Pengertian Sempurna
06 November 2019

Dalam membahas tema buku ini, mau tidak mau kita harus memahami apa yang dimaksud dengan “sempurna” itu. Kesempurnaan artinya keadaan atau sesuatu yang bersifat sempurna. Kata “sempurna” sebenarnya bisa memiliki banyak pengertian, antara lain: utuh, lengkap atau tidak kurang, berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, telah selesai, tuntas, teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan, dan baik sekali. “Kesempurnaan mutlak” hanya ada pada Allah. Kesempurnaan mutlak adalah sempurna dalam arti tidak terbatas, tidak terhingga, tidak pernah dan tidak akan pernah bercacat serta tidak bercela sama sekali, tidak pernah dan tidak akan pernah tidak lengkap, selalu utuh dan segala sesuatunya selalu teratur. Kesempurnaan yang dibicarakan dalam buku ini bukanlah kesempurnaan Allah, sebab kesempurnaan Allah sudah selesai, tidak perlu diragukan lagi. Banyak orang selalu menghubungkan kesempurnaannya dengan keberadaan Allah. Ini adalah pemikiran yang salah sehingga mereka menolak ketika ada yang membahas kesempurnaan terkait dengan manusia.

Mereka yang menolak fakta manusia bisa sempurna atau berkenan di hadapan Allah pasti tidak berjuang maksimal atau secara proporsional untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Dengan pemikiran yang salah mengenai hal tersebut, mereka ber-mental block, artinya sudah merasa tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai kapan pun. Pikiran mereka telah terpasung oleh pemikiran tersebut, sehingga mereka sudah gagal sebelum mencoba atau berusaha. Kesempurnaan yang dibicarakan dalam buku ini adalah keberadaan manusia yang harus menjadi lengkap, utuh, tidak bercacat, dan tidak bercela di hadapan Allah. Memang tidak salah kalau ada pemikiran bahwa manusia adalah makhluk lemah dalam kaitannya dengan perilakunya untuk menjadi sempurna. Sangatlah benar bahwa manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna dengan kekuatannya sendiri. Dosa telah mengunci manusia dalam ketidakberdayaan untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Namun, keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan fasilitas untuk sempurna seperti Bapa, artinya dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah (Mat. 5:48). Bagi manusia, hal menjadi sempurna memang mustahil, tetapi tidak bagi Allah (Mat. 19:26).

Seharusnya, setiap orang percaya memahami dengan benar kata “sempurna” sesuai dengan konteks Alkitab. Penolakan terhadap kebenaran ini sangat merugikan. Orang percaya tidak boleh bersikap skeptis. Skeptis artinya kurang percaya atau tidak yakin bisa melakukan jika hal ini berkaitan dengan pengajaran sehingga ragu-ragu untuk memercayainya. Skeptis terkait dengan kemungkinan dapat sempurna artinya tidak yakin, ragu-ragu, dan memandang terlalu sulit untuk dapat mencapai kesempurnaan. Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya harus sempurna. Ini berarti bahwa orang percaya bisa mencapai kesempurnaan. Sikap skeptis adalah sikap tidak memercayai pribadi Allah. Kesempurnaan masing-masing individu itu berbeda. Sikap skeptis menunjukkan ketidakpahamannya mengenai kesempurnaan orang percaya di dalam Tuhan. Orang-orang tersebut pasti tidak pernah menggumulinya dengan benar. Sikap curiga dan skeptis ini akhirnya berujung pada penolakan. Penolakan terhadap panggilan untuk sempurna sama dengan penolakan untuk mengerjakan keselamatan, penolakan untuk menjadi seperti Yesus dan lulus sebagai corpus delicti.

Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah sehingga dapat mengganggu

pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Dalam kesaksiannya, Paulus menyatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Orang percaya yang benar dan mengerti panggilannya pasti berjuang untuk mencapai kesempurnaan; sehingga suatu hari nanti, ketika menutup mata, mereka dijumpai Tuhan berkeadaan berkenan di hadapan-Nya.

Dalam hal ini, kesempurnaan berpijak dan berangkat dari keinginan dan kehendak Allah. Hal ini sama dengan bahwa kesempurnaan itu berorientasi pada diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah, yang merupakan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Dari hal ini sangat dapat dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa yang diusahakan adalah mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Selanjutnya, Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab kehidupan setiap orang akan diperhadapkan kepada penghakiman-Nya (2Kor. 5:9- 10). Suatu sikap atau tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah itu bukanlah kesempurnaan, walaupun hal tersebut tampaknya baik dan tidak melanggar norma umum manusia. Untuk mencapai kesempurnaan ini, orang percaya harus menyelesaikan panggilannya dengan sempurna.