Menjadi Yang Terpilih
23 September 2018

Banyak orang salah memahami yang dimaksud dengan menjadi umat pilihan. Mereka memandang yang disebut umat pilihan pasti masuk surga. Sebenarnya menjadi umat pilihan berarti menjadi orang-orang yang diberi kesempatan untuk menjadi orang-orang yang berkarakter seperti Allah. Ini sama dengan berkodrat Ilahi (1Tim. 6:11). Hal ini terjadi hanya pada zaman Injil diberitakan, dan adanya penebusan oleh darah Tuhan Yesus Kristus, dimana manusia dapat diproses menjadi manusia seperti rancangan semula, yaitu berkodrat Ilahi. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah manusia yang tidak lagi berkodrat Ilahi. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia agar dapat kembali berkodrat Ilahi. Itulah sebabnya Tuhan menyediakan sarana guna mewujudkannya.

Orang Kristen disebut sebagai umat pilihan yang khusus dan istimewa, karena tidak semua orang bisa mendengar berita Injil. Kalau Alkitab menyatakan bahwa Allah memilih, itu bukan berarti manusia yang dipilih pasti selamat. Dipilih disini artinya diberi kesempatan atau memiliki peluang untuk mendengar Injil, diproses sehingga berkodrat Ilahi. Kalau Alkitab menyatakan bahwa ada orang-orang yang dipilih, artinya bahwa tidak semua manusia “memiliki kesempatan” untuk menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal ini sungguh-sungguh tergantung pada kedaulatan Tuhan sepenuhnya. Ada orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil dan kesanggupan untuk menerima-Nya, tetapi ada yang tidak memiliki kesempatan mendengar Injil sama sekali dan kemampuan untuk menerima-Nya. Harus dipahami bahwa:

Kesempatan menjadi orang pilihan bukanlah jaminan
seseorang bisa benar-benar terpilih dan pasti selamat masuk surga.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Orang yang terpanggil adalah orang-orang yang diberi kesempatan untuk menjadi orang yang terpilih, tetapi orang yang terpanggil untuk terpilih ini tidak semua benar-benar menjadi orang pilihan selamat masuk surga. Dari semua yang “orang yang diundang” ada yang tidak diperkenan menikmati pesta perjamuan, artinya tidak terpilih (Luk. 22: 1-13).

Kesempatan sebagai orang terpilih untuk diundang, tidak dimiliki semua orang. Ini bisa dikarenakan oleh beberapa faktor. Yaitu:
Faktor pertama, mereka hidup sebelum zaman anugerah, yaitu zaman sebelum kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Dalam hal ini Tuhan Yesus tegas berkata: Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (Yoh. 15:16).

Faktor kedua, mereka tidak terjangkau Injil. Banyak orang hidup pada zaman anugerah, tetapi mereka tidak pernah mendengar Injil. Mereka yang ada di pelosok-pelosok jauh dari jangkauan pemberitaan Injil. Alat transportasi dan teknologi komunikasi belum menjamah mereka. Mereka adalah orang-orang yang terisolir dari masyarakat modern. Posisi mereka sebenarnya tidak berbeda dengan orang yang hidup sebelum zaman Tuhan Yesus yang tidak mendengar Injil.

Faktor ketiga, mereka mendengar Injil yang salah. Mereka mendengar Injil dari sumber yang salah. Sejak kecil sudah mendengar cerita atau berita mengenai Tuhan Yesus Kristus, tetapi dari sumber yang salah. Pengertian mereka telah dibutakan oleh fitnah terhadap Injil. Semua ini membuat mereka tidak akan pernah menerima Injil bahkan tidak pernah ramah terhadap Injil, terhadap gereja sebagai institusi dan orang Kristen secara individu. Sebagian mereka terkondisi menentang Injil sampai hatinya membatu sehingga tidak pernah menjadi orang percaya.

Faktor keempat, memiliki cacat fisik dan psikis. Mereka hidup pada zaman anugerah, tetapi oleh karena kelemahan fisik, cacat mental dan berbagai faktor fisik maupun psikis sehingga mereka tidak bisa menerima Injil secara memadai.

Dalam Matius 22:1-14, menunjukkan Tuhan yang digambarkan sebagai seorang raja yang mengadakan pesta, dan mengundang tamu-tamu istimewa untuk menikmati jamuannya. Tetapi tamu-tamu istimewa yang diundangnya tidak datang. Kemudian raja itu memerintahkan mengundang siapa saja yang bisa dijumpai, maka banyaklah tamu-tamu undangan dalam pestanya. Mereka yang diundang inipun tidak semua berpakaian pesta. Orang yang tidak memakai pakaian pesta menunjuk kepada orang yang tidak serius menanggapi panggilan Tuhan untuk menjadi manusia pilihan-Nya. Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk menjadi manusia pilihan yang terpilih -artinya berhasil mengubah diri berkodrat Ilahi- seseorang harus memenuhi persyaratannya.

Persyaratan tersebut adalah respon yang memuat penghargaan terhadap anugerah yang Tuhan sediakan bagi manusia yang mau atau memberi diri untuk digarap-Nya.

Menjadi manusia pilihan tidak tergantung pada kedaulatan Tuhan semata-mata,
tetapi juga pada pilihan manusia itu.

Perhatikan: “Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih” (ay. 14). Apa artinya ini? Ya jelas banyak yang mendengar Injil, tetapi tidak semua meresponinya dengan benar. Tanpa respon, maka Injil hanya menjadi berita kosong yang tidak berarti. Injil atau perkataan Tuhan itulah yang menghakiminya (Yoh. 12:48-49). Perumpamaan di Matius 22:1-14 menunjukkan dengan sangat jelas pentingnya respon manusia atas anugerah-Nya.