Pengertian Pembenaran
09 May 2019

Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia harus menanggung akibat tindakannya. Manusia tidak bisa diampuni dan dibenarkan tanpa perangkat yang dapat menjadi dasar azas keadilan, sebab Allah yang adil memiliki tatanan di dalam diri-Nya. Penebusan oleh darah Tuhan Yesus di kayu salib merupakan jalan pembenaran bagi manusia. Kematian Tuhan Yesus membatalkan semua tuntutan hukum atas manusia yang telah bersalah. Dengan pengorbanan Yesus, Iblis tidak lagi bisa mendakwa manusia sebab Yesus telah menggantikan tempat manusia sebagai pihak yang bersalah (2Kor. 5:1; Gal. 3:13; 5:16-18). Oleh anugerah Allah -yaitu penebusan oleh darah Yesus- manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dianggap tidak bersalah. Pembenaran ini berangkat dari anugerah semata-mata yang diberikan oleh Tuhan (Tit. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16).

Untuk memahami pengertian pembenaran, kita harus memahami pembenaran dari berbagai dimensinya. Dalam hal ini pembenaran memiliki tiga dimensi, seperti keselamatan yang juga dapat ditinjau dari tiga dimensi. Pertama, dimensi masa lalu (past), artinya bahwa korban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Kedua, pembenaran aspek sekarang (present), bagi mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan benar, yang sama artinya memiliki iman yang benar, maka ia menerima pembenaran. Iman datang dari pendengaran oleh Firman Kristus. Sejatinya, pembenaran berjalan seiring dengan proses keselamatan. Kalau seseorang sungguh-sungguh telah selamat, maka sekali selamat tetap selamat, demikian pula semakin seseorang dibenarkan maka pembenaran itu bersifat tetap. Keselamatan adalah proses, tetapi pembenaran bukanlah proses tetapi peneguhan dari hasil proses keselamatan yang berlangsung dengan benar. Ketiga, pembenaran ditinjau dari dimensi yang akan datang (future), bahwa suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif, bahwa orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan.

Pembenaran yang penuh, utuh, lengkap, dan benar dapat terjadi bukan hanya karena tindakan sepihak Allah tanpa disadari oleh manusia. Jika pembenaran hanya oleh tindakan sepihak dari Allah, maka respon manusia dipandang tidak dibutuhkan sama sekali. Dari konsep ini dibangun pandangan bahwa Tuhan menentukan sebagian orang pasti selamat masuk surga. Ini pandangan yang salah. Memang pembenaran dimulai dari pembenaran dimensi pertama. Ini pembenaran sepihak dari Allah, tetapi tidak cukup sampai di situ. Pembenaran dalam dimensi pertama tidak secara otomatis menempatkan manusia sebagai orang yang sudah dibenarkan secara penuh. Orang yang mengakui dan menerima adanya pembenaran dimensi pertama harus memikul konsekuensi, sebab dengan bersedia menerima pembenaran dimensi pertama, maka harus juga bersedia masuk ke dalam proses untuk diubah agar benar-benar menjadi benar; berkodrat Ilahi, sesuai rancangan Allah semula. Tidak mungkin Allah hanya membenarkan seseorang, sementara orang itu dibiarkan tidak mengalami perubahan untuk benar-benar berkeadaan benar seperti rancangan Allah semula.

Oleh sebab itu, anugerah pembenaran yang disediakan, disertai dengan pengertian maksud dan tujuan pembenaran itu diberikan. Pembenaran harus berlanjut pada proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Inilah maksud keselamatan dalam Yesus Kristus. Tanpa proses menekankan perubahan berkodrat Ilahi, pengajaran mengenai pembenaran justru malah merusak karakter atau moral orang Kristen, sebab asal sudah merasa percaya maka sudah dapat pembenaran. Pembenaran tanpa disertai tindak lanjut pemulihan gambar Allah merupakan penyesatan. Sesungguhnya pembenaran terjadi ketika seseorang sudah memiliki iman yang benar di mata Tuhan. Iman yang benar dalam kehidupan seseorang ditandai dengan kehidupan yang semakin serupa dengan Yesus. Dengan demikian seseorang yang mau memperoleh pembenaran secara penuh untuk dibenarkan adalah seseorang yang telah terbukti bertumbuh terus dalam keselamatannya. Apakah seseorang sudah dibenarkan secara penuh atau belum, dapat dibuktikan melalui sikap dan perbuatannya atau buah-buah hidupnya.

Pembenaran dari Allah ditinjau dari dimensi masa lalu tidak membuat seseorang otomatis menjadi benar dalam karakter atau manusia batiniahnya. Banyak orang Kristen hanya memiliki pembenaran dari dimensi masa lalu saja. Mereka tidak memiliki respon yang benar terhadap karya Kristus sebagai tanggung jawab yang dapat mengubah dirinya. Pembenaran harus dilanjutkan atau diteruskan dengan pembenahan diri secara terus menerus, agar benar-benar membuat diri orang percaya tersebut menjadi benar sesuai rancangan Allah. Inilah pembenaran ditinjau dari dimensi masa sekarang. Seseorang dapat dibenarkan kalau memiliki dimensi pembenaran dimensi pertama dan kedua. Pada akhir zaman Tuhan baru berterus terang siapa sebenarnya orang yang dibenarkan.