Pengakuan yang Palsu
04 April 2021

Play Audio

Mazmur 73 memuat kebenaran yang hebat dimana kita dapat menemukan rahasia bagaimana seseorang bisa menghayati bahwa kebutuhan sebenarnya dalam hidup ini adalah Tuhan sendiri. Seharusnya kesadaran dan penghayatan ini sudah kita miliki sejak kita di bumi. Kalau seseorang baru menyatakan bahwa Tuhan itu kebutuhannya ketika ia sudah berada di hadapan Allah di kekekalan nanti, itu pasti pengakuan yang palsu. Seharusnya, mulai sekarang di tengah berbagai tawaran dari keindahan dunia, di tengah dorongan nafsu dan keinginan-keinginan yang ada di dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita memilih percaya kepada Tuhan, melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencana-Nya. Justru sekarang kita harus mulai menyadari dan menghayati bahwa hanya Allah kebutuhan kita. Kalau Allah menjadi kebutuhan kita berarti kita hidup hanya untuk menyukakan hati-Nya. Dunia menjadi tidak indah di mat akita, fokus kita hanya Kerajaan-Nya. Orang yang masih tertarik keindahan dunia adalah orang yang belum membutuhkan Allah secara patut.

Persoalannya, bagaimana kita menyadari dan menghayati bahwa Allah adalah satu-satunya kebutuhan kita? Mazmur 73 dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam Mazmur 73, Pemazmur melihat realita bahwa menjadi orang benar dan tulus itu tidak mudah. Menjadi orang benar dan tulus itu bukan berarti kita lalu diberkati secara materi, berlimpah secara harta, terhormat, dan ditinggikan. Sebaliknya, justru orang fasik yang terlihat sehat, gemuk, dan banyak orang seperti air bah mengalir mengikut dia. Namun, dirinya yang takut akan Allah, yang menjaga kesucian, yang tulus, malah kena tulah atau hukum; atau pukulan atau hajaran. Dari pergumulan itulah kemudian Pemazmur menulis Mazmur 73, dan mengerti bahwa yang penting adalah bagaimana keadaannya nanti di kekekalan. Dari pergumulan hidup tersebut, Pemazmur dapat menemukan lensa kehidupan yang benar. Dikatakan di dalam ayat 17, “… sampai aku masuk dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka.” Ia mendapatkan lensa yang baru di dalam memandang hidup ini. Jadi rahasinay adalah mengubah lensa hidup kita, dari lensa kefanaan menjadi lensa kekekalan.

Harus jujur kita akui, kadang-kadang ketika seseorang hidup di dalam kelimpahan, dalam penghormatan manusia, seseorang tidak bisa dididik oleh Tuhan karena mereka hidup di dalam kesenangan-kesenangan pribadi. Akan tetapi ketika seseorang berada dalam keadaan terdesak, terpojok, tersesak, di situlah ia bisa membawa diri kepada Tuhan dan dapat diajari. Di sini kita menemukan satu hal yang penting, bahwa mengenal Allah harus melalui pengalaman hidup, bukan karena kita sekadar membaca buku dan mendengar khotbah orang. Kita pribadi harus mengalami pergumulan hidup yang di dalamnya Tuhan akan mengajar kita, bagaimana memiliki lensa seperti lensa yang dimiliki oleh Tuhan sendiri, yakni lensa kekekalan. Jika sudah demikian, barulah kita bisa berkata seperti yang dikatakan Pemazmur di ayat 25, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”

Tuhan memanggil kita berjuang untuk tidak fokus dengan dunia. Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:2, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kita benar-benar ingin memandang hidup dengan lensa kekekalan, supaya kita mempersiapkan diri layak di hadapan Allah. Paling tidak, hari ini kita memiliki lembar hidup yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan. Tetapi kalau besok kita memiliki hari lagi, berarti kita persembahkan dua lembar, dan seterusnya. Jikalau kita masih punya hari-hari yang panjang, semua lembar hidup kita adalah lembar-lembar keindahan di mata Allah. Oleh karena itu, berjuanglah untuk membangun pengakuan yang benar di hadapan Allah sejak hari ini. 

Mulailah dari hal sederhana seperti menjaga perkataan, memegang janji, memedulikan sesama yang menderita, dan menjumpai Tuhan dalam doa setiap hari. Perjalanan menemukan Tuhan bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi dapat dilewati. Kedua, ikutilah jejak Tuhan dan orang percaya mula-mula yang dapat diserap untuk dikenakan pada hari ini. Dengan mengenakan jejak Tuhan secara konkret dalam hidup kita untuk meninggalkan dunia, kita dapat memiliki pengakuan yang benar. Kita tidak mungkin dapat memiliki rasa bergantung kepada Tuhan yang permanen tanpa mengikuti jejak hidup-Nya. Hal ini memakan waktu yang tidak sedikit. Perlu waktu panjang dan konsistensi yang tinggi dalam berjalan dengan-Nya. Tuhan menyediakan segala penggarapan yang kita perlukan, namun kita juga harus memberikan respons yang memadai terhadap penggarapan tersebut guna mencapai pengakuan yang benar di dalam Tuhan.