Panggilan Untuk Menghadirkan Pemerintahan Allah
01 October 2019

Kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu” adalah bagian dari isi Doa Bapa Kami. Sebelum membahas kalimat tersebut, hendaknya dipahami terlebih dahulu makna Doa Bapa Kami dalam kehidupan orang percaya. Kata “doa” dalam bahasa Yunani adalah proseuchomai. Kata ini gabungan dari dua kata: pros dan euchomai. Pros kata depan yang hendak menunjukkan tekanan atau intensitas kuat pada kata berikutnya (a strengthened form of). Kata ini juga menunjukkan “arah ke depan” (forward to). Sedangkan euchomai berarti wish (berharap) atau will (berkehendak). Jadi, proseuchomai berarti harapan dan keinginan yang sangat kuat ke depan atau di waktu mendatang. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:6-14, Tuhan Yesus sedang mempercakapkan hal berdoa. Tuhan Yesus menasihati murid-murid agar tidak berdoa seperti orang-orang Yahudi yang pada umumnya munafik.

Doa adalah sebuah percakapan atau dialog dua pribadi. Oleh karenanya, yang penting dalam berdoa adalah adanya dialog dengan Allah, sebagai Bapa. Seorang yang berdialog dengan Allah menunjukkan keseriusannya berurusan dengan Dia. Jadi, doa adalah sebuah perjumpaan dua pribadi. Setiap kata dalam percakapan tersebut haruslah menjadi jembatan yang menyambung dua pribadi. Itulah sebabnya dalam berdoa tidak perlu mengulang terus-menerus kata atau kalimatnya. Pengulangan kata mengesankan bahwa doa seperti sebuah mantera. Pola doa yang sama seperti mantera dikenal dalam banyak keyakinan dan agama. Doa dengan pola seperti itu biasanya kurang menunjukkan adanya perjumpaan dua pribadi.

Doa seseorang menunjukkan isi relasinya dengan Allah; bukan hanya menyangkut hubungan pada waktu bercakap-cakap dengan Allah dengan bahasa atau kata-kata, tetapi bagaimana kualitas hubungan sehari-hari antar dua pribadi, yaitu Allah sebagai Bapa dan umat yang berdoa sebagai anak dalam segala hal. Kualitas hubungan dua pribadi tersebut nampak dari isi percakapan doa seseorang. Tentu saja kualitas hubungan setiap hari dengan Allah menentukan kualitas percakapan tersebut atau sebaliknya. Interaksi setiap hari lebih menentukan kualitas percakapan mereka, bukan percakapan itu sendiri yang lebih menentukan hubungan keduanya. Jadi, bukan kata-kata dalam doa di hadapan Allah yang menentukan kualitas hubungannya dengan Dia, tetapi kualitas interaksinya dengan Allah setiap hari dalam segala hal dan di mana pun. Seseorang bisa berdoa setiap hari pada jam-jam tertentu, tetapi kalau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah setiap saat, maka percakapannya dengan Allah tidak berkualitas.

Doa Bapa Kami sesungguhnya tidak hanya menyangkut formula “kalimat doa,” tetapi lebih pada “formula kehidupan,” yaitu apa yang harus dijalani atau dilakukan. Dalam Doa Bapa Kami, orang percaya memiliki tuntunan untuk “sebuah gaya hidup baru” yang harus dikenakan. Itulah sebabnya orang percaya harus memahami butir demi butir dalam Doa Bapa Kami, bukan sekadar hafal dan melafalkannya dengan bibir, tetapi diperagakan. Itulah sebabnya juga Doa Bapa Kami bukan hanya untuk diucapkan, tetapi dikenakan atau dilakukan dalam kehidupan ini secara konkret. Banyak orang Kristen memiliki kalimat Doa Bapa Kami di mulutnya, tetapi tidak memiliki jiwanya atau nafas kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Itulah sebabnya mereka hanya mengucapkan di bibir, tetapi tidak memperagakannya.

Doa Bapa Kami merupakan formula kehidupan bagi manusia yang sedang dikembalikan kepada manusia ideal yang Bapa inginkan atau sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan demikian, maksud Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, agar orang percaya dapat menemukan kembali suatu gaya hidup yang “orisinal” yang dirancangkan Allah sejak semula. Belajar Doa Bapa Kami berarti belajar untuk menemukan peta dari kehidupan manusia yang dirancang Allah Bapa sejak semula. Dengan demikian Doa Bapa Kami laksana sebuah peta perjalanan yang membawa seseorang kepada suatu tujuan. Itulah sebabnya orang percaya harus memahami dengan benar makna yang terkandung di setiap butir Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami adalah gaya hidup umat pilihan yang dilayakkan masuk Kerajaan Bapa. Gejala atau tanda-tanda orang yang akan dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus nampak bukan hanya dari bibirnya yang mengucapkan Doa Bapa Kami, tetapi kehidupan yang mengekspresikan secara konkret isi Doa Bapa Kami tersebut dalam kehidupan setiap hari. Dengan demikian, kehidupan orang percaya merupakan pengejawantahan atau perwujudan dari isi Doa Bapa Kami. Terkait dengan kalimat dalam Doa Bapa Kami “Datanglah Kerajaan-Mu,” orang percaya harus mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya secara konkret.