Menyongsong Hari Tuhan
15 March 2019

Kita harus memahami bahwa jika berbicara mengenai akhir zaman, maka hal itu tidak selalu atau tidak perlu atau tidak harus menunjuk atau mempersoalkan mengenai kedatangan Tuhan yang kedua. Tetapi saat kematian kita juga merupakan sebuah eskhatologi, yang disebut juga sebagai eskhatologi vertikal. Dalam Matius 25:13, Tuhan Yesus berkata: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Kalau Tuhan memberikan peringatan ini dan peringatan ini hanya bertalian dengan hari kedatangan-Nya, maka ayat ini tidak perlu dituliskan untuk orang pada zaman itu, karena mereka memang tidak akan melihat hari kedatangan Tuhan. Peringatan berjaga-jaga yang ditujukan untuk orang-orang pada zaman itu adalah semata-mata untuk mengingatkan akhir dari zaman hidup mereka masing-masing.

Dan memang tidak dapat dihindari bahwa setiap saat kita akan sampai pada akhir perjalanan hidup ini. Inilah yang disebut dengan berjalan di pinggir tebing, dimana setiap kita tidak akan pernah tahu bahwa kita sedang ada di hari-hari terakhir hidup kita. Dan seperti yang sudah kita bersama-sama ketahui bahwa setiap orang hidup dalam penantian. Penantian terhadap kenyataan akhir zaman, dimana kedatangan mempelai tersebut bisa juga berarti kedatangan Tuhan atau hari kematian kita. Menyadari hal ini, maka setiap orang harus selalu memiliki kedekatan dan perdamaian dengan Tuhan yang di atas (vertical relationship). Tidak boleh ada satu saat pun di mana kita tidak berada dalam keadaan yang tidak harmonis dengan Tuhan. Ini sebuah kecerobohan yang sangat beresiko. Karenanya Alkitab berkata: “Perhatikanlah bagaimana kamu hidup… janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15-17). Kata “bodoh” di Efesus 5:17 adalah afrones, yang dalam Bahasa Inggris dapat diterjemahkan imprudent, yang bisa berarti tidak hati-hati atau tidak sopan. Kata ini juga berarti “ceroboh.”

Ketidakharmonisan hubungan antar dua pribadi disebabkan oleh karena tidak adanya pengertian di antara kedua atau salah satu dari pribadi tersebut. Janganlah kamu bodoh, jangan tidak sopan, jangan tidak hati-hati atau ceroboh, tetapi hendaklah kamu mengerti atau memahami kehendak Tuhan. Kata “mengerti” di Efesus 5:17 adalah suniete, yang berarti understanding atau pengertian. Setiap kita hendaknya belajar dan benar-benar berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan, supaya kita bisa bersikap pantas atau sopan di hadapan-Nya. Hal ini sama artinya dengan takut akan Tuhan. Orang yang menyadari bahwa ia berjalan di tepi tebing, tidak akan berlaku ceroboh. Ia akan berusaha membangun hubungan harmonis dengan Tuhan dan tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dengan kesenangannya sendiri. Dalam kisah Lukas 12:19-20; 16:19-23; 27-28 diceritakan bila kemungkinan besar orang kaya ini mati pada usia masih muda, buktinya ia masih memiliki ayah dan semua saudaranya tinggal dalam satu rumah.

Ketika seseorang sadar bahwa ia berjalan di pinggir tebing, ia akan berusaha untuk menggunakan waktu dan terus menerus membenahi diri agar bila setiap saat “mempelai itu datang” ia dijumpai berkenan di hadapan-Nya. Hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Karenanya, di Efesus 5:16 kita diingatkan: “…dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Ternyata bukan hanya hari ini -hari di mana kita hidup- tetapi juga di zaman ketika Paulus hidup, ia mengatakan bahwa waktu ini adalah jahat. Maksud ayat ini adalah waktu yang tidak digunakan untuk mengerti kehendak Tuhan adalah jahat. Sama dengan api, api yang digunakan untuk maksud baik akan menjadi sangat berguna, tetapi api yang dibiarkan menjalar tanpa kendali dan pengaturan yang tepat dapat membinasakan. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Pemazmur berkata: “Ajar kami Tuhan menghitung hari-hari” (Mzm. 90:12).

Hanya orang-orang yang menggunakan waktunya setiap saat untuk membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhanlah yang akan menjadi seorang yang tidak bercacat dan tidak bercela. Hasil inilah yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Bukan kesucian yang setengah-setengah, bukan pengabdian yang setengah-setengah, bukan kasih yang setengah-setengah, tetapi sepenuhnya bagi Tuhan (Mat. 22:37-39). Pada akhirnya Tuhan tidak akan memberi tempat kepada orang yang setengah-setengah. Tidak ada program setengah-setengah. Orang Kristen yang memiliki usaha setengah-setengah adalah orang Kristen yang sebenarnya tidak berjaga-jaga. Orang Kristen seperti ini hanya bergereja dan berjemaat, tetapi tidak membangun kehidupan yang semakin berkenan kepada Tuhan.