Meninggalkan Segala Sesuatu
29 June 2020

Play Audio Version

Iman adalah tindakan seperti Abraham, yaitu menyerahkan segenap hidupnya untuk menuruti apa pun kehendak Allah di dalam hidupnya. Kalau kehidupan seseorang tidak menuruti kehendak Allah, ia belum bisa dikatakan beriman. Menuruti kehendak Allah bukan saja perbuatan baik karena melakukan hukum. Firman Tuhan mengatakan bahwa seseorang dibenarkan bukan karena perbuatan baik, maksudnya bukan karena perbuatan baik menurut hukum atau dengan melakukan hukum, melainkan karena iman atau penurutan terhadap kehendak Allah. Kalau seseorang belum hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berarti belum beriman. Standar menuruti kehendak Allah haruslah kehidupan Yesus. Oleh sebab itu, orang percaya harus berkerinduan kuat untuk menjadi seperti Yesus yang hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah.

Banyak orang Kristen yang tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau yang sama artinya belum melakukan kehendak Allah. Jangankan melakukan kehendak Allah, mengalami perjumpaan dengan Allah saja, mereka belum pernah. Mengalami perjumpaan dengan Allah adalah sesuatu yang benar-benar riil, karena Allah adalah Allah yang hidup. Orang yang melakukan kehendak Allah adalah orang yang menemukan rencana Allah di dalam hidupnya. Dalam hal ini, hidup setiap orang percaya memuat rencana Allah yang khusus. Setiap orang percaya harus menemukan rencana Allah tersebut dan memenuhinya. Inilah yang dimaksud Yesus dengan “menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).

Ini adalah hal yang paling penting dalam hidup ini, lebih penting dari studi, karier, menikah atau berkeluarga, dan lain sebagainya. Sebagai umat pilihan, mestinya hal melakukan kehendak Allah menjadi satu-satunya agenda hidup kita. Jika kita tidak berani menjadikan ini sebagai satu-satunya agenda hidup, berarti tidak percaya. Orang-orang seperti ini pasti tidak berani melepaskan segala sesuatu. Tidak berani melepaskan segala sesuatu berarti tidak pernah mengalami proses atau mekanisme pemuridan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Luk. 14:33). Tuhan tidak bisa memuridkan atau mengubah orang yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya. Ini berarti, ia tidak pernah memiliki hidup kekal. Hidup kekal berarti hidup yang berkualitas sejak di bumi. Apa yang dijelaskan ini paralel dengan penjelasan di atas, bahwa keselamatan dimulai sekarang, sejak hidup di bumi, bukan nanti setelah mati.

Dalam Yohanes 17:3 Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Hidup yang kekal adalah hidup yang berkualitas. Kalau seseorang memiliki hidup kekal, pasti kualitas hidupnya seperti Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu kalau seseorang mengenal (Yun. Ginosko) Allah, yaitu memiliki perjumpaan dengan Allah. Hal tersebut bisa terselenggara hanya melalui Yesus Kristus, yaitu melalui kurban-Nya di kayu salib, dan proses pendewasaan menjadi serupa dengan Yesus atau mengalami perubahan kodrat. Kalau Yesus berkata bahwa kita harus mengikut Dia, itu sama artinya dengan memiliki hidup yang berkualitas seperti diri-Nya.

Untuk proses pendewasaan sebagai murid Yesus, kita harus meninggalkan segala sesuatu, meninggalkan keterikatan dengan dunia ini. Harus selalu diingat, bahwa mengikut Yesus berarti harus melepaskan segala sesuatu guna mendapatkan Dia (Flp. 3:9-11). Tidak melepaskan semuanya dan menganggapnya “sampah,” berarti tidak dapat memperoleh Kristus. Tindakan barter ini adalah tindakan mutlak yang harus dilakukan. Orang yang tidak berani meninggalkan segala sesuatu berarti seperti orang kaya di Matius 19:16-26. Akhirnya, ia hanya menjadi orang beragama yang baik, yang tidak bercacat melakukan hukum, setia melakukan ibadah agamani, tetapi tidak pernah memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas.

Dalam hal ini, sangat jelas bahwa kekristenan adalah jalan yang sukar, bahkan dikatakan dalam Matius 19 adalah jalan yang mustahil. Tetapi, yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah (Mat. 19:23-26). Kata “mustahil” dalam teks aslinya adalah adunatos, kata kerjanya adalah adunateo (ἀδυνατέω), yang artinya juga powerless (tidak berdaya atau tidak ada kekuatan). Itulah sebabnya, Yesus berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk. 13:23-24). Inilah satu-satunya isi perjuangan orang yang dipanggil sebagai umat pilihan. Ibrani 12:1 menyebutnya sebagai perlombaan yang wajib. Kedatangan Yesus ke dunia membuat segala sesuatu tidak wajib, hanya mengikut Yesus bagi umat pilihan yang wajib. Kalau seseorang tidak mengalami perubahan pikiran yang memadai, berarti ia masih tetap hidup dalam kewajaran, yaitu berkeadaan seperti anak-anak dunia. Orang-orang seperti ini memiliki banyak agenda dalam hidupnya. Bagi mereka, kekristenan hanya sebagai agama yang menghiasi hidup atau bagian dari hidup, padahal mestinya kekristenan adalah seluruh hidup kita.