Pemberitaan Injil
19 May 2020

Play Audio Version

Sebenarnya, semua orang yang mengaku menerima Yesus harus juga menjadi pemberita Injil. Tidak ada orang yang mengaku menerima Yesus tetapi tidak menjadi pemberita Injil. Sebab, menerima Yesus berarti mengenakan hidup-Nya. Ini berarti bahwa seorang yang menerima Yesus pasti menjadi saksi-Nya. Banyak orang Kristen yang merasa sudah menerima Tuhan Yesus dengan dasar atau alasan sudah menjadi orang beragama Kristen dan pergi ke gereja. Sejatinya, menerima Yesus berarti menyerahkan atau mempertaruhkan segenap hidup untuk menjadi saksi Kristus.

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, maka pemberitaan Injilnya pastilah hanya menekankan penyebaran pengajaran yang menitikberatkan pada doktrin tertentu. Memang ada panggilan untuk berhenti berbuat dosa, tetapi biasanya, dosa yang dipahami hanya pelanggaran terhadap hukum, bukan diarahkan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dari hal ini, dilahirkan orang-orang Kristen yang rajin ke gereja menyusun liturgi yang khidmad, musik yang bagus, dan menekankan segala sesuatu yang bersifat seremonial. Di sini kekristenan telah berubah menjadi “keberagamaan” dengan atributnya, yaitu seremonial dan hukum moral seperti yang diselenggarakan agama-agama di dunia ini. Padahal, pemberitaan Injil seharusnya adalah kesaksian hidup seorang yang mengalami perubahan kodrat.

Semua orang percaya menerima mandat untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus. Mandat itu adalah menyelematkan dunia ini. Menyelamatkan dunia ini artinya mengubah umat pilihan untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Memberitakan Injil bukan hanya berarti berbicara mengenai Kristus atau mengajarkan doktrin, tetapi menampilkan kehidupan Yesus. Seorang pemberita Injil harus mengenakan karakter Yesus; bagaimana kehidupan Yesus di bumi dengan tubuh daging dua ribu tahun yang lalu dapat diperagakan secara utuh sekarang ini. Dengan demikian, dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Kelakuan yang sempurna dalam kehidupan orang percaya yang memperagakan keagungan pribadi Yesus, menjadi kesaksian yang dapat menunjukkan bagaimana kehidupan anak Allah.

Pemberitaan Injil adalah usaha memugar kembali gambar Allah yang sudah rusak. Pertama, dalam diri pemberita Injil sendiri, kemudian dalam kehidupan orang yang dilayani. Pemugaran gambar Allah adalah usaha mengembalikan manusia kepada rancangan yang semula. Oleh sebab itu, ketika kita menjadi Kristen, kita dibawa kepada proyek yang luar biasa ini, yaitu keselamatan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus berproyeksi atau bertujuan bukan pembangunan agama baru atau religion building melainkan character building. Tuhan Yesus adalah model atau prototipe manusia yang dikehendaki oleh Allah. Anak Allah datang ke dalam dunia bukan saja hendak menyelamatkan jiwa manusia, melainkan juga wataknya. Kita bukan saja dipanggil hanya untuk dibenarkan, melainkan juga menjadi benar seperti Yesus dalam kelakuan-Nya, sehingga berkenan di hadapan Allah.

Dalam kehidupan ini, kehendak Bapa yang harus berdaulat secara penuh dalam hidup kita. Kita, sebagai pemberita Injil, harus memberi diri tunduk di bawah kedaulatan dan otoritas Bapa secara penuh. Kita harus sungguh-sungguh belajar dengan rela dan sukacita menanggalkan segala keinginan dan mengenakan prinsip: makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Inilah gaya hidup yang Yesus ajarkan. Setiap orang percaya wajib hidup sama seperti Dia hidup, yaitu meninggalkan keinginan diri sendiri dan hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa (1Yoh. 2:6). Hal ini akan membuka kesempatan dimana kehendak Bapa yang menguasai kehidupan kita.

Sebagai pemberita Injil, kita hidup berada di bawah pengaturan Allah sepenuhnya. Sesungguhnya, hal ini merupakan sikap yang mengakui bahwa Allah adalah Allah semesta alam yang menentukan segala sesuatu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu. Sebagaimana Yesus hidup hanya untuk kepentingan Bapa dan hidup di dalam kehendak dan rencana Bapa, demikian pula seharusnya hidup orang percaya. Agenda hidup kita satu-satunya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hidup sebagai utusan Kristus hanya untuk menggenapi rencana Bapa

Kita harus memberitakan Injil dengan cara dan standar Yesus yang meninggalkan segala sesuatu demi menjadi utusan Bapa. Yesus mengatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9). Menjadi pemberita Injil berarti hidup dalam ketidakmapanan seperti cara hidup Tuhan Yesus ketika Ia mengenakan tubuh manusia yang berdaging. Orang yang mengingini kehidupan yang mapan di dunia ini adalah orang yang mencintai dunia dan dalam posisi tidak pernah menjadi saksi Kristus. Mereka adalah orang-orang yang membangun kerajaannya sendiri. Oleh sebab itu, sebagai pemberita Injil kita harus memiliki jiwa kemusafiran yang dimiliki dan dikenakan oleh Yesus.