Menyesuaikan Diri
13 September 2020

Play Audio Version

Sejatinya, standar bisa berdamai dengan Allah secara ideal adalah menjadi seperti Yesus. Kalau kita makin seperti Yesus, maka kita semakin bisa berdamai dengan Allah. Untuk itu, kita harus mematikan segala keinginan daging, sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah. Orang yang sedikit-sedikit marah, bertindak hendak menyakiti orang lain, apalagi merasa kuat dan bisa mengancam orang lain, mau memenjarakan orang dan bangga bisa menyakiti orang lain, adalah orang-orang yang tidak berdamai dengan Allah. Jadi, ironis sekali kalau dalam lingkungan gereja, di antara para majelis dan pendeta ada konflik seperti itu.

Oleh sebab itu, kita harus belajar memiliki karakter yang lemah lembut dan tenteram. Pada waktu kita disakiti, kita diam saja; kita difitnah, kita diam saja; kita di-bully, kita diam saja. Kenapa kita begitu? Sebab kita mau berdamai dengan Allah. Kalau kita terpancing marah, balas dendam, kita menjadikan diri kita musuh Allah. Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat Efesus, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” (Ef. 4:17-18). Maksud Firman ini adalah agar kita tidak lagi hidup seperti dulu. Dulu kita adalah musuh Allah, tapi sekarang kita telah diterima, dibenarkan oleh darah Yesus atau dianggap benar. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lagi hidup dan bersikap serta berperilaku seperti dulu, sebelum kita bertobat atau sebelum kita bersungguh-sungguh mau meneladani hidup Yesus.

Firman Tuhan mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,” (Ef. 19-21). Untuk menjadi orang percaya yang berdamai dengan Allah, kita harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak patut. Itulah manusia lama kita. Jadi, kalau kita belum menanggalkan manusia lama, berarti kita masih menjadikan diri kita musuh Allah. Oleh sebab itu, kalau kita sudah dibenarkan oleh darah Yesus, hendaknya kita tidak boleh hanya cukup dianggap benar. Allah kita jahat, kalau kita hanya dianggap benar supaya masuk surga dengan keadaan tidak benar. Tetapi sesungguhnya, Allah kita Mahabaik. Dia membenarkan kita, supaya kita diubah agar bisa benar-benar berkeadaan menjadi benar.

Dalam Efesus 4:23-24 tertulis: “… supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, tapi sebenarnya masih dalam keadaan bermusuhan. Kalau seseorang adalah Kristen baru, Tuhan sering menolerir ketika ia masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Tetapi kalau terus-menerus berbuat salah, itu berarti ia tidak mau berdamai dengan Allah. Ia harus belajar untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Untuk bisa menemukan perdamaian dengan Allah, seseorang harus dikembalikan ke rancangan Allah semula. Orang yang dalam proses dikembalikan ke rancangan semula pasti mulai tidak mencintai dunia, pasti tidak lagi hidup dalam keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Itulah sebabnya dalam 1 Yohanes 2:15-17 firman Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Allah tidak mungkin berkasih-kasihan dengan orang yang tidak mengasihi-Nya. Tidak mungkin Allah membiarkan kita tidak mengasihi-Nya dan mencintai dunia, lalu masuk surga. Makanya, kita harus mengalami perubahan.

Dalam perdamaian dengan Allah, tidak boleh ada langkah kompromi dengan dunia. Kita harus tegas meninggalkan dunia untuk memilih Tuhan saja dengan menyesuaikan diri terhadap kehendak-Nya. Dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri terhadap kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan terhadap Allah. Kita harus hanya kompromi dengan kebenaran dan kesucian, tapi kita tidak kompromi lagi dengan dunia. Kita harus berkhianat terhadap daging, nafsu, ego, dan ambisi kita. Firman Tuhan mengatakan, “kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan.” Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” (Gal. 5:24-25).