Pengenalan Akan Allah
27 October 2018

Pemberitaan kebenaran merupakan hal yang utama dan penting dalam pelayanan gereja Tuhan. Hal ini ditunjukkan oleh berita dalam Kisah Rasul 6:1-2. Para rasul Tuhan perlu mengutamakan pelayanan pemberita Firman, karenanya pelayanan diakonia perlu diserahkan kepada orang lain. Hal itu dimaksudkan agar para rasul dapat memberi perhatiannya kepada pemberitaan Firman.

Alkitab berkata bahwa umat-Nya binasa karena tidak mengenal Allah (Hos. 4:6).
Kata “binasa” dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan: destroyed. Kata ini teks aslinya dari akar kata “dama” yang dapat diterjemahkan selain “to destroy” juga dapat dimengerti sebagai “be cut down, to be dumb. Kalimat “karena tidak mengenal” dalam teks lain disebutkan “kekurangan dalam mengenal Tuhan” (lack of knowledge). Mereka binasa bukan karena dosa-dosa fisik seperti yang sering disebut-sebut atau dikenal secara umum, tetapi karena tidak atau kurang mengenal Tuhan. Dari pernyataan Hosea ini jelaslah dapat ditemukan peran pengenalan akan Tuhan dalam kehidupan umat yang sangat besar, sebab kurang atau tidaknya pengenalan akan Tuhan dapat membinasakan umat. Pengenalan akan Tuhan merupakan pilar penting bangunan kehidupan iman orang percaya.

Dalam Yohanes 17:3, Tuhan Yesus berujar: Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kata “hidup kekal” bukan hanya berbicara mengenai “panjangnya hidup” sebab bukan hanya di surga ada kekalan di neraka pun juga kekal. Tetapi hidup kekal juga berbicara mengenai “dalamnya hidup”, mutu atau kualitas hidup. Dengan demikian jelaslah bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup manusia. Itulah sebabnya Petrus di akhir suratnya berharap dan menghimbau agar orang percaya bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan: Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2Ptr. 3:18). Apa yang menandai kualitas hidup kita ditingkatkan. Untuk mengerti relasional bahwa pengenalan akan Tuhan menentukan kwalitas hidup umat Tuhan, dapat dijelaskan dalam butir-butir berikut:
Pertama, pengenalan akan Tuhan melepaskan beban kehidupan (Mat. 11:28). Terdapat “undangan kelegaan” dari Tuhan Yesus bagi mereka yang berlelah. Undangan kelegaan ini sering dipahami secara miskin sehingga kebenaran ayat ini tidak terwujud dalam kehidupan. Untuk memahami ayat ini hendaknya kita memperhatikan konteksnya, yaitu ayat sebelum dan sesudahnya (Mat. 11:25-27). Ternyata Tuhan Yesus berbicara mengenai pengenalan akan Tuhan.

Hendaknya kita tidak mensimplifikasi kebenaran atau menyederhanakannya
sehingga kehilangan maksud kebenaran ayat tersebut.

“Marilah kepadaKu, …. kamu akan beroleh kelegaan”, kalimat ini simpel atau sederhana sekali. Tetapi di balik kalimat ini ada proses atau mekanismenya. Dari “letih lesu dan berbeban berat” sampai “memperoleh kelegaan” terdapat proses atau mekanisme. Ternyata kunci proses atau mekanisme adalah mengenal Bapa dan Anak.

Bila kita analisa secara jujur dan teliti, ternyata terdapat proses untuk menerima ketenangan jiwa. Kata kelegaan (Yun.anapauso) dalam ayat 28 ternyata juga terdapat dalam ayat 29 yang dalam teks bahasa Indonesia diterjemahkan “ketenangan jiwa”. Proses atau mekanisme itu terletak pada kata “belajar pada-Ku”. Kata belajar harus dikaitkan dengan konteks pembicaraan Tuhan di Matius 11:25-27, perlu dicamkan kalimat “dinyatakan kepada orang kecil”, apa yang dinyatakan? rahasia tentang “pengenalan akan Bapa dan Anak”.

Selama ini banyak orang memahami “terlepas dari beban dan memperoleh kelegaan” dengan pemahaman yang tidak tepat, yaitu cukup memberikan penumpangan tangan maka “everything is running well”, segala sesuatu berjalan dengan baik atau menjadi beres. Pola ini akan mendidik jemaat tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan sampai ia dapat mandiri. Ini bukan berarti praktik penumpangan tangan untuk orang yang terbeban atau dalam masalah merupakan praktik pelayanan yang keliru. Penumpangan tangan berdoa untuk orang yang terbeban atau bermasalah bukanlah penyelesaian fundamental dan permanen. Penumpangan dapat memberikan kelegaan sesaat atau mengawali sebuah pemulihan atau kelegaan, yang pada hakikatnya harus disertai dengan pertumbuhan pengenalan akan Tuhan.