Meninggalkan Dunia
29 December 2020

Play Audio Version

Orang yang mau hidup di hadirat Allah harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia adalah proses yang sangat berat, sebab kita telah terbiasa hidup dalam keterikatan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Meninggalkan dunia adalah kemutlakan yang tidak boleh dihindari oleh orang percaya, karena inilah harga yang harus dibayar oleh mereka yang mau memperoleh Kristus di dalam hidupnya. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus menyaksikan kehidupan imannya demikian: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Inilah langkah barter yang harus dilakukan setiap orang percaya, sebab seseorang tidak akan dapat memiliki Kristus—artinya memiliki berkat keselamatan—tanpa “melepaskan segala sesuatu” atau meninggalkan dunia. Sesungguhnya, inilah kekristenan yang sejati yang diajarkan oleh Yesus bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Pelepasan atau kehilangan “semuanya itu” merupakan sikap yang benar untuk dapat hidup di hadirat Allah. Ciri yang paling nyata dari orang yang meninggalkan dunia adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.” Orang-orang seperti ini bukan berarti tidak memiliki keinginan atau kehendak sama sekali selain menyukakan hati Bapa. Manusia diciptakan dengan keinginan atau kehendak, dan Tuhan menghendaki agar manusia memainkan kehendak tersebut. Manusia bukan robot yang tidak memiliki keinginan sendiri. Tentu saja orang percaya juga harus memainkan kehendak-Nya, tetapi keinginan yang ada di dalam hatinya haruslah keinginan melakukan kehendak Bapa. Orang percaya harus membuka hatinya hanya untuk menerima perintah atau komando dari Bapa di surga, dan tidak membuka akses untuk pihak mana pun kecuali untuk Tuhan. Kalau keinginan seseorang hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka hatinya lebih terbuka terhadap kebenaran Tuhan. Ruangan yang disediakan bagi kebenaran Tuhan dalam jiwanya lebih luas, dan memang seharusnya orang percaya tidak memberi ruangan sekecil apa pun terhadap percintaan dunia. Sesungguhnya, tujuan hidup orang percaya sebagai anak-anak Allah hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup berarti harus meninggalkan dunia ini. Untuk ini, kebebasan masing-masing individu memegang peranan penting. Apakah seseorang memberi ruangan bagi dunia atau bagi Tuhan, sepenuhnya tergantung kepada individu. Dalam hal ini, Tuhan tidak memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya bagi Dia. Sebaliknya, kuasa gelap juga tidak bisa memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya baginya. Hal ini merupakan tatanan yang bisa menempatkan setiap individu pada pengadilan Tuhan nanti. Jadi, kesediaan meninggalkan dunia adalah persiapan terbaik atau satu-satunya untuk menghadap pengadilan Tuhan nanti. Sebenarnya, banyak orang Kristen tidak memedulikan hal-hal rohani, walaupun rajin ke gereja. Mereka lebih mempersoalkan perkara-perkara duniawi. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang bersikap tidak pantas terhadap Tuhan; memandang rendah Tuhan dan tidak menghormati-Nya. Walaupun mereka aktivis gereja, bahkan rohaniwan, tetapi mereka tidak bersikap secara benar di hadapan Allah dalam hidup sehari-hari. Sebenarnya, percuma mereka memuji dan menyembah Allah di gereja. Mereka hanya ingin hidup seperti orang lain hidup, yaitu menikmati dunia seakan-akan dunia ini hanya satu-satunya kesempatan menikmati hidup. Mereka tidak bersedia meninggalkan dunia, sebab mereka telah nyaman dengan dunia yang menjadi kerajaannya. Tidak sedikit orang-orang baik dalam gereja—bahkan bisa dianggap sebagai rohani—belum meninggalkan dunia ini. Mereka bisa melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka masih hidup dalam percintaan dunia. Tuhan akan memperkarakan spirit atau gairah apa yang ada pada setiap individu. Setiap orang akan dibawa kepada dua kemungkinan, apakah gairahnya makin kuat ke arah Tuhan atau ke dunia. Spirit atau gairah dunia membawa seseorang kepada kebinasaan. Spirit hidup seseorang tidak bisa dibangun dalam satu hari, tetapi harus dibangun dalam perjalanan hidup yang panjang sejak kanak-kanak. Kalau seseorang selalu mendapat masukan dari dunia ini, maka warna jiwanya sama seperti dunia ini. Tetapi kalau seseorang selalu mendengar kebenaran Firman Allah, maka warna jiwanya akan sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dari gairah tersebut akan terbukti, seseorang mengarahkan hidupnya kepada siapa. Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan hidupnya kepada dunia. Ini berarti menjadikan diri mereka sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Orang seperti ini tidak hidup di hadirat Allah.