Pengertian Kerajaan Allah
07 October 2019

Kerajaan Allah memiliki dua pengertian: pertama, pemerintahan Allah hari ini melalui Roh Kudus, dan kedua, perwujudannya secara fisik nanti di langit baru dan bumi yang baru. Dalam bahasan ini, difokuskan pada pengertian Kerajaan Allah yang pertama. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus agar orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam Doa Bapa Kami. Di balik yang kelihatan, anak-anak Allah harus hidup dalam pengaturan Tuhan. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti hidup dalam pengaturan Allah secara mutlak. Pada akhirnya, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri sebagai Bapa. Kalau orang beragama pada umumnya diatur oleh hukum, dalam hal tersebut Allah diwakili oleh hukum, tetapi dalam kehidupan orang percaya Allah tidak diwakili oleh apa pun. Roh Allah sendiri yang mengatur kehidupan umat. Dalam hal ini, umat dimampukan untuk memiliki kualitas moral seperti Allah sendiri.

Kualitas moral yang dikehendaki oleh Bapa adalah kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Bapa sendiri, dan mereka harus memilikinya, sebab Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya “harus sempurna” seperti Bapa di surga. Dengan demikian, menjadi sempurna maksudnya adalah agar orang percaya hidup dalam pengaturan Allah Bapa sepenuhnya oleh atau melalui Roh-Nya. Tidak ada yang keputusan, pilihan, dan tindakan seorang anak Allah dan segala sesuatu yang dikerjakan dan dilakukannya di luar kehendak Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Orang percaya seperti ini hidup dalam kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, sebab segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Sejatinya, Allah tidak mendesain manusia sejak semula untuk hidup di bawah bayang-bayang hukum atau peraturan. Itulah sebabnya, pada waktu penciptaan Allah tidak merumuskan dan menetapkan hukum untuk dilakukan. Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, artinya bahwa Allah memberikan kemampuan moral kepada manusia untuk bisa memiliki pikiran dan perasaan seperti Allah, sehingga segala sesuatu yang dilakukan bisa selalu sesuai dengan keinginan Allah Bapa. Maksud kalimat “menjadi sempurna seperti Bapa” adalah segala suatu yang dilakukan oleh orang percaya selalu sesuai dengan yang Allah Bapa kehendaki. Dengan demikian orang percaya yang selalu berjalan dengan Allah untuk melakukan kehendak-Nya secara benar akan memiliki pikiran dan perasaan yang “sinkron” dengan Allah. Dengan demikian, tanpa pemaksaan orang percaya akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak Allah, yang sama dengan berjalan seiring dengan Tuhan sendiri.

Dengan kehidupan seperti yang dijelaskan di atas tersebut—yaitu memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah—seseorang bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan Bapa-Nya (Yoh. 17:20-21). Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Hidup dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti dapat melakukan segala sesuatu seperti yang Yesus lakukan. Itulah yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa. Kata “sempurna” dalam Matius 5:48 dalam teks aslinya adalah teleioi (Yun. τέλειοι), dari kata teleios (Yun. τέλειος). Kata ini memiliki beberapa pengertian antara lain: having attained the end or purpose, complete, perfect (telah mencapai akhir atau tujuan, lengkap, sempurna). Juga berarti full-grown, mature, adult (penuh kedewasaan, matang, dewasa). Juga berarti fully developed in a moral sense (dikembangkan sepenuhnya dalam arti moral). Yang jelas, bahwa kesempurnaan dalam ayat ini hendak menunjuk kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa.

Allah menghendaki agar kualitas moral yang dimiliki orang percaya seperti yang dimiliki oleh Allah, namun tentu Allah jauh lebih sempurna. Terkait dengan ini, Allah berfirman agar umat harus kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Semua ini menandai bahwa seseorang berstatus sah sebagai anak Allah. Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan ini. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah untuk hal yang mengganggu pertumbuhan kesempurnaan, guna sempurna seperti Bapa. Dalam kesaksiannya Paulus menyatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” (Flp. 3:12). Jika fokus hidup orang percaya tertuju kepada hal yang lain, maka target yang seharusnya dicapai tidak akan tercapai, sebab yang sungguh-sungguh saja nyaris tidak bisa meraih, apalagi yang tidak sungguh-sungguh.