Orang Terhormat di Kekekalan
14 October 2020

Play Audio Version

Kalau kita teliti dan sungguh-sungguh menerima hikmat Tuhan, kita dapat mengerti bahwa Doa Bapa Kami membawa kehidupan kitamenjadi tidak wajar di mata manusia pada umumnya. Sebab, Doa Bapa Kami menarik kita dari dunia ini, masuk ke dalam kehidupan anak-anak Allah dengan gaya hidup yang benar-benar berbeda dengan anak-anak dunia. Jadi, kalau seseorang mengucapkan kalimat-kalimat dalam Doa Bapa Kami tetapi ternyata kehidupannya masih sama dengan anak-anak dunia atau manusia pada umumnya—yaitu hidup dalam kewajaran dunia—berarti ia munafik. Tentu di dalam kesabaran-Nya, Allah sebagai Bapa menerima orang-orang Kristen yang masih kanak-kanak tersebut, yang mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami hanya sekadar mengucapkannya saja, tanpa menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat di dalamnya. Tetapi kalau seorang Kristen sudah saatnya menjadi dewasa, maka Allah menuntut mereka untuk bukan hanya bisa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami, melainkan juga benar-benar menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat di dalam Doa Bapa Kami.

Mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami merupakan ikrar bahwa seseorang bersedia meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, sebab dengan mengucapkan Doa Bapa Kami, ia berhenti untuk hidup dalam kesenangannya sendiri dan hidup hanya untuk kesenangan Allah. Dengan mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami, berarti seseorang bersedia meninggalkan percintaan dunia. Meninggalkan percintaan dunia artinya bersedia untuk tidak memiliki kebahagiaan dari dunia ini, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya kebahagiaan.

Meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya dalam dunia yang materialistis dan egois seperti sekarang, tentu bukan sesuatu yang mudah. Harus melalui perjuangan yang berat, yaitu menyangkal diri. Menyangkal diri artinya membunuh naluriah kemanusiaan wajar yang dimilikinya, yang telah dihidupi dan dinikmatinya selama bertahun-tahun. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan kehilangan nyawa. Kehilangan nyawa berarti kehilangan kesenangan hidup duniawi. Yesus berjanji, orang yang kehilangan nyawa akan memperoleh nyawa, artinya dengan kehilangan kesenangan duniawi, maka akan memperoleh kesenangan yang baru, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan masuk menjadi anggota keluarga Allah.

Meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya bukan berarti kita menjadi malas bekerja, menjauhkan diri dari pergaulan, lalu kita hanya sibuk dengan kegiatan gereja. Kita harus memenuhi tanggung jawab hidup, yaitu memaksimalkan potensi, mengembangkan semua bakat, dan bekerja keras. Tetapi semuanya kita lakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Seiring dengan perjalanan waktu dan bertumbuhnya kedewasaan, kita akan mengerti yang dimaksud dengan kepentingan Kerajaan Allah. Orang percaya yang dewasa akan memiliki kepekaan menemukan tempatnya dalam mengabdi kepada Allah. Di situlah seseorang menemukan bagian hidupnya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Dalam hal ini, seseorang tidak harus menjadi pendeta atau full-timer gereja. Seorang pendeta atau full-timer gereja belum tentu hidup untuk kepentingan Kerajaan Allah dengan benar. Hidup untuk kepentingan Kerajaan Allah ini berbicara mengenai sikap hati yang sifatnya sangat pribadi.

Sebenarnya, banyak kesempatan di dalam hidup ini untuk mengabdi kepada Allah atau hidup untuk kepentingan Kerajaan Allah. Sayang sekali, banyak orang tidak menemukannya, sebab ia tidak dewasa rohani dan tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah, sehingga tidak mampu menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Orang-orang seperti ini, suatu hari nanti akan sangat menyesal, yaitu ketika ada pengadilan Tuhan dan harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. Tuhan memberi hidup kepada kita agar kita mempersembahkan hidup kita untuk Dia. Kalau seseorang tidak mempersembahkan hidupnya bagi kepentingan Kerajaan Allah, maka ia menjadi sampah abadi yang akan dibuang ke dalam lautan api. Di situlah seseorang mengalami kematian kedua, yaitu terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya (Why. 20:14-15).

Sejatinya, inilah kehidupan yang indah dan bernilai, yaitu ketika seseorang mempersembahkan hidupnya bagi kepentingan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, orang percaya harus mengalami kedewasaan rohani, memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah, dan menjadi seorang yang rela seperti anggur tercurah dan roti yang terpecah. Harus diingat, ketika kita mengorbankan diri, sebenarnya kita sedang memperkaya diri kita di kekekalan. Jadi, semakin seseorang kehilangan segala sesuatu bagi kepentingan Kerajaan Allah di bumi ini, ia semakin kaya di dalam Kerajaan Allah nanti. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. ‘Sungguh,’ kata Roh, ‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.’” (Why. 14:13). Mati dalam Tuhan artinya orang-orang yang semasa hidupnya telah mengorbankan dirinya tanpa batas bagi kepentingan Kerajaan Allah. Orang-orang inilah orang-orang yang terhormat di kekekalan. Sesungguhnya, Doa Bapa Kami memersiapkan kita menjadi orang yang terhormat di kekekalan.