Menguduskan Tempat Kerja
11 September 2019

Oleh karena tempat di mana seseorang bekerja adalah tempat pelayanan bagi Tuhan, maka kerja harus dibersihkan dari motif-motif yang salah; yang dapat merusak arti, nilai, dan tujuan kerja. Seperti yang kita tahu bahwa akibat dosa maka motif kerja manusia telah dirusak dan dibinasakan Iblis; tetapi oleh kasih karunia Tuhan Yesus, maka kita diperkenankan untuk memiliki kembali motif kerja yang benar (ibadah bagi Tuhan – Rm. 12:2) yang secara langsung akan menghapus segala motif-motif yang keliru. Pada prinsipnya, motif kerja yang benar adalah kerja bagi Tuhan (1Kor. 10:31; 2Kor. 5:14-15; Flp. 1:21). Bila motif kerja demikian, maka kita akan terhindar dari motif-motif kerja yang fasik (tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya).

Motif kerja yang salah selama ini mendominasi banyak manusia, antara lain: gila hormat, keangkuhan, dan ketakutan. Kerja dengan motif ini berarti bekerja dengan sikap hati yang penuh kekhawatiran dan ketamakan, mamonisme, hasrat untuk menjadi kaya (1Tim. 5:6-10). Dengan motivasi yang benar dalam kerja -yaitu hidup “bagi Tuhan”- maka seseorang dapat bekerja dengan sikap hati yang penuh kasih terhadap Allah dan sesama. Inilah kerja dengan hati percaya tanpa kekhawatiran, ketamakan, atau motif salah lainnya.

Pada umumnya orang masih memisahkan antara ibadah kepada Tuhan dan kehidupan setiap hari. Mereka beranggapan bahwa ibadah kepada Tuhan adalah bagian dari hidup ini. Itulah sebabnya mereka membedakan antara kegiatan yang bersangkut paut dengan Tuhan -seperti berdoa, menyanyi lagu rohani, ke gereja- dengan kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan Tuhan -seperti bekerja di kantor, rekreasi dengan keluarga, olah raga, makan, minum dll-. Pemisahan atau pembedaan ini biasa disebut juga antara yang rohani dan duniawi. Bila masih memiliki anggapan atau sikap berpikir seperti ini, berarti belum mengerti kebenaran. Dunia ini diciptakan oleh Tuhan sendiri, bukan oleh oknum siapapun dan manapun.

Hendaknya orang percaya tidak sesat seperti aliran agama-agama tertentu yang memandang dunia ini jahat. Dalam Kejadian 1:28-29, Tuhan berfirman agar kita mengelola dunia ini. Perintah untuk mengelola dunia ini sebagai penyelenggaraan kehidupan di bumi ini merupakan perintah kudus yang rohani dan tidak boleh diidentifikasi sebagai duniawi. Itulah sebabnya kita tidak boleh membedakan profesi duniawi dan rohani diukur dari jenis pekerjaan itu semata-mata. Karenanya pula kita tidak boleh merasa kurang kudus hanya karena kita memiliki profesi bukan sebagai pendeta atau tidak memiliki kegiatan di gereja.

Dalam Roma 12:1-2 Paulus menjelaskan arti ibadah, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan. Ini artinya membudidayakan tubuh untuk kepentingan kehidupan sesuai dengan maksud Tuhan dan tidak menggunakan tubuh dalam bentuk perbuatan yang melanggar Firman Tuhan. Untuk ini merupakan kewajiban agar anak-anak Tuhan meningkatkan kualitas kemampuan kerja dalam membudidayakan semua potensi yang ada di dalam dirinya dan belajar kebenaran Alkitab untuk mengerti bagaimana menggunakan tubuh sesuai dengan Firman Tuhan.

Menjadi kesalahan fatal yang harus diluruskan yaitu konsep berbakti yang selama ini dimengerti oleh orang Kristen pada umumnya. Pada umumnya yang namanya berbakti kepada Tuhan selalu dikaitkan dengan kegiatan agama didalam lingkungan gereja. Kata berbakti dalam Alkitab Bahasa Indonesia dapat ditemukan dalam: Ulangan 13:4; Yosua 22:5; Matius 4:10; Lukas 4:8. Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan kata: Abad(עָבַד) yang diterjemahkan to work; serve; labor; bekerja, melayani. Kata ini memiliki padanan dengan kata latreuo(λατρεύω) artinya minister, to serve. Kata ini juga dapat kita temukan dalam Roma 12:1.

Dalam hal ini harus dimengerti bahwa yang dimaksud berbakti bukan hanya menyangkut kegiatan di lingkungan gereja, tetapi meliputi seluruh gerak hidup kita. Perintah pertama Allah agar manusia berbakti kepada Tuhan dapat ditemukan dalam Kejadian 1:28; 2:15. Pengelolaan bumi atau menyelenggarakan kehidupan untuk manusia itu sendiri dan lingkungannya adalah sebuah kebaktian. Selanjutnya perintah Tuhan kepada Nuh untuk membuat bahtera juga merupakan perintah untuk berbakti (Kej. 6:14). Dari hal ini dapat ditemukan kebenaran bahwa melakukan kehendak Tuhan dalam melaksanakan maksud Tuhan menciptakan manusia -yaitu untuk bekerja bagi maksud Tuhan- adalah ibadah. Maksud Tuhan ialah agar manusia dapat mengelola bumi ini bagi kehidupannya dan lingkungannya. Jadi bekerja adalah sebuah kebaktian atau ibadah.