Menjadi Manusia Unggul
25 April 2017

Aspek lain untuk membangun gambar diri yang sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah adalah seseorang memiliki pikiran atau mental yang sehat, yang dibangun melalui pendidikan yang baik, baik formal (pendidikan umum, akademis) maupun informal, yaitu lingkungan dan keluarga. Pikiran yang tidak sehat tidak membuat seseorang mampu mengerti pikiran Tuhan atau kebenaran Firman Tuhan. Tuhan adalah Pribadi yang cerdas, hasil karya dan kebenaran-Nya juga lahir dari kecerdasan-Nya. Oleh sebab itu untuk memahami kecerdasan Tuhan, seseorang harus mengimbangi Tuhan dengan memiliki kecerdasan semaksimal mungkin. Hanya orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi yang dapat mengerti kebenaran-kebenaran-Nya.

Untuk menggali kebenaran Firman Tuhan dibutuhkan perangkat-perangkat, antara lain: logika yang diasah dengan baik, kemampuan memahami bahasa, lebih lengkap lagi kalau mampu memahami bahasa asli Alkitab (bahasa Ibrani dan Yunani). Logika, yaitu kemampuan berpikir atau pemahaman tentang penalaran yang berdasarkan logika deduktif maupun induktif, sangat efektif menangkap kebenaran Firman. Lebih lengkap lagi kalau seseorang dilengkapi sistematika berpikir yang membantu seseorang menemukan kesimpulan-kesimpulan dari kebenaran Alkitab secara induktif dan fakta-fakta empirisnya.

Seseorang yang menggunakan logika dengan baik terhindar dari manipulasi-manipulasi dalam emosinya yang dapat menciptakan pemalsuan-pemalsuan. Kenyataan inilah yang banyak terdapat dalam kegiatan keagamaan. Kalau di kalangan orang Kristen lebih banyak pada gereja aliran Pentakosta, Kharismatik dan sejenisnya. Dalam hal ini dibutuhkan pendidikan yang baik yang membiasakan seseorang memiliki nalar yang baik untuk menganalisa Alkitab. Tentu dalam hal ini nalar bukan segalanya, tetapi satu bagian yang sangat penting. Faktanya dalam kehidupan ini, negara atau bangsa yang tidak menggunakan logikanya atau rasionya dengan baik, selain miskin karena tidak menjadi negara yang maju, tetapi juga negara yang penuh konflik, kejahatan moral dalam gelanggang politik, diskiriminasi, ketidakadilan dan kebejatan moral lainnya. Hal ini sangat diperankan atau dipengaruhi oleh filosofi hidupnya, dan filosofi hidup sangat ditentukan oleh kepercayaan atau agama yang dianutnya. Keadaan suatu masyarakat dapat menjadi tolok ukur kebenaran kepercayaannya.

Di lapangan sering kita jumpai orang-orang yang kualitas hidupnya secara umum saja sudah rendah, tetapi mereka dengan alasan dipimpin Roh Kudus atau menerima karunia Roh Kudus mengajar dan membimbing orang lain yang kualitas umumnya bisa lebih baik. Di sini terjadi proses pembodohan. Mengapa hal ini terjadi? Sebab banyak orang berpikir bahwa kebaikan secara umum yang dimilikinya dalam kehidupan ini di mana tidak berkaitan dengan kegiatan gereja atau agama dianggap sebagai tidak bermutu. Padahal kebaikan secara umum juga bagian dari proses penyempurnaan untuk menjadi manusia unggul menurut Tuhan. Kalau secara umum seseorang sudah tidak baik atau tidak berkualitas, maka seseorang tidak akan mencapai keunggulan di hadapan Tuhan, yaitu memiliki gambar diri yang ideal menurut kehendak dan rancangan Allah.

Kehancuran kehidupan umat Tuhan dewasa ini disebabkan oleh karena umat dimentori oleh orang-orang yang sebenarnya belum memiliki kebaikan secara umum yang memadai. Mereka adalah orang-orang yang gagal dalam “market place”, kemudian melarikan diri dalam pelayanan gereja untuk memiliki kemudahan-kemudahan hidup. Biasanya orang-orang seperti ini menjadi “dukun-dukun dalam gereja”. Mereka tidak mengajarkan kebenaran kepada umat, tetapi “menjual jasa”. Hal ini mirip dengan praktik perdukunan dalam masyarakat. Banyak orang-orang berpendidikan tinggi yang memiliki kualitas yang baik datang kepada dukun-dukun yang pendidikan SMP-nya saja tidak lulus. Kelebihan para dukun yaitu dianggap memiliki kesaktian dan memiliki kedekatan dengan “sumber kuasa” yang dapat memberi solusi bagi masyarakat.

Manusia unggul menurut Tuhan adalah orang-orang yang mengembangkan semua potensi yang ada padanya. Di mana dalam kehidupan di tengah masyarakat pun memiliki keunggulan, sehingga dapat memberkati bangsa dan negara serta masyarakat luas. Itulah ibadah yang sejati. Ibadah kepada Tuhan adalah seluruh kegiatan hidup ini. Itulah sebabnya kita tidak boleh membedakan antara kegiatan rohani dengan kegiatan sehari-hari, seperti bekerja di kantor, rekreasi dengan keluarga, olah raga, makan, minum dan lain sebagainya.