Pelayanan yang Benar
29 September 2020

Play Audio Version

Para teolog dan pemimpin gereja adalah para pihak yang paling bertanggung jawab atas keadaan kekristenan yang telah begitu merosot dan mengalami penyimpangan—selain tentunya pengurus sinode atau pusat pemerintahan gereja—sebab mereka adalah orang-orang yang dipandang oleh jemaat awam atau umat sebagai perwakilan dari Allah untuk mengatur gereja. Banyak jemaat awam atau umat merasa tidak memiliki akses langsung kepada Allah seperti yang dimiliki para pemimpin gereja, sehingga umat begitu memercayai mereka.

Ditambah lagi dengan pola keberagamaan pada umumnya—yang memandang bahwa tokoh agama adalah mediator antara Allah dan umat—maka umat semakin menaruh harapan dan keyakinan kepada para pemimpin gereja sebagai mediator dengan Allah. Betapa rusaknya kehidupan iman orang percaya kalau para pemimpin gereja tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup berjalan dengan Dia. Berhubung dunia sudah menjadi begitu rusak, sementara jemaat tidak memiliki kepekaan sama sekali dalam memahami kebenaran, maka jemaat terseret pada kehidupan keberagamaan; bukan Injil sejati, yaitu kehidupan Yesus yang harus dikenakan. Hampir-hampir tidak ada umat yang benar-benar telah mengalami perjumpaan dengan Allah, sebab pemimpin mereka saja tidak mengalami perjumpaan dengan Allah.

Dengan demikian, kegiatan pelayanan pekerjaan Tuhan di tingkat sinode dan gereja hanya merupakan aktivitas keagamaan yang sama dengan semua agama di dunia. Ini adalah kemerosotan di dalam gereja yang sudah berlangsung selama beberapa abad belakangan ini. Ironisnya, hal ini sudah dianggap wajar dan menjadi standar kekristenan di seluruh dunia. Orang Kristen yang hidup kekristenannya hanya sampai taraf keberagamaan tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Kekristenan pada dasarnya adalah jalan hidup, bagaimana menjalani hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu jalan hidup orang-orang yang mengalami perubahan hidup untuk bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah. Hanya orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, yang bisa menjadi anak-anak Allah. Kehidupan anak Allah yang sesungguhnya telah diperagakan oleh Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti manusia pada umumnya, sekitar dua ribu tahun lalu. Yesus adalah model kehidupan anak Allah yang harus dimiliki setiap orang percaya.

Dengan demikian, kekristenan pada dasarnya adalah menjalani kehidupan seperti yang telah dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya, firman Allah mengatakan agar orang percaya menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29) atau memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga pada Yesus Kristus (Flp. 2:5-7). Pikiran dan perasaan Kristus di sini berarti nurani seperti yang ada pada Yesus, yang juga sama dengan memiliki cara berpikir seperti Yesus. Kalau cara berpikir seseorang sama seperti Yesus, maka segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah Bapa.

Kehidupan orang percaya yang semakin serupa dengan Yesus adalah kehidupan manusia yang mengalami perubahan, dari manusia yang masih mengenakan kodrat dosa beralih mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Kehidupan manusia yang berkodrat ilahi adalah kehidupan yang luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Ini berarti kehidupan orang yang berkodrat ilahi adalah kehidupan orang yang hasratnya bukan lagi pada pemuasan diri sendiri—baik nafsu daging maupun jiwanya yang rusak.

Kehidupan mengenakan kodrat ilahi adalah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah dan menyukakan hati-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa. Allah menginginkan karya agung-Nya, yaitu manusia, bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Hanya hal ini yang bisa memuaskan hati Allah. Dengan demikian, manusia dapat memuliakan Allah. Pada akhirnya, segala sesuatu adalah untuk kemuliaan Allah Bapa yang juga berarti untuk kesukaan, kesenangan, dan kepuasan hati Allah Bapa. Inilah inti dari maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah.

Dengan hal ini, pelayanan adalah usaha dengan segala perjuangan untuk mengubah manusia yang belum berkodrat ilahi menjadi seorang yang berkodrat ilahi, dan terus-menerus mengalami pembaharuan untuk semakin sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Kegiatan pelayanan yang membuahkan pertobatan seseorang dengan standar pertobatan yang benar, yaitu mengubah manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi sesuai dengan rancangan Allah semula dapat membuat malaikat di surga bersorak-sorai (Luk. 15:7). Hal ini benar-benar dapat memuaskan hati Allah. Betapa bernilainya pelayanan seperti ini. Tentu saja sebelum masuk pelayanan kualitas ini, seorang pelayan Tuhan mutlak harus terlebih dahulu mengalami perubahan hidup sesuai dengan standar Allah, yaitu perubahan kodrat tersebut.

Kalau Allah benar-benar ada dan hidup, seharusnya kita memiliki pengalaman nyata dengan Dia. Sama seperti realitas hubungan interaksi kita dengan seseorang di dunia ini, demikian seharusnya kita berinteraksi dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah dalam perjalanan hidup setiap hari haruslah sesuatu yang riil yang berlangsung dalam kehidupan secara wajar dan normal di setiap waktu, dalam segala keadaan dan persoalan.