Penghormatan Bagi Allah
03 July 2019

Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya manusia hidup membutuhkan pengakuan dari manusia lain atau dari dunia sekitarnya; dari pengakuan kelas sederhana sampai pada sanjungan dan pujian, bahkan pemujaan. Pada umumnya, setiap orang menuntut bahwa ia pantas mendapat tempat sekecil apa pun dalam ruangan kehidupan ini. Dengan istilah lain, setiap insan menuntut untuk dimanusiakan. Betapa abstraknya hal ini, sebab pengertian “dimanusiakan” itu sangat relatif. Seseorang akan sangat terluka dan sakit hati -bahkan terbangkitkan amarahnya- bila merasa harkatnya diinjak-injak. Harkat di sini maksudnya adalah derajat (kemuliaan); nilai diri, harga diri yang sama dengan martabat. Harkat hidup seseorang sangat relatif, tergantung bagaimana seseorang memberi nilai terhadap dirinya.

Semakin memberi nilai tinggi terhadap dirinya, maka semakin menuntut harkat dirinya untuk dihargai. Hal ini juga berkaitan dengan status yang dimiliki seseorang; status keturunan; status sosial, tingkat pendidikan, status pergaulan, dan lain sebagainya. Orang yang mulai biasa bergaul dengan pejabat tinggi atau orang-orang dari kalangan tertentu yang terhormat akan mengeskalasi harkatnya, seakan-akan pergaulannya dengan mereka mengangkat harkatnya. Demikian pula dengan soal pendidikan, seseorang yang menaikkan tingkat pendidikan dan keahlian -bukan sekadar supaya memiliki suatu keahlian guna mengabdi kepada masyarakat- maka gelar yang disandangnya diharapkan mampu menaikkan harkatnya. Seseorang yang jumlah kekayaannya bertambah banyak akan merasa bahwa hal tersebut dapat menaikkan harkat dirinya. Itulah sebabnya orang mau menjadi kaya, karena selain rasa aman dan bahagia, juga oleh karena “harkat” ini. Jika hal ini menjadi tujuan hidup, maka seseorang tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa selama seseorang masih mencari dan menuntut penghormatan dari manusia, ia tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar atau tidak akan pernah dapat mengenakan Kekristenan yang sejati (Yoh. 5:44). Ini bukan berarti ia tidak akan menjadi orang terhormat. Sebaliknya, orang yang tidak mencari penghormatan dari manusia akan menjadi orang terhormat di hadapan Allah dan akan menerima kehormatan dalam keabadian bersama Tuhan Yesus. Di dunia pun Tuhan bisa memberikan kehormatan demi kepentingan pekerjaan-Nya atau kemuliaan nama-Nya. Jadi, kalau kita studi, berkarir, bisnis, dan lain sebagainya, semuanya harus dilakukan untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kehormatan diri sendiri.

Kalau Tuhan menjadikan atau mengizinkan orang percaya menjadi terhormat di mata manusia -baik disebabkan oleh karena prestasi pendidikan, ekonomi, kekuasaan, dan lain sebagainya- itu harus digunakan untuk kepentingan-Nya. Hal ini sejajar dengan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:11). Yesus menjadi Tuhan bukan untuk kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi bagi kemuliaan Bapa. Dalam hal ini orang percaya wajib mengembangkan semua potensi yang dimiliki demi memperoleh kehormatan yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah banyak usaha yang dilakukan hanya tertuju kepada kepentingan kehormatan, prestise, dan harga diri sendiri. Secara natural ini terjadi dalam kehidupan setiap individu, seakan-akan sudah menjadi kodrat yang tidak bisa dilepaskan.

Bersyukur atas keselamatan yang Bapa berikan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menanggalkan hasrat untuk dihormati manusia dan beralih untuk mencari penghormatan dari Allah dengan cara melakukan segala sesuatu untuk kepentingan-Nya. Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah Bapa, dengan melakukan kehendak dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Walau untuk itu Ia harus dihina dan disiksa. Inilah harga mahal yang harus dibayar oleh Yesus untuk menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Dengan hal ini maka nama Yesus ditinggikan, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.

Oleh sebab itu harus dipahami, memberi kemuliaan bagi Bapa dan Tuhan Yesus bukan hanya memuji nama-Nya dengan nyanyian, tetapi mengusahakan agar rencana Allah dalam kehidupan ini digenapi. Ini berarti setiap orang percaya harus menjadi seseorang yang memiliki karakter seperti Kristus, yang sama dengan menjadi corpus delicti dan mengusahakan orang lain juga menjadi seperti Kristus. Inilah pelayanan yang sesungguhnya. Firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa melayani Tuhan Yesus, ia harus mengikut Dia dan di mana Tuhan Yesus berada, di situ pun pelayan-Nya akan berada. Barangsiapa melayani Dia, ia akan dihormati oleh Bapa (Yoh. 12:26). Dengan hal ini, maka segala sesuatu yang dilakukan ditujukan untuk kepentingan Tuhan Yesus, yaitu menggenapi rencana Bapa tersebut. Berkenaan dengan ini, Paulus mengatakan bahwa baik kita makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Itulah pelayanan yang sesungguhnya bagi Tuhan Yesus. Hal ini tidak bisa digantikan dengan sekadar menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja.