Menjalar Kepada Orang Percaya
15 September 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 5:10-11 tertulis: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Bermegah dalam Allah oleh Yesus artinya merasa berharga, bangga, dan hidup berkelimpahan dalam Yesus Kristus, walau secara lahiriah berkekurangan, bahkan hidup dalam penganiayaan. Karena hal ini, jemaat Roma rela menanggung segala penderitaan dan rela kehilangan segala sesuatu demi imannya kepada Kristus.

Kalau jemaat Roma tidak setia kepada Kristus—artinya tidak bersedia hidup dalam kesucian dan tidak rela menderita bagi Kristus—maka perdamaian dengan Allah tidak akan terwujud atau tidak berlangsung dengan benar. Terkait dengan ini, Paulus dalam Roma 6:1-6 menulis: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

Kalimat “diselamatkan oleh hidup-Nya” bisa berarti bahwa kualitas hidup Yesus yang taat kepada Bapa atau hidup dalam kesucian “menjalar” dalam kehidupan orang percaya. Sebagaimana “dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” maka melalui hidup Yesus, kehidupan yang benar dapat “menjalar” dalam kehidupan orang percaya, yang memberi diri diperdamaikan dengan Allah. Meneguhkan pengertian terhadap kebenaran di atas ini, kita harus memerhatikan Roma 5:19-21, yaitu: “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Oleh sebab itu, pengertian kasih karunia tidak boleh hanya diisi sebagai suatu pemberian cuma-cuma yang di dalamnya manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Tetapi, di dalam kasih karunia terdapat kemungkinan untuk memiliki kualitas hidup seperti yang dimiliki oleh Yesus. Jadi, kalau kasih karunia hanya dipahami sebagai pemberian cuma-cuma terkait dengan diperkenankannya manusia masuk surga—tanpa terkait dengan kualitas hidup seperti Yesus—maka itu bukan kasih karunia dalam arti utuh atau lengkap. Justru kasih karunia berporos pada kehidupan yang dikembalikan ke rancangan semula. Yesuslah model manusia yang dikehendaki oleh Allah.

Kasih karunia yang dipahami sekadar suatu pemberian cuma-cuma yang di dalamnya manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, adalah kasih karunia tanpa tanggung jawab. Akhirnya, kasih karunia seperti ini sia-sia. Hal ini sama dengan keselamatan yang begitu berharga menjadi sia-sia tanpa dikerjakan dengan takut dan gentar. Itulah sebabnya, menjadi sesuatu yang mutlak dimana orang percaya harus hidup di dalam kasih karunia, artinya tidak lagi hidup di dalam dosa (Rm. 6:1-6).

Kalimat “oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” maksudnya adalah bahwa oleh karena ketaatan Yesus, semua orang—artinya orang percaya—menjadi benar. Kata “benar” di sini bukan hanya dianggap benar, melainkan dimungkinkan untuk benar-benar berkeadaan benar. Tentu saja kalau seseorang mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Kalau dikatakan “hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,” maksudnya adalah setelah sekian lama pada zaman sebelum zaman anugerah, Allah membiarkan dosa bertambah banyak atau kelakuan banyak manusia rusak, maka pada zaman anugerah, ada orang-orang yang hidup dalam kasih karunia; yaitu mereka yang mengenakan kehidupan seperti Yesus dan yang menyukakan hati Allah. Sehingga “seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.