Pemilihan Atas Bangsa Israel
14 April 2019

Jika menghubungkan pemilihan Yakub dengan kemahatahuan Allah, maka kasus itu bukan hal yang sulit untuk dimengerti. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Ia memilih Yakub, pemilihan itu bisa dilakukan tidak lepas dari keberadaan Allah, yaitu berdasarkan tatanan yang ada pada-Nya, juga berdasarkan kemahatahuan-Nya. Ketika Tuhan menyatakan bahwa anak yang muda dalam kandungan Ribkah akan menjadi tuan bagi yang tua, hal itu dalam rangka Allah menjawab pergumulan orang tua Esau dan Yakub yang mempersoalkan dua anak dalam kandungan Ribkah karena berdesak-desakkan.Sangat besar kemungkinan Tuhan tidak menyatakan bahwa yang muda akan menjadi tuan bagi yang tua, kalau tidak dipertanyakan.

Jadi, sangatlah bisa dimengerti bahwa penjelasan Tuhan tersebut bisa juga merupakan nubuatan karena Elohim, Allah Bapa, Mahatahu; hal ini bukan sebuah keputusan secara sewenang-wenang dari pihak Allah (secara sepihak). Di kemudian hari, Yakub menunjukkan kehidupannya sebagai orang yang layak diberkati, khususnya ketika berjuang di sungai Yabok di mana namanya diganti menjadi Israel, maka ia ditentukan Tuhan sebagai nenek moyang Israel (Kej. 32). Dalam hal ini pernyataan Tuhan bahwa Ia memilih Yakub pada mulanya adalah sebuah nubuatan, bukan penetapan. Tetapi nubuatan itu tidak pernah gagal, dibuktikan dengan kemenangan Yakub di sungai Yabok yang akhirnya namanya menjadi Israel.

Adapun kalau dicantumkan kalimat: “Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau” (Rm. 9:13), bukan berarti Tuhan dengan kedaulatan-Nya yang absolut dan mutlak serta tidak terbatas secara sewenang-wenang mengasihi Yakub dan membenci Esau. Selama ini dikesankan oleh banyak orang, bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya suka-suka sendiri menunjuk dan menentukan siapa yang dikasihi dan siapa yang dibenci-Nya. Hanya orang gila yang tanpa alasan mengasihi dan membenci seseorang. Harus diingat bahwa Allah adalah Allah yang kasih, tidak mungkin Allah menaruh kebencian tanpa alasan. Tentu saja dalam hal ini yang dibenci terhadap diri Esau bukan manusianya, tetapi perbuatannya.

Tentu Allah tidak menyatakan mengasihi Yakub dan membenci Esau bukan sejak mereka masih ada dalam kandungan. Sangatlah tidak mungkin kalau Allah sudah mengasihi Yakub dan membenci Esau sejak dalam kandungan. Tentu setelah perjalanan hidup mereka berlangsung dan ketika sudah nyata sikap dan tingkah laku mereka. Esau seorang yang tidak menghargai hak kesulungan yang di dalamnya ada berkat perjanjian. Ia menjual hak kesulungannya hanya demi semangkuk makanan (Kej. 25:29-34).Dengan sikap ini Esau juga tidak menghargai Tuhan. Esau melakukan tindakan-tindakan yang melukai hati orang tuanya karena mengambil istri-istri orang Het (Kej. 26:24-25).

Selanjutnya, ketidakjujuran Esau dan kelicikannya nampak dalam kasus di mana Esau tidak memberi tahu ayahnya kalau hak kesulungannya sudah dijual kepada Yakub. Setelah hak kesulungannya diterima oleh Yakub, kemudian dia dendam terhadap adiknya yang sudah sah menerima hak kesulungan (Kej. 27). Semua ini merupakan gambaran dari peta hidup Esau yang membuat Allah berkata: “Aku membenci Esau.” Berbeda dengan Yakub yang dalam sejarah hidupnya, walaupun ia juga tidak sempurna, tetapi bisa diketahui berbagai sikap agungnya sebagai seorang yang layak menerima berkat perjanjian. Jika membandingkan Yakub dan Esau, dua orang ini sangat jauh berbeda.

Kalau Allah berkata bahwa ia membenci Esau dan mengasihi Yakub tentu hal ini sangatlah beralasan. Sebab faktanya Yakub memiliki kepribadian yang jauh lebih baik dari Esau. Hal yang paling parah yang membuat Esau tidak pantas menjadi nenek moyang Mesias adalah menghina hak kesulungan dan sembarangan memilih jodoh. Ia menjadikan perempuan-perempuan bangsa Kanaan, orang Het, sebagai istrinya (Kej. 26:24-25). Hal mana yang tidak dilakukan oleh Abraham, Ishak, dan Yakub. Abraham sendiri sampai menuntut sumpah dari hambanya agar tidak memilih menantunya, istri Ishak dari bangsa Kanaan (Kej. 24:3). Ishak juga menasihati Yakub untuk tidak mengambil jodoh dari orang-orang Kanaan (Kej. 28:1). Tuhan menghendaki agar jodoh bagi nenek moyang Mesias bukan berasal dari bangsa Kanaan yang nanti negerinya akan diberikan kepada keturunan Abraham. Terkait dengan hal ini perlu dipertimbangkan bahwa dukacita dan penyesalan Tuhan terhadap anak-anak Allah di dalam Kejadian 6:1-3, berangkat dari tindakan mereka memilih pasangan hidup sesuka hati mereka. Jadi, pernyataan Tuhan bahwa Tuhan mengasihi Yakub dan membenci Esau harus dipahami dengan benar.