percaya sebagai ujian, apakah orang percaya memiliki keteguhan dan kesetiaan kepada Kristus. Di ayat sebelumnya Petrus menulis: Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Jelas sekali bahwa berbagai-bagai pencobaan tersebut berlangsung di bumi ini, bukan nanti di balik kubur. Jadi sangatlah keliru kalau ayat ini dikaitkan atau dipahami sebagai api penyucian nanti di balik kubur.

Pengujian yang sesungguhnya bagi orang percaya berlangsung sekarang di bumi untuk menunjukkan kemurnian iman mereka, sampai mencapai tingkat sempurna. Tuhan Yesus sendiri harus menghadapi ujian berat seperti yang dialami oleh Ayub. Kalau Ayub hanya dilukai sampai dagingnya, tetapi Tuhan Yesus sampai nyawa-Nya. Penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus inilah baptisan itu. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia harus dibaptis (Luk. 12:50). Kematian-Nya merupakan baptisan, kalau baptisan pada umumnya menggunakan air, tetapi Tuhan Yesus sampai dikubur, dan Tuhan Yesus tetap pada komitmen-Nya untuk taat sampai mati. Ini adalah sebuah ketaatan tak bersyarat yang tidak terbatas. Ketaatan yang pantas bagi Tuhan semesta alam.

Orang percaya harus mengalami pengujian yang sama seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus, artinya bahwa perjuangan yang dialami Tuhan Yesus juga harus mereka alami. Dalam Matius 10:38-39, bahwa orang percaya harus minum cawan yang Dia minum dan dibaptis dengan baptisan yang sama. Ini berarti orang percaya harus mengalami penderitaan yang sama seperti yang Tuhan Yesus alami, sebab mereka yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia juga (Rm. 8:17-18). Penderitaan seperti ini sesungguhnya adalah karunia (Flp. 1:29; 1Ptr. 2:19). Paulus menyebutkan bahwa penderitaan yang dialami jemaat sama seperti penderitaan yang dialami-Nya. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus jelas sekali mengatakan bahwa barangsiapa mengikut tetapi tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi Tuhan (Mat. 10:38).

Penderitaan merupakan ujian apakah seseorang pantas dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus memerintah bersama dengan Tuhan Yesus dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau tidak (1Ptr. 1:7). Bagaimana seseorang mendapat pujian kalau tidak terbukti berprestasi dalam hidupnya selama di bumi ini? Itulah sebabnya baptisan penderitaan ini disebut sebagai baptisan api, sebab api itu memurnikan. Dalam 1 Kor 3:12-13 Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Pengujian tersebut bisa berupa aniaya yang harus dialami orang percaya.