Oportunis
24 October 2017

Kita harus lebih membutuhkan dan sungguh-sungguh berharap mengenal Tuhan daripada berharap mengalami mukjizat-Nya. Mukjizat Tuhan tanpa kita mintapun akan terjadi, bila Tuhan memandang hal tersebut kita butuhkan dan perlu terjadi. Tuhan menjamin kehidupan kita dengan segala kekuatan yang ada pada-Nya. Mukjizat bukanlah hal yang asing dan jauh dari kehidupan anak-anak Allah. Mukjizat adalah bagian hidup orang percaya sebab Allah Bapa melalui Roh Allah adalah sumber mukjizat terbesar yang menyertai anak-anak-Nya.

Mukjizat selalu masih ada, tetapi bukan berarti kita dapat menggunakan sesuka hati kita. Mengenal Tuhan berarti mengenal kehendak-Nya, rencana-Nya dan apa yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan. Dengan pengenalan yang benar ini, kita akan dapat menempatkan diri kita secara benar di hadapan-Nya, yaitu sebagai hamba yang harus tunduk guna melakukan kehendak dan rencana-Nya. Dengan demikian, kita akan memiliki rasa hormat yang sepantasnya kepada Tuhan dan terhindar dari bersikap tidak pantas di hadapan Tuhan atau kurang menghormati-Nya.

Tuhan adalah Majikan Agung yang kepada-Nya kita harus tunduk sedalam-dalamnya. Mekanisme hubungan harmonis dan yang pantas dengan Tuhan adalah kalau kita sebagai umat rela hidup dalam perhambaan kepada Tuhan, dimanfaatkan, dipakai, dan diatur oleh Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan mekanisme yang benar ini, maka kita akan bebas dari sikap oportunis dan manipulatif terhadap kuasa-Nya. Dalam hal ini, kita dapat menempatkan diri sebagai hamba di hadapan-Nya, dan Dia sebagai Tuan bagi kita. Sikap oportunis adalah sikap mencari keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan pihak lain.

Orang-orang Kristen yang bersikap oportunis di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan Tuhan untuk kepentingannya sendiri. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan yang harus hidup dalam dominasi atau kekuasaan Tuhan dan hidup hanya untuk kepentingan-Nya. Adapun sikap manipulatif adalah usaha untuk menyalahgunakan kuasa Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri. Sikap oportunis dan manipulatif ini biasanya disebabkan oleh ketidakdewasaan dan karena tidak mengenal Tuhan dengan benar.

Banyak orang Kristen sesat dengan berpikir bahwa Yesus datang untuk memberi kesejahteraan di bumi, sehingga bumi dapat dinikmati seperti Firdaus. Ini adalah prinsip orang-orang beragama pada umumnya. Banyak orang Kristen berpikir, karena mereka menjadi anak-anak Allah, maka Bapa memperlakukan mereka secara istimewa. Mereka memandang Allah selalu menyediakan mukjizat-Nya untuk menyelesaikan semua masalah dalam kehidupan ini. Orang Kristen seperti ini tidak memahami bahwa ada hukum tabur tuai yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Orang Kristen pun harus tunduk kepada hukum tersebut. Tidak ada seorang pun yang lolos dari hukum ini. Dalam keadilan-Nya yang sempurna, Tuhan memberlakukan hukum ini secara adil kepada semua orang. Kalau seandainya Tuhan memberikan dispensasi kepada orang Kristen terkait dengan hukum ini, berarti Tuhan bukan saja tidak fair, tidak adil dan curang, tetapi juga merusak moral umat pilihan-Nya.

Jadi, kalau ada orang Kristen yang tidak menjaga pola makan dan pola hidupnya dengan baik, pasti sakit. Sakitnya bukan karena kutuk, tetapi sebagai disiplin karena tidak menjaga bait suci yang Tuhan percayakan kepadanya. Menjaga bait suci yaitu tubuhnya bukan hanya tidak minum minuman alkohol yang berkadar tinggi, narkoba, atau sejenisnya, tetapi tidak memiliki pola hidup yang baik dan tidak menjaga pola makan yang baik juga merupakan tindakan menghancurkan bait suci. Oleh sebab itu, hendaknya bukan karena terdapat ayat Firman Tuhan bahwa oleh bilur-Nya kita disembuhkan, kemudian orang Kristen boleh ceroboh mengenai pemeliharaan tubuhnya. Orang Kristen yang tidak bertanggung jawab menjaga kesehatannya, tidak berhak memiliki kesehatan, dan mengalami mukjizat kesembuhan.

Dalam aspek lain, kalau orang Kristen tidak rajin bekerja, maka ia tidak boleh memiliki kelimpahan materi. Kekayaan tanpa kerja keras menjadikan jiwa rusak dan membentuk kepribadian yang tidak bertanggung jawab. Orang Kristen yang malas tidak berhak diberkati. Orang-orang seperti ini, tidak berhak mengklaim janji berkat Tuhan turun atas kehidupannya. Bahkan orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu, tidak mungkin layak masuk surga sebagai anggota keluarga Kerajaan Tuhan Yesus.