Pengenalan akan Allah
05 January 2021

Play Audio

Banyak orang yang bisa belajar dengan sangat tekun di ruang perpustakaan dari pagi sampai malam, tetapi tidak tekun ada di ruang doa. Di ruang doa setengah jam saja sudah terasa sangat melelahkan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih gemar mengalami perjumpaan dengan huruf-huruf, tulisan di dalam buku-buku mengenai Allah, daripada menjumpai Allah secara langsung. Itulah sebabnya, banyak teolog yang cakap berbicara tentang Allah tetapi tidak memiliki pengenalan akan Allah secara benar. Tentu saja mereka tidak akan betah berdoa, karena tidak mengalami perjumpaan. Sebab, kalau seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah, waktu setengah jam itu cepat sekali. Ia akan merasa kurang.

Allah itu Allah yang riil dan nyata. Kedahsyatan Allah yang dihayati atau dirasakan akan membuat seakan-akan detak detik jarum jam kita berhenti. Perjumpaan dengan Allah akan membuat kita lupa waktu. Kedahsyatan kehadiran-Nya—yang di dalamnya ada damai sejahtera, keteduhan, dan kedahsyatan lain—membuat seseorang tidak ingin cepat-cepat mengakhiri doanya. Oleh sebab itu, alami! Jangan hanya berteori. Memang, akan lebih mudah ada di perpustakaan daripada duduk diam di kaki Tuhan. Karena untuk memiliki seni duduk diam di kaki Tuhan itu tidak mudah. Tetapi itulah yang harus kita lakukan. Sebab, mencari Allah itu tidak cukup dengan membaca buku-buku teologi, melainkan harus menjumpai Dia secara langsung. Itu yang benar-benar bisa dikatakan ber-Tuhan, bukan sekadar beragama yang seminggu sekali ke gereja mengikuti liturgi dan merasa sudah beribadah. Mudah berkata, “saya percaya Allah itu ada.” Namun, untuk memiliki kehidupan yang benar-benar bersentuhan dengan Allah, itu bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, inilah yang harus menjadi agenda satu-satunya hidup ini.

Mari kita bayangkan kalau suatu hari kita sekarat atau ada di ujung maut di ruang ICCU atau di ruang ICU. Artinya, apakah kita berani memasuki kekekalan tanpa benar-benar memiliki pengenalan akan Allah? Kalau pengenalan hanya secara literal, hanya secara akademis, itu tidak akan cukup menjadi bekal seseorang memasuki kekekalan. Seorang pendeta, juga dosen Sekolah Tinggi Teologi yang cukup umur (sudah di atas 50 tahun), jujur mengakui bahwa pengetahuannya tentang Tuhan tidak membuat ia yakin berhadapan dengan Tuhan di pengadilan-Nya, sampai ia harus benar-benar menemukan Tuhan dalam perjumpaan langsung. Pendeta dan dosen Sekolah Tinggi Teologi menyaksikan bahwa seorang akademisi yang memiliki prestasi tinggi dalam dunia akademis, tetapi dengan jujur ia mengakui bahwa pengetahuannya tentang Tuhan atau teologi belum cukup menjadi bekalnya memasuki kekekalan. Banyak orang yang mengaku percaya bahwa Allah itu ada dan percaya bahwa Allah memberi upah, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, tidak sungguh-sungguh memburu pengenalan akan Allah, dalam arti mengalami perjumpaan dengan Allah.

Kalau kita memperhatikan atau pernah melihat film mengenai petualangan orang-orang yang mencari harta karun di tempat di mana ada peninggalan emas, misalnya, mereka berani mempertaruhkan nyawanya untuk itu. Mereka bisa meninggalkan rumah, mempersenjatai diri, berlatih untuk bisa memiliki kemampuan mencapai tempat di mana harta karun itu berada. Mereka tidak cukup belajar dari peta di mana harta karun tersebut berada, tetapi mereka melangkah untuk menemukan harta karun itu. Membaca peta mengenai harta karun bukan tidak penting, itu pun harus. Tetapi melangkah untuk menemukan harta karun seperti yang tertulis atau tergambar dalam peta itu, itu penting. Bahkan, itulah tujuannya. Demikian pula kalau kita belajar tentang Tuhan. Itu petanya. Tetapi tidak cukup hanya belajar mengenai teologi atau peta mengenai Tuhan. Harus menjumpai Tuhan secara langsung. Justru itu yang penting. Justru tujuan belajar mengenai Tuhan itu supaya menjumpai Tuhan.

Banyak orang yang belajar mengenai Tuhan, tapi tidak menjumpai Tuhan. Dan ironisnya, kalau mereka mengajar kepada jemaat, mereka mengaku sudah mengenal Allah. Namun, ternyata mereka hanya memiliki peta tanpa menemukan Tuhan sebagai harta karunnya, sehingga jemaat pun tidak akan pernah menemukan. Akhirnya jemaat hanya mendapat inspirasi mengenai Tuhan—atau peta teologi—tetapi tidak menemukan Tuhan secara nyata dan pribadi. Inilah yang menjadi penyebab kehancuran gereja. Inilah yang menjadi akar penyesatan tanpa disadari. Sekarang ini, faktanya, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah menjumpai Allah. Jangan sampai hal ini terjadi dalam hidup kita.