Pengertian Kasih Karunia
08 May 2019

Pada intinya berbicara mengenai kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Bapa kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula, sehingga manusia memiliki moral dalam standar kesucian Allah, dapat kembali bersekutu dengan Penciptanya, yaitu menemukan tempatnya di hadapan-Nya dan menempatkan Dia secara benar di dalam hidupnya.

Kasih karunia sama maknanya dengan anugerah. Pertama, kasih karunia berarti suatu pemberian yang sangat bernilai dan dibutuhkan. Pemberian yang sangat bernilai dan dibutuhkan tersebut adalah keselamatan dari Bapa dalam atau melalui karya salib Tuhan Yesus Kristus. Kedua, kasih karunia berarti suatu pemberian yang diberikan dari pihak yang lebih tinggi derajat atau statusnya kepada pihak yang lebih rendah. Ketiga, kasih karunia berarti pemberian yang tidak memandang kelayakan si penerima pemberian. Dalam hal ini manusia tidak memiliki jasa sama sekali dalam menerima dan mengalami kasih karunia yang di dalamnya terdapat keselamatan. Keempat, kasih karunia berarti pemberian tanpa harus membayar atau memenuhi syarat tertentu. Dalam hal ini kasih karunia berarti pemberian cuma-cuma atau tanpa syarat. Oleh sebab itu tidak seorang pun bisa membanggakan diri karena memperoleh kasih karunia tersebut (Ef. 2:8-9).

Di dalam kasih karunia-Nya, Allah menuntun manusia yang merespon anugerah-Nya untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula-Nya, yaitu menciptakan manusia yang serupa dengan gambar-Nya. Dengan manusia dikembalikan serupa dengan gambar-Nya, manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam artinya status atau secara hukum (de jure), tetapi juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah, yaitu menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat Ilahi (divine nature) yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Dalam hal ini sebutan anak Allah bukan hanya status, tetapi benar-benar keberadaan. Hanya anak Allah (man of God) yang bisa bersekutu secara benar dengan Allah.

Harus selalu diingat bahwa keselamatan bukan hanya menghindarkan manusia dari neraka dan diperkenan masuk surga, tetapi keselamatan adalah memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam tuntunan Roh Kudus, belajar mengenal Tuhan melalui Alkitab dan pengalaman hidup setiap hari. Orang percaya juga harus memperhatikan pembentukan Allah melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini, sebab di dalam segala sesuatu Allah turut bekerja. Melalui hal tersebut proses pemulihan gambar Allah berlangsung. Ini bukan dalam waktu singkat dan tidak mudah. Dalam kasih karunia Tuhan akan menggarap orang percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Orang percaya harus bergumul untuk mengalami proses pemulihan gambar Allah tersebut. Yesus adalah model atau prototipe gambar Allah atau manusia yang dikehendaki oleh Allah. Oleh karenanya hanya Tuhan Yesus secara pribadi -melalui Roh Kudus- yang dapat membawa setiap individu kepada rancangan semula Allah.

Di satu pihak, Tuhan Yesus menyelesaikan bagian-Nya; tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya, yaitu tugas penyelamatan. Di pihak yang lain, orang percaya harus memenuhi bagiannya, yaitu dengan menyambut keselamatan yang Dia sediakan tersebut dengan perjuangan pula. Hal ini tidak merusak prinsip “only by grace” (hanya oleh anugerah Tuhan) sebab perjuangan tersebut hanyalah respon, bukan dikategorikan sebagai jasa. Oleh sebab itu kata anugerah tidak boleh disalahartikan yaitu seakan-akan segala sesuatu dikerjakan oleh Tuhan, sampai respon manusia terhadap keselamatan juga dikerjakan oleh Tuhan. Manusia sendiri yang harus merespon keselamatan dengan tanggung jawab. Jika tidak demikian, maka anugerah dapat menghilangkan tanggung jawab manusia sehingga manusia tidak perlu berdiri di takhta pengadilan Allah.

Banyak sekali teks dalam Alkitab yang menyatakan bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan pengadilan Allah (Rm. 14:12; Why. 20:12; 2Kor. 5:9-10). Bagi orang percaya, perbuatan baik sampai tingkat berkenan kepada Allah -seperti yang diperjuangkan oleh Paulus- adalah tanda atau bukti atau ekspresi dari percayanya kepada Tuhan Yesus. Perbuatan baik yang berstandar moral Allah yang diperjuangkan Paulus adalah sikap yang menunjukkan atau membuktikan bahwa dirinya menerima Yesus secara benar (Yoh. 1:11-12). Hal ini bukan berarti keselamatan bisa diperoleh melalui perbuatan baik. Keselamatan adalah anugerah semata-mata, tetapi cara menerima anugerah tidaklah mudah. Tidak ada anugerah dalam menerima anugerah, tetapi harus dengan perjuangan. Tuhan tidak berintervensi dalam diri manusia dalam menerima anugerah. Apakah seseorang menerima anugerah atau menolaknya, tergantung individu.