Menjadi Anak Allah
16 September 2020

Play Audio Version

Kalimat “kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal,” maksudnya adalah di dalam kasih karunia ada kehidupan yang sesuai kehendak Allah, guna hidup kekal nanti di langit baru dan bumi yang baru. Kita tidak boleh merasa cukup hanya memiliki keyakinan terhadap kurban Kristus, kemudian yakin sudah memiliki kasih karunia serta merasa sudah dibenarkan (dianggap benar). Tetapi orang Kristen harus berjuang mengisi kasih karunia yang ia terima dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar; yaitu menghidupi kehidupan Yesus di dalam hidupnya. Itulah sebabnya dalam Roma 6:6 tertulis: “… agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Dan dalam Roma 6:11, 13 tertulis: “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. …Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

Kalau Paulus mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Rm. 6:18), itu bukan berarti bahwa secara otomatis seseorang bebas dari dosa, melainkan harus melalui perjuangan dengan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh kepada dosa. Itulah juga sebabnya di Roma 6:19 Paulus mengatakan: “…Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. Jika hal ini kita lalukan maka kita akan memeroleh “buah yang membawa kita kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

Dengan demikian, adalah sesuatu yang mutlak bahwa orang percaya harus hidup menurut Roh, artinya hidup dalam keberkenanan di hadapan Allah seperti “hidup Yesus.” Maka dalam Roma 8:6-7 Paulus menasihati jemaat sebagai berikut: “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Hidup menurut Roh atau dipimpin oleh Roh adalah kemutlakan, sebab hanya orang yang dipimpin Roh adalah anak-anak Allah. Dengan demikian, orang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Tidak mungkin Tuhan berjalan dan berdamai dengan orang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh-Nya.

Penjelasan di atas ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang yang hidup dalam daging atau tidak mengenakan hidup Yesus, tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah, sebab “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rm. 8:8). Dalam hal ini, kita bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang berutang, bukan kepada daging untuk hidup menurut daging, melainkan untuk hidup di dalam Roh, artinya harus hidup seperti hidup yang Yesus kenakan. Dengan demikian, panggilan kita kepada Allah sebagai Bapa menjadi sah atau benar, sebab mereka yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan layak memanggil Allah sebagai Bapa (Rm. 8:12-15). Dengan demikian, dari pihak Allah, Allah menyediakan sarana pendamaian

Hal tersebut sinkron dengan pernyataan Petrus dalam 1 Petrus 1:14-17 yang tertulis: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Ayat ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa orang yang menjadi anak-anak Allah harus mengerti perasaan Bapanya. Kalau tidak, maka Bapa tidak bisa bersekutu dengannya.

Meneguhkan pengertian terhadap kebenaran di atas ini, kita harus memerhatikan Roma 8:17 yaitu: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Ayat ini juga sangat jelas menunjukkan bahwa tidak semua orang Kristen adalah anak-anak Allah, tetapi hanya mereka yang menderita bersama-sama dengan Yesus. Orang percaya yang menderita, pasti orang percaya yang dewasa rohani. Jemaat Roma sudah mencapai kehidupan kedewasaan rohani seperti ini, sehingga mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang (Rm. 8:37).