Menjaga Perasaan Allah
12 September 2020

Play Audio Version

Betapa mengerikan, kalau kita meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara merasa sudah dikenal oleh Allah dan dalam perdamaian dengan Allah. Oleh sebab itu, Allah yang kita pahami, haruslah Allah yang kita alami. Allah tidak boleh hanya dinalar. Seharusnya kita bukan hanya menalar Allah. Allah yang hidup dan nyata haruslah dialami secara riil. Allah yang hanya dinalar dalam pikiran adalah Allah dalam fantasi, yang ditemukan dalam buku perpustakaan atau karya jurnal ilmiah saja dalam lingkup teologi. Kebanyakan orang mendengar khotbah dari para teolog yang hanya mengisi pikiran dengan ilmu teologi, tetapi tidak hidup dalam perdamaian dengan Allah dalam pengalaman konkret. Pada faktanya, banyak teolog hanya menalar Allah. Orang yang hanya menalar Allah tanpa mengalami-Nya pasti tidak pernah memiliki kehidupan yang berdamai dengan Allah. Hal ini harus dipersoalkan, sebab jemaat yang menjadi korbannya.

Orang-orang Kristen yang ber-Tuhan secara fantasi, tidak merasakan atau tidak mengenal perasaan Allah secara riil, tetapi merasakan perasaan Allah secara fantasi. Pasti itu allah yang mati, bukan Allah yang benar. Kita mengerti hal ini, sebab kita juga itu sudah pernah terjebak dalam lingkaran itu. Orang-orang seperti ini cakap berteologi, tetapi tidak memiliki kerendahan hati seperti Yesus dan roh yang lemah lembut dan tenteram. Biasanya, mereka memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain, bahkan menuding orang lain sebagai sesat atau bidat. Dengan cara demikian, mereka mau menunjukkan bahwa mereka yang paling benar. Tentu biasanya, orang-orang seperti ini suka berdebat hanya untuk membela doktrin, sekaligus mengangkat diri. Mereka bukan orang yang sudah berdamai dengan Allah, bahkan belum berdamai dengan diri sendiri.

Orang yang rendah hati dan sudah “berisi” biasanya tidak mengangkat diri. Jangan sampai kita terjebak di situ. Kalau seorang teolog terjebak di situ, maka jemaat yang mendengar khotbahnya, membaca tulisannya—baik di buku atau media sosial—akan ikut “terpenjara” dalam nuansa Allah dalam fantasi itu. Allah dalam fantasi adalah allah yang mati dan tidak nyata, sehingga perasaan-Nya tidak benar-benar dirasakan. Mereka menghidupnyatakan Allah dalam fantasi mereka, seakan-akan Allah yang mereka nalar adalah Allah yang benar. Dengan uraian yang tampak argumentatif dan sistematis, mereka merasa telah menemukan dan sedang berperkara dengan Allah yang benar. Padahal, semua serba fantasi.

Banyak teolog dan jemaat yang diajar memiliki Allah model tersebut. Tentu orang-orang ini cakap berbicara mengenai Allah, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan keagungan pribadi Allah. Dari pernyataan-pernyataan mereka, tampak ketidakagungan watak, karakter, dan kepribadian mereka. Kita jangan sampai tergarami, terkena ragi, dan spirit seperti yang mereka pancarkan. Kita harus belajar memiliki roh yang lemah lembut. Sebab, apa pun yang kita lakukan ini menyangkut perasaan Allah. Kita harus menjaga perasaan Allah. Orang yang benar-benar berdamai dengan Allah, pasti memahami perasaan-Nya. Dalam segala hal yang ia lakukan, ia menjaga perasaan Allah.

Kita tahu bagaimana melewati tahun-tahun dimana kita tidak menjaga perasaan Allah. Sejujurnya, kita pernah hidup semena-mena terhadap perasaan Tuhan. Tanpa kita sadari, kita menganiaya perasaan Tuhan. Ironisnya, kita tidak menyadari keadaan diri kita dan tidak merasa bersalah. Seorang pendeta atau dosen sekolah tinggi teologi berpotensi lebih besar tidak menyadari keadaan salah tersebut. Mereka bisa berkhotbah, adu argumentasi, merasa diri benar, tetapi sebenarnya tidak diperhitungkan Tuhan. Kita harus sadar bahwa kita tidak hidup di daerah netral yang tidak bertuan. Kita hidup di semesta, dimana ada host, yaitu Tuan Rumah yang harus kita jaga perasaan-Nya; yaitu perasaan Allah. Kalau orang mau berdamai dengan Allah, prinsipnya “kepentinganku hanya diri-Mu, melayani perasaan-Mu.”

Banyak orang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena memiliki pengetahuan teologi mengenai konsep perdamaian dengan Allah; bahwa Yesus telah mati di kayu salib sebagai jalan pendamaian. Bagi mereka, pendamaian dengan Allah cukup ditemukan dan dialami hanya karena menemukan konsep mengenai pendamaian itu dan memercayai-Nya. Lalu membuat penjelasan mengenai hal tersebut, dan merasa sudah berdamai. Jemaat yang mendengar khotbahnya belum tentu memahami sistematika dogma mengenai pendamaian tersebut secara memadai. Sehingga, rumusan langkah pendamaian dengan Allah hanya dalam bentuk definisi yang diyakini dan disetujui, bukan dalam tindakan menjaga perasaan Allah. Harus dipahami bahwa perdamaian dengan Allah adalah sebuah hubungan konkret yang dipulihkan sesuai dengan rancangan Allah yang semula, bukan sekadar rumusan mengenai perdamaian dalam pkiran sebagai pengetahuan teologi semata-mata.