Menyadari Kesalahan
21 February 2021

Play Audio

Sebagai orang percaya yang terus disempurnakan, kita harus bisa menyadari kesalahan kita. Menyadari kesalahan bukan hal yang sederhana. Menyadari kesalahan bisa menjadi hal sulit bagi sebagian orang karena mereka sudah terbiasa tidak mengakui kesalahannya. Mereka lebih senang merasa sudah baik dan tidak perlu dikoreksi. Hal ini bisa menjadi sangat berbahaya mengingat setiap manusia memiliki kerapuhannya masing-masing. Lantas, bagaimana kita bisa menyadari kesalahan kita?

Pertama, kita memang perlu menyadari betapa besar dosa kita. Dalam kisah seorang hamba yang berutang kepada tuannya, ia berutang sepuluh ribu talenta. Sepuluh ribu talenta di sini menunjuk pada angka yang sangat besar dan tidak mungkin dapat terbayarkan. Tuan tersebut pada akhirnya melepaskan hambanya tersebut dari jeratan utang tersebut. Sesungguhnya, hamba tersebut adalah gambaran setiap kita yang berutang kepada Tuhan dengan dosa-dosa kita. Namun dalam kebesaran hati-Nya, ia menerima dan mengampuni kita. Semua dosa manusia diampuni melalui kurban Yesus di kayu salib. Kita harus selalu mengingat bahwa kesempatan kita ada di hadapan Allah hanya karena kurban Yesus. Dengan mengingat ini, kita akan menyadari betapa besarnya dosa kita yang telah dihapuskan. Ketika seseorang menyadari dosanya yang besar telah dihapuskan, maka ia dapat dengan jujur mengakui dosa yang telah dilakukannya.

Kedua, bercermin kepada Tuhan. Seseorang yang dapat menyadari kesalahannya adalah mereka yang memahami standar yang benar. Standar kita adalah Tuhan sendiri, yakni apakah keberadaan kita saat ini telah seperti yang Tuhan inginkan? Lebih lanjut lagi, jika Tuhan hadir di dunia, apakah Dia seperti diriku? Jika ada bagian dalam hidup kita yang belum seperti yang Tuhan ingini, maka kita harus segera meminta ampun dan bergerak maju. Kesalahan yang kita lakukan semakin hari akan semakin berbeda. Kalau sebelumnya kita melakukan pelanggaran moral dan kesalahan-kesalahan yang seharusnya dapat dihindari orang di luar Tuhan, maka semakin kita melihat Tuhan sebagai standar, kesalahan kita akan berbeda bentuk. Kesalahan kita akan semakin mengerucut pada masalah-masalah batiniah dan permintaan ampun kita bukan hanya permasalahan pelanggaran hukum. Bila hal ini dilakukan secara konsisten dengan usaha yang sungguh, maka kita akan sangat peka terhadap kesalahan kecil sekalipun. Kita dapat menyadari kesalahan kita, mulai dari ucapan yang meleset, pemikiran yang tidak perlu, atau ketidaktepatan dalam hal lainnya yang bertalian dengan sikap batiniah.

Tidak ada seorang pun yang telah benar-benar bersih dari kesalahan. Kita semua adalah orang-orang yang dahulu memiliki masa lalu kelam. Namun hendaknya, setiap kita harus memiliki geliat yang sungguh akan kehidupan yang ideal di mata Tuhan. Kita harus sungguh memperkarakan perasaan Tuhan yang kita lukai setiap hari. Kesalahan sekecil apa pun harus segera kita selesaikan. Jangan terbiasa untuk menunda pertobatan, sehingga menumpuk dosa di hadapan Tuhan. Kita harus peka atau sensitif dengan perasaan Tuhan yang tidak nyaman dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku kita. Kita harus melihat “gunung dosa” yang selama ini hanya tampak permukaannya saja. Pada hati yang paling dalam, sebenarnya banyak kesalahan lain yang bersangkutan dengan kodrat dosa kita.

Untuk itu, kita harus memiliki kesadaran atas dosa kita telah diampuni oleh Tuhan. Kesadaran selanjutnya yang perlu dibangun adalah bagaimana membalas kasih Tuhan yang begitu besar dalam diri kita. Sesungguhnya, tidak ada satu hal apa pun di dunia ini yang dapat membalas kebaikan Tuhan. Namun apabila Tuhan memperkenan kita untuk mengubah kodrat menjadi seperti yang Ia inginkan, ini adalah sebuah kesempatan besar untuk memuaskan hati-Nya. Pengampunan-Nya memberikan peluang bagi kita untuk terus membenahi diri. Oleh sebab itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk membenahi diri selagi Tuhan masih bermurah hati kepada kita. Mari segera menyadari kesalahan yang telah kita lakukan dan berbalik pada arah yang dikehendaki-Nya.