Penerimaan Tuhan
21 May 2019

Untuk menemukan kebenaran mengenai pemilihan dan penentuan Tuhan atas keselamatan seseorang, kita perlu memeriksa beberapa ayat yang penting untuk ditelaah. Tidak dapat dibantah terdapat ayat-ayat yang mengesankan bahwa setiap orang yang dipanggil Tuhan pasti selamat atau tidak bisa menolak anugerah-Nya. Dalam Yohanes 6:37-39 Tuhan Yesus berkata: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Dari ayat-ayat ini terdapat kalimat yang mengesankan bahwa setiap orang yang datang kepada Tuhan pasti selamat atau tidak bisa binasa lagi. Benarkah demikian? Mari kita periksa dengan teliti dan jujur satu per satu.

Pertama, kalimat “dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Kata “membuang” di sini dalam teks aslinya adalah ekballo (ἐκβάλλω) yang dapat diterjemahkan to eject (menyemburkan, mengusir); cast out (membuang). Dalam Alkitab terjemahan lama diterjemahkan, “sekali-kali tiada Aku akan menolak dia.” Teks ini berarti bahwa Tuhan tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya. Kalimat ini harus dipahami (jika dilihat dari subyek atau sudut Tuhan) bahwa Tuhan tidak akan membuang atau menolak orang yang datang kepada-Nya. Kalimat kedua adalah “supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.” Kata “hilang” dalam teks ini adalah apollumi (ἀπόλλυμι) yang artinya destroy (menghancurkan) atau lose (hilang). Kalimat ini juga harus dipahami (kalau dilihat dari subyek atau sudut Tuhan) bahwa Tuhan tidak akan membuat terhilang atau membinasakan orang yang datang kepada-Nya.

Jika dua kalimat di atas dilihat dari sudut manusia, maka kesan yang ditimbulkan bisa berbeda. Dari pihak Tuhan, pasti Tuhan tidak akan membuang, menolak, atau membinasakan orang yang datang kepada-Nya, tetapi kalau manusianya sendiri tidak mau datang atau tidak mau “tetap tinggal” di dalam Tuhan, maka Tuhan pun tidak bisa memaksa (Luk. 22:28; 2Yoh. 1:9). Dalam Lukas 22:8 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa tidak semua orang setia sampai akhir. Kalimat “tetap tinggal” dalam teks aslinya adalah diameno, yang artinya to stay constantly (tetap tinggal terus menerus). Tuhan Yesus berkata: “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat. 24:13). Kata “bertahan” dalam teks aslinya hupomeinas yang artinya abide, endure (tetap menetap dan bertahan). Hal ini menunjukkan kesetiaan. Di kitab Wahyu berulang-ulang Firman Tuhan menganjurkan agar orang percaya setia sampai mati (Why. 2:10; 17:14).

Demikian pula dengan kisah bangsa Israel yang meminta raja (1Sam. 8-9). Sebenarnya Tuhan tidak menghendaki bangsa itu meminta raja, bahkan hal itu melukai hati Tuhan. Tetapi Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya. Tuhan meluluskan permintaan bangsa tersebut, tentu dengan risiko yang harus mereka tanggung. Tuhan tidak memaksa orang untuk tetap mengikut Dia. Dalam Yohanes 6:66 tercatat bahwa Tuhan membiarkan orang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa orang bisa tertolak bukan karena Tuhan yang menolak, tetapi manusianya yang menolak Tuhan. Seperti contoh yang lain, yaitu orang kaya yang dikisahkan dalam Matius 19, ia datang kepada Tuhan dan Tuhan memberi syarat untuk memiliki hidup yang berkualitas (hidup kekal). Ia berkeberatan menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin (Mat. 19:16-26). Ia menolak tuntutan Tuhan. Ia pergi sebab hartanya banyak. Tuhan membiarkan dia pergi. Tuhan tidak memaksa orang mengikut Dia. Dalam Matius 23:37 Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah sudah berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu tetapi mereka “tidak mau”. Bukan karena Tuhan yang mengeraskan hati, tetapi karena pada dasarnya mereka memang tidak mau.

Kalau orang tidak setia, tentu Tuhan tidak bisa menyelamatkannya. Dalam hal ini Tuhan tidak memaksa seseorang untuk setia. Memaksa seseorang untuk setia tidak menciptakan kesetiaan yang sejati. Memaksa bukanlah tindakan Tuhan atau bukan hakikat Tuhan (Mat. 11:28-29; Yoh. 1:12). Di dalam Matius 11:28-29, Tuhan Yesus mendeklarasikan diri sebagai Pribadi yang lemah lembut. Lemah lembut artinya pribadi yang tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kalau Yohanes 6:37-39 hanya dilihat dari sudut pandang Tuhan saja, maka akan terjadi kesalahan dalam memahami kebenaran mengenai keselamatan. Dalam hal ini kita harus teliti memperhatikan setiap ayat dalam Alkitab. Sebagai perbandingannya, Yesus berkata bahwa hanya orang yang melakukan kehendak Bapa saja yang masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bila hal ini ditinjau dari sudut pandang manusia, maka sudut pandang ini menunjukkan bahwa keselamatan dapat terjadi oleh korban Kristus dan orang dapat melakukan kehendak Bapa pun karena fasilitas keselamatan yang tersedia oleh korban Kristus, yaitu Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian hidup. Dalam hal ini sangat jelas bahwa Allah tidak memaksakan kehendak-Nya.