Pengampunan bagi yang Tidak Pernah Mendengar Injil
18 February 2021

Play Audio

Jika dipertanyakan apakah orang di luar sana yang tidak pernah mendengar Injil dosanya juga turut diampuni? Jawabannya adalah tetap diampuni, namun dengan jenis kualitas pengampunan yang berbeda. Tuhan menganggapnya sudah selesai, tapi bukan berarti langsung masuk surga semua. Perlu adanya semacam pengujian batin terhadap mereka untuk dapat dihakimi oleh Tuhan. Jika mereka bukan orang yang membahayakan atau mengancam sesamanya, maka bukan tidak mungkin mereka dapat masuk ke dunia yang akan datang sebagai warga masyarakat. Namun, kualifikasi mereka yang masuk dalam dunia yang akan datang pun tidak sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang memberi baju kepada orang bertelanjang, memberi makan kepada orang lapar, yang mengasihi sesama seperti diri sendiri. Singkatnya, mereka adalah orang yang memiliki hati peduli dan mengasihi sesamanya.

Kita tidak dapat membantah bahwa sebaik apa pun orang, pasti memiliki dosa. Namun harus diingat, bahwa dosa tersebut telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus dalam kematian-Nya. Dalam Yohanes 1:29 dikatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kata “dunia” di sini merujuk pada seluruh orang tanpa terkecuali, mulai dari zaman Adam sampai manusia terakhir. Dengan mati-Nya Yesus di kayu salib, semua dosa umat manusia dihapuskan tanpa terkecuali. Namun ada letak perbedaan antara pengampunan mereka yang tidak pernah atau salah mendengar Injil dengan kita yang mendengar Injil. Bagi mereka yang tidak mendengar Injil, pengampunan berkutat pada masalah kepantasan atau kelayakan mereka di hadapan Allah. Jika Yesus tidak mati di atas kayu salib, maka kebaikan semua orang sia-sia. Namun dengan kematian Yesus, perbuatan orang yang tidak mendengar Injil dapat diperhitungkan dalam penghakiman Allah. Bagi orang percaya, pengampunan berarti usaha penyelesaian karakter. Ketika kita meminta ampun kepada Tuhan, kita bukan hanya menerima pengampunan dalam arti dosa kita dipikul, melainkan dosa itu diselesaikan di dalam hidup kita, kedagingan kita, di dalam jiwa kita. Kodrat kita diubahkan melalui pengampunan Tuhan tersebut. Pengampunan Tuhan membuka jalan bagi penyelesaian kodrat dosa yang mengakar pada daging kita.

Pertanyaan ini dapat terus berkembang. Kalau misalnya kita tidak sampai sempurna seperti Yesus, apakah akan masuk neraka? Tidak. Kita bisa menjadi anggota masyarakat kalau kita betul-betul mengasihi sesama. Tetapi faktanya, di gereja kita menemukan banyak orang lebih bengis dari orang di luar gereja. Mereka saling menyakiti, saling melukai, saling memfitnah, bahkan tidak mencerminkan kodrat anak Allah sama sekali. Mereka dapat menerkam sesamanya, yang padahal telah berjasa dalam kehidupannya. Melihat hal ini, jangankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, menjadi anggota masyarakat pun golongan orang semacam ini sangat membahayakan.

Jadi kalau kita menerima penebusan dalam Tuhan Yesus, hal ini bermakna bahwa kita harus menyelesaikan kodrat dosa. Kalau tidak, keselamatan tersebut akan dibatalkan mengingat keselamatan adalah proses manusia dikembalikan ke rancangan semula. Oleh karenanya, kita harus dapat membedakan standar penghakiman orang yang mendengar Injil dengan orang yang tidak pernah mendengar Injil. Orang yang telah mendengar Injil dan menerima pengampunan dari Tuhan berkewajiban untuk menyelesaikan kodrat dosanya. Dengan kata lain, mereka harus hidup sama seperti Kristus telah hidup. Bagi orang yang tidak pernah mendengar atau salah mendengar Injil, mereka tidak dituntut untuk mencapai standar tersebut. Mungkin sebagian kita akan berpikir bahwa lebih nyaman menjadi golongan mereka yang tidak pernah mendengar Injil, sehingga tidak dituntut standar yang demikian berat. Hendaknya, kita tidak berpikir demikian karena pemikiran tersebut sangat keliru. Sebuah kehormatan apabila kita dapat menjadi umat pilihan yang diperkenan mengubah kodrat menjadi serupa dengan Kristus. Suatu kemuliaan yang tiada tara ketika kita berhasil mengubah karakter dan keberadaan kita di hadapan Allah. Sesungguhnya, apa yang kita alami inilah yang dinantikan oleh para nabi dan orang-orang saleh Perjanjian Lama. Hendaknya, kita tidak membandingkan diri dengan orang yang tidak pernah atau salah mendengar Injil, sebab panggilan kita sebagai umat pilihan begitu istimewa dan berharga.