Menyerap Hidup-Nya
08 April 2021

Play Audio

Jika kita menyadari dan menghayati ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, lalu apa yang berhak kita klaim sebagai milik kita? Semestinya, kita tidak berhak memiliki apa pun. Jika memiliki kesempatan untuk hidup, ini merupakan kesempatan yang tidak terkira. Tetapi perlu dipermasalahkan, bagaimana sikap hidup kita? Apakah kita masih merasa memiliki sesuatu di hadapan Tuhan? Banyak orang merasa bahwa dirinya memiliki hak di hadapan Tuhan. Biasanya orang seperti ini memberi batasan antara yang “milik Tuhan” dan “miliknya.” Apa yang menjadi milik Tuhan, biasa diberikan kepada gereja sebagai persembahan. Sedangkan apa yang menjadi miliknya, digunakan sesuai keinginannya sendiri. Persepuluhan yang diajarkan di banyak gereja sering menjebak orang percaya pada bagian milik Tuhan dan bagian miliknya. Dan ini membangun kesalahan yang bisa fatal. Mestinya segenap hidup kita adalah milik Tuhan, sehingga tidak ada pembagian milik (milik Tuhan dan milik pribadi). 

Sesungguhnya sebagai orang percaya, kita telah ditebus sepenuhnya oleh Tuhan Yesus. Kita tidak berhak atas sejengkalpun hidup kita. Dalam 1 Korintus 6:19-20 dikatakan, “bahwa kamu bukan milik kamu sendiri, karena kamu telah ditebus, dibeli dengan harga yang lunas dibayar.” Jelas sekali bahwa “kamu bukan milik kamu sendiri,” jadi setiap orang yang telah ditebus Tuhan, tidak berhak memiliki dirinya sendiri. Baik itu keluarga, harta, fasilitas, kehormatan, kesehatan, atau apa pun itu, semuanya adalah milik Tuhan yang harus dikelola demi kepentingan-Nya. Seharusnya, tidak ada yang disebut sebagai “milikku” dan “milik Tuhan.” Semuanya harus disebut sebagai “milik Tuhan” dan berani kita persembahkan tanpa batas. 

Dalam 2 Korintus 5:14 dikatakan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Dari ayat ini, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kematian Tuhan Yesus membawa orang percaya kepada satu kawasan baru. Kawasan tersebut adalah kawasan hidup bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan tidak boleh disederhanakan dengan menjadi pendeta atau pelayan gereja sepenuh waktu (full-timer). Hidup bagi Tuhan juga tidak dapat dipandang secara dangkal sebagai hidup yang dipenuhi dengan kegiatan rohani seperti berdoa, datang ke gereja, dan membaca Alkitab semata. Hidup bagi Tuhan merupakan kawasan yang luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan orang percaya. Dalam setiap perkataan, perbuatan, pertimbangan, keputusan, dan tindakan, seluruhnya dipersembahkan untuk kepentingan Tuhan. Untuk masuk dalam kawasan ini, setiap orang harus menyerap hidup Yesus yang tertuang dalam Injil.

Menyerap kehidupan Yesus berarti mengikuti jejak hidup Tuhan yang mengabdi tanpa batas kepada Allah. Tuhan Yesus tidak membatasi antara milik-Nya dan milik Bapa. Apa yang ada padanya semuanya adalah milik Bapa di surga. Dalam Filipi 2:6, dinyatakan bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia sampai mati di kayu salib. Dari kehidupan Tuhan Yesus, kita melihat keterlepasan Tuhan dari segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Ia terlebih dahulu memberi teladan, bagaimana memberi hidup tanpa batas kepada Allah. Ketika manusia hari ini hidup terbatas dengan Allah, Yesus memberi contoh hidup tanpa batas. Ia mengurbankan kemuliaan, bahkan nyawa-Nya, demi kepentingan Bapa dalam menyelamatkan umat manusia.

Jadi, berbicara mengenai memberi hidup kepada Tuhan, bukan berapa persen yang kita harus berikan untuk pekerjaan Tuhan, sebab segenap hidup kita ini pekerjaan Tuhan. Tubuh kita sendiri adalah milik Tuhan untuk menggenapi pekerjaan-Nya. Bisnis, karier, pendidikan, tabungan, dan deposito kita adalah milik Tuhan semata. Berbicara ini bukan berarti seluruhnya kita serahkan ke gereja. Seluruh fasilitas tersebut harus kita gunakan secara bijaksana dalam pimpinan Roh Kudus. Baik itu untuk menghidupi keluarga, membantu keluarga besar yang kekurangan, menolong masyarakat yang membutuhkan, atau untuk pekerjaan Tuhan di dalam gereja. Semuanya kita lakukan dalam pimpinan Roh Kudus. 

Hal terpenting, bukan berapa yang kita beri, tetapi apakah kita telah menyerap hidup Tuhan yang tanpa batas mengabdi ke Bapa? Jangan sampai kita masih merasa berhak atas hidup kita sendiri dengan memberi batasan antara milik kita dan milik Tuhan. Hendaknya kita melihat segala sesuatu yang Tuhan percayakan dalam hidup kita sebagai milik Tuhan yang harus kita kelola dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan ini, sebenarnya kita menyerap hidup Tuhan dalam hidup kita dan meneladani jejak hidup-Nya.