Menikmati Damai Sejahtera Allah
06 October 2019

Kehidupan orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah memiliki sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus, sesuai dengan Roma 14:17. Inilah damai sejahtera yang tidak dimiliki oleh dunia ini, dan tidak dikenal oleh manusia pada umumnya. Damai sejahtera ini hanya dikenal oleh orang percaya yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, sukacita orang percaya tidak boleh ditopang atau ditentukan oleh kekayaan dunia dan segala hiburannya, sebab orang percaya dapat memiliki damai sejahtera yang ditopang atau ditentukan oleh Allah sendiri dalam kehadiran Kerajaan-Nya. Inilah damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Tuhan berikan, yang tidak sama seperti yang diberikan dunia (Yoh. 14:27). Tuhan menghendaki agar orang percaya membangun Kerajaan Allah, yang sama dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk mendatangkan atau menghadirkan suasana Kerajaan Allah dalam hidup ini. Suasana Kerajaan Allah adalah jiwa yang dikuasai oleh kerinduan terhadap perkara-perkara surgawi, yaitu penghargaan kepada nilai-nilai kekekalan. Dalam hal ini, hidup dalam suasana Kerajaan Allah dapat menghindarkan orang percaya dari belenggu percintaan dunia yang membinasakan.

Orang Kristen yang tidak memiliki dan menikmati suasana Kerajaan Allah memfokuskan hidup mereka pada hal-hal dunia, sehingga mereka terbelenggu dalam percintaan dunia. Belenggu tersebut akan semakin kuat sampai tidak dapat terlepas dari belenggu tersebut. Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19-20). Maksud ayat ini adalah bahwa seseorang harus melatih diri untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Terikat hal duniawi di sini maksudnya adalah bahwa penghargaan orang percaya tidak ditujukan kepada kekayaan dunia dan segala hiburannya, karena kekayaan dunia membuat seseorang tidak menghargai nilai-nilai kekekalan. Tuhan Yesus mengatakan, “… sebab di mana ada hartamu di situ hatimu berada” (Mat. 6:21).

Orang percaya harus menyadari bahwa Bapa surgawi memiliki Kerajaan yang permanen di langit baru dan bumi baru. Oleh sebab itu, dalam hidup ini orang percaya harus hanya mencari harta yang permanen di dunia yang akan datang. Dalam Alkitab ditunjukkan bagaimana Iblis menawarkan harta yang tidak permanen kepada Yesus (Luk. 4:5-8), tetapi Yesus menolak tawaran tersebut. Orang percaya tidak boleh terkecoh oleh tawaran kuasa kegelapan untuk memiliki kekayaan dunia ini dan segala hiburannya. Memang untuk sementara waktu kekayaan dunia ini dan hiburannya bisa memberikan sukacita atau semacam kegembiraan, tetapi hal tersebut selain tidak abadi, dan juga menggiring manusia jauh dari persekutuan dengan Allah. Memang hanya dengan cara demikianlah kuasa kegelapan menarik manusia kepada dirinya untuk dapat dibinasakan.

Yesus menawarkan kepada orang percaya harta yang permanen di dalam Kerajaan Allah. Orang percaya harus memercayai Tuhan di atas segalanya. Juga memercayai bahwa perkataan-Nya benar, orang percaya harus mencari yang memiliki nilai kekal atau permanen. Untuk ini, mata pengertian seseorang harus dibukakan untuk melihat nilai kekekalan Kerajaan Tuhan. Oleh karenanya, dalam Matius 6:22 Yesus berkata, “Mata adalah pelita jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Maksud perkataan Yesus di sini adalah kalau seseorang tidak memiliki pengertian yang benar tentang kehidupan atau kebenaran dalam kehidupan ini, maka jalan hidupnya pasti sesat atau menyimpang dari kebenaran. Orang seperti ini tidak akan mengutamakan perkara-perkata surgawi.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Paulus berkata, “… carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. … Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan …” (Kol. 3:1-7). Pemerintahan Kerajaan Tuhan tidak akan terselenggara dalam hidup orang percaya hari ini kalau orang percaya masih dikuasai pikiran-pikiran duniawi. Pikiran duniawi adalah sarana Iblis atau pangkalan Iblis untuk menguasai kehidupan seseorang. Inilah yang harus terus diusahakan oleh orang percaya untuk dirobohkan. Tetapi banyak orang masih berkeras dan tidak mau bertobat dan tetap hidup dalam belenggu Iblis. Ini berarti ia mendatangkan atau menghadirkan kerajaan kegelapan. Orang percaya harus selalu mengingat bahwa persahabatan dengan dunia menjadikan diri seseorang musuh Allah (Yak. 4:4). Kalau pemerintahan Kerajaan Allah tidak terselenggara dalam hidup seseorang sejak di bumi hari ini, maka ia tidak akan mengalami pemerintahan Allah di kekekalan nanti. Kalau seseorang tidak mengikat persahabatan dengan Tuhan hari ini, maka tidak akan mengalami persahabatan dengan Tuhan selamanya.