Pengetahuan yang Baik dan Jahat
19 November 2020

Play Audio Version

Kalimat “seperti Allah” penting untuk dianalisa. Dalam teks aslinya adalah vih’yitem k’Elohim (‎וִהְיִיתֶם֙ כֵּֽאלֹהִ֔ים), kemudian disambung dengan kalimat “tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Allah bukan tidak ingin manusia menjadi seperti Dia. Memang rancangan semula Allah ialah agar manusia menjadi makhluk yang segambar dan serupa dengan-Nya, tapi tentu saja segambar dan serupa dengan Allah dari sudut pandang Allah atau dari perspektif Allah, bukan dari perspektif yang lain. Allah mau membuka mata mereka untuk mengetahui yang baik dari perspektif Allah tanpa pertimbangan yang jahat. Tetapi dengan mengikuti bujukan ular yang adalah personifikasi dari Iblis tersebut, maka mata mereka terbuka. Mereka memahami tentang yang baik dan jahat bukan dari perspektif dari Allah.

Dalam hal ini, sangat bisa dipahami bahwa pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjuk filosofi yang bukan berasal dari Allah. Ini bertentangan atau bertolakbelakang dengan pohon kehidupan, yang sebenarnya figuratif dari kebenaran Allah. Jadi, Adam dan Hawa mengonsumsi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat berarti mereka mendapatkan asupan filosofi yang bukan dari Allah di dalam pikiran mereka, sehingga merusak pikiran mereka. Dalam hal ini, Paulus mengatakan bahwa ular (Yun. ophis; ὄφις) itu menyesatkan pikiran Hawa. Kata “menyesatkan” dalam teks aslinya adalah exapatao (ἐξαπατάω), yang artinya deceive, beguile (menipu, memperdaya).

Kata penting untuk dipahami dalam 2 Korintus 11:2-4 terkait dengan pernyataan dalam pikiran Hawa adalah kata “pikiran.” Kata ini dalam teks aslinya adalah noema (νόημα) yang memiliki pengertian primer sebagai perception, purpose (persepsi, tujuan), juga berarti mind atau thought (pikiran, pertimbangan pikiran). Dalam pengertian luasnya adalah a mental perception, thought an evil purpose that which thinks, the mind, thoughts or purposes (suatu persepsi mental, tujuan pikiran yang jahat). Pikiran yang dimaksudkan oleh Paulus adalah cara mempertimbangkan sesuatu demi tujuan tertentu. Kalau cara mempertimbangkan sesuatu sudah salah, maka tujuan yang hendak dicapai juga salah. Inilah keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah atau jatuh dalam dosa, yaitu tidak mampu berpikir seperti Allah berpikir atau tidak memiliki kecerdasan rohani seperti yang dikehendaki oleh Allah. Di sini manusia gagal untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Inilah yang membuat pikiran seseorang menjadi rusak. Kata “rusak” dalam teks aslinya adalah ptheiro (φθείρω) yang artinya corrupt, defile, destroy (korup atau rusak, najis, hancur).

Tentu saja penyesatan pikiran bisa terjadi melalui suatu proses panjang, demikian pula dengan proses kejatuhan Adam. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya, bahwa ia takut kalau-kalau pikiran orang percaya disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus sama seperti Hawa diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2-4). Manusia diperdaya melalui pikirannya atau pikirannya disesatkan. Hal ini membuka rahasia mengenai fragmen di taman Eden, bahwa sejatinya pergumulan manusia pertama adalah pergumulan dalam pikirannya. Dalam hal ini, bisa dipahami kalau kita memandang kisah mengenai Adam dan Hawa dengan kacamata dewasa, artinya memahami buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat serta buah kehidupan sebagai konsumsi, bukan untuk tubuh fisik melainkan untuk jiwa. Dalam hal ini, manusia diperhadapkan kepada pilihan, apakah mengonsumsi kebenaran yang berasal dari Allah atau filosofi dari yang lain.

Perjalanan waktu ibarat sebuah arena, di mana manusia diperhadapkan kepada lawan yang harus dikalahkan atau mengalahkannya. Peperangan itu merupakan sebuah kompetisi (persaingan) antara Tuhan dan kuasa jahat dalam diri manusia. Peperangan itu dimulai dari pikiran. Siapa yang paling banyak mewarnai pikiran, dialah pemenangnya. Apakah seseorang memberi peluang bagi Tuhan sebagai pemenang untuk memiliki kehidupan ini atau kuasa lain yang memilikinya, hal itu tergantung kepada masing-masing individu. Kalau seseorang memberi diri untuk dimiliki oleh Tuhan, berarti harus mengisi pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga mengerti kehendak Allah. Ini adalah prestasi yang baik untuk kekekalan. Dalam hal ini, waktu adalah anugerah, modal kehidupan untuk mencapai prestasi rohani yang memiliki nilai kekal.

Allah masuk dalam arena perjalanan waktu bersama dengan manusia. Untuk itu, manusia juga harus serius memerhatikan dan menghargai waktu yang diciptakan Tuhan tersebut dimana manusia hidup di dalamnya. Tentu Allah hadir di Eden bersama dengan Adam dan Hawa untuk mengajar mereka kebenaran melalui Roh-Nya, tetapi Roh Allah undur ketika anak-anak Allah (keturunan Set yang masih dipimpin oleh Roh-Nya) melakukan kawin campur dengan anak-anak manusia, yaitu keturunan Kain (Kej. 6:1-4). Hal ini memberi pelajaran yang berharga bagi kita agar kita dapat menggunakan waktu yang Allah anugerahkan untuk mengalami proses perubahan sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan, yaitu menjadi manusia yang sesuai dengan gambar dan rupa Allah, dimana Yesus menjadi modelnya.