Menjual Nama Yesus Dengan Menjanjikan Surga
23 December 2017

Adalah indah kalau seorang hamba Tuhan atau seorang pendeta menjanjikan surga kepada jemaat dengan atau melalui pengajaran Firman Tuhan, agar jemaat hidup di dalam kebenaran yang diajarkan tersebut. Sebenarnya, bukan hamba Tuhan atau pendeta tersebut yang menyediakan surga dan berhak memberi janji membawa jemaat ke surga. Tetapi, janji membawa jemaat ke surga berarti hamba Tuhan atau pendeta tersebut benar-benar berusaha untuk memahami kebenaran secara progresif dan mengajarkan kepada jemaat. Selain itu, hamba Tuhan atau pendeta tersebut bersedia berubah terus untuk menjadi seperti Yesus guna dapat dijadikan teladan bagi umat Tuhan. Umat dapat menemukan sosok atau profil dari “manusia Allah” (man of God) yang layak menjadi anak-anak Allah.

Seorang hamba Tuhan atau pendeta harus berani berkata “ikutilah teladanku, sama seperti aku mengikuti teladan Yesus”. Akhirnya, seorang hamba Tuhan atau pendeta yang baik dapat dan berani berkata bahwa seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang, maka keberadaan Yesus seperti dirinya. Dirinya menjadi model pribadi Yesus yang bangkit di zaman ini. Dengan demikian, seorang hamba Tuhan atau pendeta bisa berkata “hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Pelayanan pendeta seperti ini juga bisa menargetkan, bahwa setelah seseorang menjadi anggota jemaat gereja yang dilayani dan mengikuti jejak hidupnya, maka karakternya diubah seratus delapan puluh derajat.

Tidak sedikit hamba Tuhan atau pendeta yang menjanjikan jemaat dibawa ke surga. Tetapi, ia tidak mengajarkan kebenaran yang dapat mengubah hidup jemaat. Pemberitaan Firmannya hanya sekitar mukjizat dan kesembuhan ilahi. Bisa dipastikan pemberitaan Firmannya tidak progresif. Kalau ia memperkenalkan dirinya, maka yang diperkenalkan adalah kelebihan-kelebihannya secara lahiriah, sukses atau keberhasilannya dalam dunia sekuler. Secara tidak langsung, ia mau mengatakan bahwa kalau jemaat mengikuti dirinya, maka jemaat itu akan sukses dan terhormat seperti dirinya.

Pelayanan pendeta seperti di atas ini, tidak pernah bisa menargetkan bahwa setelah seseorang menjadi anggota jemaat gereja yang dilayani dan mengikuti jejak hidupnya, maka karakternya dapat diubah seratus delapan puluh derajat. Tetapi, yang ditargetkan atau dijanjikan adalah para jemaat mendapatkan jodoh yang selama ini dinanti, bagi jemaat yang mandul akan dapat keturunan, yang tidak memiliki rumah dapat memiliki rumah, yang penghasilannya rendah akan mendapat penghasilan yang lebih banyak (sebab kutuk kemiskinan dipatahkan), sepanjang umur hidupnya tidak akan pernah mengalami pisau operasi, bisa memiliki panjang umur, berhasil dan berprestasi dalam studi, dan lain sebagainya. Semua targetnya pasti berkutat pada berkat jasmani. Kalaupun berbicara mengenai kekudusan, maka kekudusan yang dimaksud hanya sekitar kejujuran, tidak berzinah secara umum, dan standar kekudusan umum lainnya. Padahal, Tuhan menghendaki agar orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Kalau gereja tidak sungguh-sungguh mengajarkan kebenaran dan tidak ada contoh bagaimana profil anak Allah itu, maka sulitlah pelayanan itu diselenggarakan dengan motif yang murni. Pasti ujung-ujungnya atau motifnya juga adalah uang. Mereka menjual nama Yesus dengan menjanjikan surga. Padahal, tidak mudah untuk bisa masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk masuk surga atau diselamatkan harus masuk pintu yang sesak. Sebab banyak yang berusaha masuk tetapi tidak dapat (Luk. 13:23-24). Mereka yang tidak mengerti kebenaran ini akan mengesankan bahwa masuk surga itu mudah. Sebaliknya, yang menjadi fokus masalah adalah kebutuhan hari ini seperti mandul, persoalan ekonomi, sakit penyakit, karir, dan lain sebagainya. Padahal, semua masalah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita ditujukan bagi kebaikan kita agar kita serupa dengan Yesus.

Pelayanan yang menekankan kebutuhan jasmani yang biasanya menggunakan sarana kuasa mukjizat, secara tidak langsung pelayanan tersebut sedang memarkir jemaat di dunia, bukan di surga. Jadi, janji membawa ke surga sebenarnya hanya sebatas retorika semata-mata demi eksis dirinya di mata jemaat. Tentu saja dalam hal ini, Tuhan saja yang mengetahuinya. Oleh sebab itu, sebagai pelayan Tuhan kita harus memahami tugas pelayanan. Bukan hanya “omong besar” membawa jemaat ke surga, tetapi menunjukkan bukti bahwa dirinya sedang menuju ke surga dengan perubahan karakter secara signifikan dan permanen.