Pengertian Efesus 2:8-9
07 May 2019

Terkait dengan pemilihan, penentuan, dan penetapan keselamatan atas manusia, penting untuk kita memahami tulisan Paulus dalam Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Bila tertumbuk kata “iman” dalam Alkitab, kita harus sangat hati-hati. Kita harus memperhatikan konteks di mana kata “iman” tersebut berada. Banyak orang menafsirkan ayat-ayat ini secara salah. Mereka memahami ayat-ayat ini berdasarkan premis yang sudah ada pada mereka, sehingga tidak obyektif lagi dalam memahami ayat-ayat tersebut. Kesalahan memahami ayat-ayat tersebut membangun pengertian dan sikap antara lain:

Pertama, kasih karunia sudah cukup membuat seseorang dapat diselamatkan tanpa usaha atau perjuangan manusia sama sekali. Usaha atau perjuangan orang percaya dianggap sia-sia, bahkan dianggap sebagai melawan kebenaran dengan merusak prinsip sola gratia (only by grace) atau hanya oleh anugerah. Dalam hal ini respon manusia tidak dibutuhkan. Manusia hanya memiliki iman, dan sudah dianggap cukup. Pandangan ini diperkuat oleh kalimat “itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu.” Biasanya iman ini hanya dinyatakan dalam credo (pengakuan) di bibir, kemudian mereka merasa sudah menjadi orang percaya. Padahal jika dikaitkan dengan zaman gereja mula-mula, credo yang dimiliki orang percaya harus dibayar dengan kehilangan harta, keluarga, aniaya, dan bahkan kehilangan nyawa. Credo pun juga harus disertai tindakan. Oleh sebab itu memahami kata “percaya” dalam Alkitab harus dikaitkan dengan konteks zaman dimana kata itu muncul.

Kedua, iman hanya sekadar dipahami sebagai aktivitas pikiran atau nalar, sebuah pengaminan akali atau sekadar persetujuan pikiran. Padahal iman adalah tindakan, seperti Abraham merespon panggilan Tuhan. Bukan hanya dengan persetujuan pikiran, tetapi tindakannya dalam menuruti yang Tuhan kehendaki. Pengertian iman yang miskin membuat Kekristenan menjadi murahan. Karya salib Yesus menjadi jalan mudah masuk surga. Di sini banyak kehidupan moral dan kerohanian orang Kristen yang seiring berjalannya zaman menjadi semakin rusak. Kalau agama-agama lain memiliki syariat yang mengarahkan penganutnya memiliki jam-jam sembahyang yang ketat, perilaku yang sesuai hukum dan berbagai aturan yang membuat mereka harus hidup tertib; sebaliknya, pada dasarnya orang Kristen cukup percaya atau beriman dengan pikiran saja maka sudah memperoleh keselamatan. Kalaupun di mimbar diajarkan etika, sebenarnya itu hanya kamuflase. Untuk apa diajarkan etika kalau dengan memiliki “iman” sudah selamat?

Harus dipahami bahwa Efesus 2:8-9 ditulis untuk membungkam pikiran orang-orang pada umumnya dan orang-orang Yahudi yang berkeyakinan dan merasa bahwa dengan perbuatan baik mereka dapat dibenarkan di hadapan Allah, sehingga mereka dapat berbangga atau memegahkan diri atas kehidupan moral mereka yang baik. Padahal perbuatan baik manusia tidak ada artinya sama sekali tanpa pengorbanan Yesus memikul dosa dunia (Yoh. 1:29). Karya salib adalah kasih karunia, artinya pemberian cuma-cuma, itu bukan hasil usaha siapa pun, tetapi hanya oleh kasih Allah Bapa melalui Putra Tunggal-Nya. Oleh karena itu tidak boleh ada orang yang memegahkan diri.

Namun demikian kasih karunia tidak boleh dipahami sebagai segala-galanya, artinya kalau sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti secara otomatis sudah menerima keselamatan, yaitu kepastian masuk surga. Kasih karunia tidak boleh dipandang sebagai secara otomatis mengerjakan keselamatan dalam diri seseorang tanpa respon manusia sama sekali. Memang dari Efesus 2:8-9 dapat dilahirkan prinsip sola gratia, tetapi hendaknya pengertian sola gratia tidak diperdangkal atau dipahami secara miskin, seakan-akan proses keselamatan dapat terjadi atau berlangsung dengan mudah. Bagi mereka, kasih karunia selalu memberi kesan sebagai suatu kemudahan oleh karena kebaikan Tuhan. Tulisan Paulus dalam Efesus 2:8-9 barulah memandang kasih karunia dalam satu aspek atau satu dimensi, masih ada aspek atau dimensi lain yang harus diterima. Kalau hanya memandang satu aspek, maka terjadi penyimpangan; kegagalan memahami proses keselamatan.

Sejatinya, di dalam kasih karunia terdapat jalan keselamatan, dan jalan itu harus dijalani. Hal ini sejajar dengan fakta bahwa Yesus adalah jalan (Yun. Hodos), kebenaran (Yun. Alitheia) dan hidup (Yun. Zoe) (Yoh. 14:6). Untuk sampai kepada Bapa, seseorang harus menjalani jalan tersebut; yaitu bagaimana hidup seperti Yesus hidup, dengan mengenal kebenaran sehingga memiliki kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Sampai kepada Bapa bukan suatu fenomena sederhana, mudah, dan murahan. Sampai kepada Bapa adalah jalan sempit, dimana banyak orang berusaha tetapi tidak sampai. Harus ada perjuangan, mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Tanpa kekudusan tidak mungkin seseorang sampai kepada Allah (Ho Theos) yang sama dengan Bapa. Theos sendiri berkata: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.”