Menyadari Realitas
25 June 2020

Play Audio Version

Ketika COVID-19 merebak, ada kegelisahan yang kuat di dalam diri saya terkait dengan kehidupan jemaat Tuhan dan para pelayan-Nya yang menjadi tanggung jawab saya sebagai gembala dan pimpinan sinode. Kehidupan jemaat dan para pelayan-Nya di sini, maksudnya bukan hanya kehidupan jasmani atau yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, melainkan terutama kehidupan kekal mereka. Dengan lebih mudahnya terjadi kematian akibat terpapar COVID-19 ini, saya berpikir mengenai kesiapan mereka menghadapi kematian. Sebelum pandemi COVID-19 ini—dimana sudah sering saya perkatakan dalam banyak kesempatan dengan perasaan cemas—tetapi sekarang, dengan lebih rentannya fisik karena pandemi COVID-19, saya lebih cemas. Fakta empirisnya, banyak orang yang menjadi korban dengan mudah, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan yang memang sudah memiliki penyakit penyerta—darah tinggi, diabetes, jantung, dan lain sebagainya—seperti yang dilansir di berbagai media. Bagi mereka yang sudah mengidap penyakit-penyakit tersebut, mereka lebih mudah mengalami kematian ketika terpapar COVID-19.

Ketika keadaan belum genting seperti hari ini, banyak orang tidak menyadari realitas hidup. Mereka hidup dalam suasana nyaman, segala sesuatu berjalan dengan baik, tidak ada yang mengejutkan. Namun, kita tiba-tiba dikejutkan oleh pandemi COVID-19. Banyak orang bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi. Inilah realitas kehidupan. Di dunia yang sudah jatuh ini, segala sesuatu yang mengejutkan bisa terjadi di luar dugaan atau prediksi manusia, seperti pandemi COVID-19 ini. Keadaan hari ini, sebenarnya juga belum terlalu genting dibanding dengan keadaan yang bisa lebih genting, yaitu nanti ketika pecah perang, terjadi bencana alam, dan bencana lainnya yang membuat kematian mudah terjadi.

Dengan pandemi COVID-19 ini, orang bisa lebih menghayati gentingnya realitas kehidupan. Harus selalu diingat, bahwa kematian adalah fakta yang pasti akan terjadi, dialami setiap orang, cepat atau lambat. Oleh sebab itu, setiap orang harus mempersiapkan diri menghadapi realitas ini setiap saat. Faktanya, memang jarang sekali orang yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi hari kematiannya. Hal ini menunjukkan bahwa sedikit sekali orang yang serius mempersoalkan kekekalannya. Mengapa bisa terjadi demikian? Sebab, perhatian manusia hanya tertuju kepada perkara-perkara yang kelihatan. Dunia hari ini adalah dunia yang materialistis, yang filosofinya adalah materi merupakan nilai tertinggi kehidupan. Itulah sebabnya, Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus mengatakan: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:16).

Banyak orang sebenarnya belum siap menghadapi kematiannya, karena mereka belum sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadap takhta pengadilan Kristus. Banyak orang Kristen hanya sampai taraf beragama, tetapi belum benar-benar ber-Tuhan. Jadi, Allah yang mereka yakini adalah Allah dalam fantasi. Orang yang hanya beragama tetapi tidak sungguh-sungguh ber-Tuhan, pada umumnya tidak berani menyongsong kematiannya. Orang-orang seperti ini, kalau menghadapi kematian hanya bisa dalam kepasrahan tanpa kepastian menerima kemuliaan bersama Kristus. Kepasrahan mereka adalah kepasrahan dalam keyakinan “mudah-mudahan diterima oleh Tuhan Yesus.” Dan mereka menganggap hal itu cukup. Kepastian pengharapan menerima kemuliaan dengan sukacita hanya bisa dialami oleh orang percaya yang benar-benar hidup ber-Tuhan.

Ber-Tuhan artinya mengalami Tuhan secara rill, dimana seseorang berinteraksi dengan Tuhan dalam interaksi konkret setiap saat. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang hidup dalam kesucian, tidak terikat dengan dunia, dan hidup dalam pengabdian sepenuhnya kepada Dia. Dalam konteks hidup orang percaya atau dalam ukuran keberimanan orang percaya, ber-Tuhan haruslah sampai pada taraf memenuhi doa yang diucapkan oleh Yesus di Yohanes 17:20-21, yaitu tinggal di dalam Tuhan, dan Tuhan di dalam diri orang percaya. Banyak orang Kristen yang belum mengalami kehidupan ber-Tuhan dengan standar Perjanjian Baru. Sebagian mereka, belum mengerti dan mengalami “perasaaan krisis” terhadap hal kekekalan sehingga mereka menganggap sepele hal tersebut. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah merasa perlu hidup dalam persekutuan dengan Allah secara ideal.

Perasaan krisis mengenai kekekalan ini jauh dari pikiran orang-orang yang hidupnya nyaman, atau merasa diri kuat dengan uang dan relasi pejabat. Mereka biasa dapat menghindar dari berbagai kesulitan hidup. Karena merasa bisa selalu berkelit, menghindari bahaya dan kesulitan, sehingga tanpa disadari, mereka menjadi sombong. Kesombongan di sini berangkat dari sikap yang kurang membutuhkan Allah. Mereka merasa lebih membutuhkan kekuatan manusia. Sebagai bukti, kalau mereka “melayani” pejabat, berapa pun uang yang harus digelontorkan, mereka berikan, dan apa pun yang harus mereka lakukan, mereka bisa lakukan. Sebaliknya, kalau untuk pekerjaan Tuhan, mereka hanya memberikan “remah-remah” yang sangat tidak berarti. Banyak orang tidak menyadari bahwa dalam urusan kekekalan, mereka tidak akan dapat berkelit dan menghindari api kekal kalau tidak sungguh-sungguh bertobat dan tinggal, hidup dalam kesucian, memiliki sikap hormat yang patut kepada Allah, melayani Dia, dan sungguh-sungguh tinggal di dalam Dia.