Menunda Berarti Menolak
11 September 2020

Play Audio Version

Orang yang masih mencari kebahagiaan dari dunia ini tidak akan bisa setia kepada Allah, mereka menjadikan dirinya musuh Allah. Dengan demikian, mereka tidak mungkin dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Orang percaya yang berhenti mencari kebahagiaan dari dunia ini akan sangat giat mencari kebahagiaan hanya dari Tuhan. Orang yang berhenti mencari kesenangan dari dunia pasti mengarahkan hidupnya untuk menyenangkan hati Allah. Ia akan berusaha agar segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Langkah hidup seperti itu juga akan sangat membahagiakan dirinya sendiri. Menjadi kesukaan hati Allah berdamai dengan orang-orang seperti ini. Memang manusia diciptakan hanya untuk Allah, yaitu untuk kesukaan dan kesenangan hati-Nya. Suka tidak suka, memang kita diciptakan untuk itu. Dan menjadi kesukaan hati Allah harus menjadi satu-satunya kebahagiaan yang kita miliki. Dengan hidup demikian, tidak mungkin orang percaya bisa hidup wajar, sebab kita harus teosentris, sementara manusia pada umumya adalah egosentris.

Dalam Roma 5:10 yang tertulis demikian: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Dengan darah Yesus, kita dibenarkan di hadapan Allah. Ia menerima kita, tanpa melihat keadaan kita. Tetapi tidak berhenti di situ. Allah mau mengubah kita, itulah sebabnya Ia memberikan Roh Kudus yang menuntun kita kepada segala kebenaran. Ia mengerjakan segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan menggarap kita, mengerjakan kesempurnaan di dalam hidup kita. Oleh sebab itu, kita harus memenuhi firman Tuhan yang mengatakan: “berilah dirimu diperdamaikan oleh Allah;” be reconciled to God. Kita harus melihat dua aspek atau dua pihak, yaitu: Pertama, dari pihak Allah, yang menyediakan rekonsiliasi atau sarana rekonsiliasi itu yaitu darah Tuhan Yesus yang ditumpahkan dan penggarapan-Nya. Kedua, dari pihak kita, harus bersedia hidup dalam penggarapan Allah agar kita dapat berkeadaan bisa berdamai dengan Allah.

Ada banyak orang berpikir bahwa darah Yesus sudah menudungi, sehingga Allah menerima kita dan terus membiarkan apa pun keadaan kita sampai nanti ke surga, yang penting darah Yesus telah membungkus. Ini pandangan yang salah. Itulah sebabnya, Tuhan berkata, “jadikan semua bangsa murid-Ku.” Di dalamnya terdapat proses supaya batiniah kita diubah. Dengan batiniah kita diubah, kita bisa berekonsiliasi dengan Allah, bisa tune, ‘klop,’ atau ‘krek’ dengan Allah. Sebagai ilustrasi, karena orangtua sangat sayang kepada anak-anaknya, sewaktu anak-anaknya masih kecil, biarpun anak tersebut mengompol atau nakal, orangtua tidak akan memperhitungkannya. Tetapi orangtua tidak ingin anaknya terus-menerus kekanak-kanakan. Anak harus bertumbuh dewasa, memiliki kedewasaan seperti orangtua, dan bisa “klop” dengan orangtua. Oleh sebab itu, agenda hidup kita satu-satunya hanya bergumul untuk dapat semakin sempurna, serupa dengan Yesus. Sebab hanya dengan keadaan itu, kita bisa berdamai dengan Allah.

Pertanyaan penting yang harus kita perkarakan saat ini adalah: Apakah kita telah sungguh-sungguh diperdamaikan dengan Allah? Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, padahal sebenarnya belum. Betapa mengerikan kalau seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara dia merasa sudah berdamai dengan Allah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa selalu masih ada waktu untuk berdamai dengan Allah, sehingga ada kecenderungan menunda proses berdamai dengan Allah. Kita harus berpikir bahwa tidak akan ada waktu lagi untuk berdamai dengan Allah. Menunda itu bisa berarti menolak. Men-delay bisa menjadi meng-cancel.

Allah pasti memberi peringatan untuk berdamai dengan Dia, tetapi kenyataannya banyak orang tidak mau mendengar peringatan-Nya. Pandemi COVID-19 bisa menjadi peringatan, betapa rentannya manusia itu. Manusia membutuhkan tangan kuat yang dapat melindunginya. Hanya tangan Allah yang dapat melindungi manusia—baik di dunia hari ini maupun di dunia yang akan datang. Oleh sebab itu, kita harus memiliki perdamaian dengan Allah. Hidup dalam perdamaian yang benar dengan Allah akan mengantar kita ke langit yang baru dan bumi yang baru.

Sebab hidup yang sesungguhnya itu nanti, di langit baru dan bumi yang baru. Kita harus mempersiapkan diri untuk kehidupan di sana. Oleh sebab itu, kita harus dalam suasana berkemas-kemas untuk pulang ke surga. Orang yang “berkemas-kemas” pasti selalu berusaha menunjukkan keseriusannya dengan Allah. Hal tersebut dilakukan untuk hidup dalam perdamaian dengan Allah. Seharusnya manusia tidak menunggu hari tua baru mau berkemas-kemas dengan melakukan perdamaian dengan Allah. Siapa pun kita, berapa pun usia kita, kita harus sungguh-sungguh berkemas-kemas, sebab kita tidak tahu kapan jantung kita berhenti berdetak.