Menjadi Saksi Bukan Melalui Mukjizat
31 October 2017

Harus selalu diingat, bahwa mukjizat yang Tuhan lakukan bukan untuk show atau pamer, sebab Tuhan tidak perlu berkompetisi dengan agama atau ilah lain untuk menunjukkan kuasa-Nya, lagi pula Tuhan bukanlah Pribadi yang gila hormat. Tuhan yang Mahabesar tidak perlu bersaing dengan allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan “abal-abal”. Kalau mau berkompetisi, harus melalui perbuatan atau perilaku. Dari perbuatan atau kualitas perilaku seseorang akan dikenal siapa Allah yang benar, bukan melalui demonstrasi kuasa dan mukjizat, sebab agama lain juga dapat mendemonstrasikan kuasa dan mukjizat.

Kita tidak boleh terjebak oleh godaan untuk berusaha membuktikan bahwa Allah kita adalah Allah yang benar melalui kuasa mukjizat-Nya. Tuhan tidak mengajarkan hal ini. Justru pada zaman aniaya selama ratusan tahun orang Kristen teraniaya, seakan-akan Yesus kalah terhadap dewa Hermes dan Zeus, seakan-akan Tuhan Yesus tidak berdaya bahkan tidak tampil dan membela orang percaya waktu mereka dianiaya. Tidak ada penampilan Tuhan yang luar biasa. Tuhan sama sekali tidak mengadakan mukjizat seperti yang pernah dilakukan Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.

Tuhan menghendaki kita menjadi saksi bukan dengan mukjizat, tetapi dengan perbuatan kita yang memuliakan Bapa di surga. Hal ini jelas sekali dari apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 5:13-16, agar orang percaya menjadi terang dunia. Terang, kata ini dalam teks asli bahasa Yunani adalah Phos (φῶς). Kata ini disebut berulang-ulang dalam Alkitab. Alkitab menyebutkan bahwa terang yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus (Yoh. 1:9; 8:12). Sebenarnya orang percaya tidak memiliki terang dan orang percaya bukan terang itu, tetapi Tuhan memancarkan terang-Nya melalui hidup orang percaya.

Ayat dalam Matius 5:16 hendaknya tidak dimengerti secara dangkal. Seakan-akan hanya melalui satu perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang anak Allah, orang yang melihatnya mengakui Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang baik sehingga mereka memuji-Nya. Kata “perbuatan” di teks ini adalah ergon (ἔργον) yang lebih berarti pekerjaan. Hal ini menunjuk sebuah tindakan yang dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan. Ini sama prinsipnya dengan fungsi lampu. Bukan hanya menyorot atau memancarkan cahaya sesaat. Seluruh hidup kita harus ditata sebaik mungkin melalui kebenaran Firman Tuhan, sehingga berfungsi sebagai terang. Makin hidup dalam kebenaran terang Tuhan, semakin memancar dan berkesinambungan (Ams. 4:18).

Berbicara mengenai terang maksudnya orang percaya harus memiliki moral seperti Yesus, sebab Yesuslah terang dunia. Kehidupan orang Kristen harus membuktikan bahwa Yesus benar-benar adalah Juruselamat. Pembuktian tersebut bukan melalui kuasa mukjizat yang dapat didemonstrasikan, tetapi melalui pembuktian perilaku hidup kita yang diubah Tuhan menjadi sempurna seperti Yesus. Kalau hanya perbuatan baik seperti yang dapat dilakukan orang secara umum, maka orang percaya belumlah dapat menjadi saksi dan membuktikan kebenaran Injil atau kebenaran Allah yang kita sembah.

Menjadi terang berarti memengaruhi atau memberi dampak bagi orang lain agar mereka juga menerima keselamatan yang ditandai dengan kesucian hidup. Jadi, kalau dikatakan terang bercahaya dalam kegelapan, itu artinya kehidupan orang percaya membuat orang lain diselamatkan (bukan hanya menjadikan mereka sebagai orang Kristen). Kalau keselamatan diberikan kepada seorang manusia, maka keselamatan tersebut akan pasti membangun kesucian hidup.

Sebagai hasilnya orang akan memuliakan Bapa. Ini tidak sekadar orang lain mengakui Tuhan baik, atau memuji nama Tuhan. Tetapi melalui pekerjaan kita, orang akan diselamatkan dengan mengenal Allah yang benar, didewasakan, dan mengubah orang lain untuk menjadi terang bagi sesamanya pula. Memuliakan Tuhan bukan sekadar mengubah orang di luar Kristen menjadi Kristen, tetapi mengubah seseorang menjadi anak tebusan Tuhan, sehingga dapat memiliki perbuatan sempurna seperti Yesus.

Jadi untuk membuat orang lain memuliakan Tuhan, bukan hanya membuat orang lain mengakui bahwa Tuhan baik saja, tetapi harus menjadikan mereka anak-anak Allah yang melayani Tuhan dengan segenap hidup (1Kor. 6:19-20). Pada prinsipnya, dalam bab ini harus ditegaskan bahwa membuktikan kebenaran Allah dan Tuhan bukanlah dengan kekuatan-Nya yang bisa membuat mukjizat, tetapi perilaku orang percaya yang menjadi seperti Dia.