Pengertian Injil
29 October 2018

Kata Injil merupakan terjemahan dari bahasa Yunani euanggelion. Kata eu berarti indah dan anggelion berarti berita. Kata euanggelion sebenarnya pada mulanya berarti a reward for good tidings. Dalam perkembangannya kata a reward dihilangkan, menjadi the good news (kabar baik) atau good message. Kata euaggelion bertalian dengan kata kerja euanggelizo, yang berarti to bring or announce glad tidings.

Apa sebenarnya Injil itu? Banyak orang hanya memahami Injil sekadar kabar baik, tanpa memahami maksud kabar baik tersebut. Untuk memahami pengertian Injil secara benar, terlebih dahulu harus memahami maksud kata baik di sini. Harus dipersoalkan baik menurut siapa dan baik yang bagaimana. Tentu pengertian baik harus dari perspektif Tuhan, bukan dari sudut manusia.

Manusia dalam segala keterbatasannya tidak tahu apa yang baik. Apa yang dipandang baik sering ternyata bukan sesuatu yang baik (Pkh. 6:12). Seperti misalnya kebodohan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, memahami apa yang baik, mengakibatkan kegagalan menerima kabar baik dari Sang Mesias. Mereka tidak memahami misi utama kedatangan Yesus Kristus, itulah sebabnya mereka hendak mengangkat Yesus jadi Raja menurut konsep mereka (Yoh. 6:15). Dengan tindakan itu mereka beranggapan akan memperoleh sesuatu yang baik, tetapi ternyata tidak.

Petrus mewakili murid-murid-Nya mencegah Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem. Bagi mereka penyaliban Yesus adalah malapetaka, sebagai reaksi-Nya Tuhan Yesus menghardik Petrus dengan kata: Hai iblis, enyahlah dari pada-Ku (Mat. 16:23). Tuhan Yesus menolak apa yang dipandang baik oleh mereka, sebab apa yang dipandang mereka baik sesungguhnya bukan sesuatu yang baik. Sikap seperti ini pun ada di dalam kehidupan orang Kristen hari ini.

Selanjutnya harus ditemukan apakah yang baik menurut pandangan Tuhan bagi manusia? Menurut Tuhan yang baik adalah keselamatan. Persoalannya kemudian adalah apakah keselamatan itu? Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga adalah buah dari keselamatan, bukan keselamatan itu sendiri. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk memulihkan manusia segambar dengan Diri-Nya dan Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16).

Paulus dalam Galatia 6:1-10, menunjukkan adanya pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil, Alkitab menyebutnya “Injil yang lain” (Yun.eis heteron euanggelion; a different gospel). Paulus mengatakan Injil jenis itu “sesungguhnya bukan Injil”. Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Dalam 2 Korintus 11:2-4 ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “Injil yang lain” tersebut.

Bagi orang-orang yang baru menjadi Kristen, mereka tidak mampu membedakan manakah Injil yang benar dan yang tidak benar. Demikian pula orang-orang Kristen yang hidup Kekristenannya tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, mereka juga tidak mampu mengenali adanya “Injil yang lain” tersebut. Hal ini terbukti dengan berbondong-bondongnya banyak orang Kristen yang sudah lama tertanam di gereja mainstream (gereja yang sudah permanen), pindah ke gereja-gereja yang mengajarkan Injil yang sebenarnya bukan Injil.

Menanggapi adanya “Injil yang sesungguhnya bukan Injil”, orang percaya harus waspada. Dalam 2 Korintus 11:2-4, dikatakan bahwa penyesatan atas orang percaya sama dengan tipuan Iblis kepada Hawa. Keberhasilan Iblis menjatuhkan manusia ternyata dengan menyesatkan pikirannya, yaitu melalui informasi yang bertentangan dengan kebenaran yang disuntikkan ke dalam pikiran manusia, maka tewaslah ia.

Dalam Galatia 1:8-9 dikatakan bahwa kalau ada yang memberitakan Injil yang lain baik malaikat mapun manusia “terkutuklah dia”. Dengan pernyataan ini, menunjukkan betapa berbahayanya “Injil lain”. Injil yang lain inilah yang dapat mengakibatkan orang percaya meleset dari panggilan Allah. Berkaitan dengan hal ini Alkitab tegas memperingatkan: Jangan mengajarkan ajaran lain (1Tim. 1:3). Ajaran lain di sini sama dengan Injil.