Meninggalkan Kesenangan Dunia
21 September 2020

Play Audio Version

Pada kenyataannya, sebagian besar orang Kristen telah tertawan oleh dunia ini dalam percintaan dunia sehingga tidak merindukan pulang ke tanah air (homeland). Hati mereka telah tertawan oleh kenikmatan hidup di bumi. Hal ini terjadi khususnya di dalam kehidupan mereka yang sukses dalam bisnis, karier, studi, keluarga, dan memiliki berbagai fasilitas hidup untuk dinikmati. Sejatinya, mereka yang diizinkan Tuhan memiliki keberhasilan seperti ini harus sadar atau siuman agar keberhasilan hidup duniawinya tidak membinasakan.

Dalam hal ini, sebenarnya kita sudah bisa mengukur diri sendiri, apakah kita layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan atau tidak. Orang yang memiliki kerinduan bertemu dengan Tuhan dan menikmati Kerajaan Surga adalah orang yang layak dan pantas menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Orang yang tidak merindukan Kerajaan Surga adalah orang yang sedang berkhianat kepada Tuhan, sebab hatinya melekat dengan dunia ini. Ini berarti menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar. Ia tidak memiliki isi dan maksud perdamaian dengan Allah. Firman Tuhan mengatakan orang yang bersahabat dengan dunia ini adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).

Bagi mereka yang memiliki atau mengalami kegagalan hidup dalam bisnis, karier, studi, keluarga, dan tidak memiliki berbagai fasilitas hidup untuk dinikmati, hendaknya jangan merasa gagal. Kenyataan yang tidak bisa dibantah, ternyata orang-orang seperti ini adalah yang berpotensi besar mengalami “patah hati” terhadap dunia. Orang-orang yang patah hati terhadap dunia sangat berpotensi memindahkan hati ke Kerajaan Surga. Namun demikian, hendaknya kita tidak harus mengalami patah hati terhadap dunia baru memindahkan hati ke Kerajaan Surga. Orang yang tidak memindahkan hatinya ke Kerajaan Surga, tidak akan pernah bisa berdamai dengan Allah.

Lazarus yang dikisahkan dalam Lukas 16:19-31 bisa termasuk orang yang patah hati terhadap dunia, yaitu orang yang tidak berkesempatan menikmati kenyamanan hidup di bumi. Terhadap orang-orang seperti ini, Tuhan menaruh belas kasihan. Itulah sebabnya, dalam Lukas 16:25, Abraham berkata kepada orang kaya: “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” Hal ini seirama dengan apa yang dinyatakan pemazmur dalam Mazmur 34:18, yaitu: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Keadaan dimana seseorang patah hati terhadap dunia membuat dirinya akan lebih mudah untuk meninggalkan dunia ini dengan segala kesenangannya.

Orang yang bisa menghayati bahwa dirinya warga negara surga dapat memahami bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya yang benar bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Kalau orang Kristen tidak menghayati keberadaannya sebagai bukan berasal dari atas, berarti belum menjadi orang percaya yang benar. Bertahun-tahun kita hidup sebagai orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, atau kita bukan bagian dari dunia ini.

Untuk dapat menghayati bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, kita harus memindahkan hati ke surga (Mat. 6:21). Memindahkan hati ke surga dimulai dari tekad kita untuk tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Bersedia tidak memiliki kesenangan dari kenikmatan daging; yaitu seks dan kuliner, serta kenyamanan fisik lainnya. Petrus dalam suratnya menasihati jemaat: “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1Ptr. 2:11). Kita sendiri yang menjauhkan diri dari keinginan-keinginan duniawi. Tuhan tidak memaksa kita. Kita sendiri yang harus berniat kuat untuk itu.

Orang yang memindahkan hati ke surga harus rela tidak bermilik. Kalaupun kita memiliki sesuatu, hal tersebut hanya untuk menunjang hidup, guna kita bisa menjalani hidup dalam rangka bertumbuh semakin sempurna dan melayani Tuhan. Barang-barang dunia bukan untuk nilai diri atau prestise atau kebanggaan. Orang percaya harus sudah tidak lagi mencari kehormatan dan sanjungan dari manusia, tetapi mencari kehormatan di dalam Kerajaan Surga. Orang yang mencari kehormatan bagi dirinya, pasti berkhianat kepada Allah. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Orang yang memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga dapat menghayati bahwa dirinya berasal dari atas. Sebaliknya, orang yang tidak memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga tidak akan pernah dapat menghayati bahwa dirinya berasal dari atas. Orang Kristen seperti ini tidak mungkin dapat mengikut jejak Yesus yang meninggalkan kemuliaan dan mengosongkan diri hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Ini berarti, ia pasti hidup dalam kewajaran anak dunia. Dalam hal ini, orang percaya harus memilih apakah hidup dalam kewajaran anak dunia atau kewajaran hidup anak Allah seperti yang dikenakan oleh Yesus.