Mengonsumsi Buah Pohon Kehidupan
18 November 2020

Play Audio Version

Kesalahan fatal Hawa adalah ia mengatakan bahwa Allah melarang mereka makan buah yang ada di tengah taman itu. Padahal, di tengah taman tersebut, selain ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, juga ada pohon kehidupan. Dalam Kejadian 2:9 jelas tertulis: “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Seharusnya Hawa berkata bahwa mereka boleh makan semua buah pohon di taman tersebut, termasuk mengonsumsi buah dari pohon kehidupan, kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat saja. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa mereka tidak mengkonsumsi buah dari pohon kehidupan secara memadai, atau juga bisa menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh menghargai pohon kehidupan yang mestinya buahnya mereka konsumsi. Jawaban yang sedikit meleset atau bisa dikatakan tidak memuat pesan secara tepat.

Dalam Kejadian 2:9 tertulis: “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Dari catatan tersebut, dapat diperoleh fakta bahwa dalam Taman Eden terdapat 3 jenis buah, yaitu: Pertama, buah dari berbagai pohon yang dimakan untuk jasmani. Kedua, adalah pohon kehidupan untuk konsumsi jiwa. Ketiga adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang bisa dikonsumsi jiwa. Dalam teks aslinya, antara buah yang pertama dengan buah yang kedua serta ketiga dipisahkan oleh kata “dan,” yang dalam bahasa Ibrani waw (וְ), yang menunjukkan bahwa buah yang pertama adalah buah yang berbeda jenisnya dengan buah yang kedua dan ketiga.

Terkait dengan hal ini, ada hal yang patut mendapat perhatian kita, bahwa semua pohon yang baik untuk dimakan (buah yang pertama) ditumbuhkan dari tanah. Penulis Kitab Kejadian tidak menggunakan kata “bumi,” yang dalam bahasa Ibrani erets (אֶרֶץ), tetapi menggunakan kata “tanah” yang dalam bahasa Ibraninya adalah adamah (אֲדָמָה). Kata adamah juga digunakan untuk menjadi bahan tubuh manusia (Kej. 2:7). Kata adamah lebih tepat diterjemahkan ground atau dust (tanah atau debu) atau soil (tanah liat). Hal ini hendak menegaskan bahwa untuk makanan fisik, menggunakan adamah. Hal ini sinkron dengan tubuh manusia yang dibuat dari debu tanah; dalam bahasa Ibraninya apar min ha adamah (עָפָר֙ מִן־הָ֣אֲדָמָ֔ה). Buah yang tumbuh dari adamah adalah buah yang dikonsumsi untuk tubuh manusia. Tetapi buah dari pohon kehidupan dan pengetahuan yang baik dan jahat bukanlah buah yang dikonsumsi untuk fisik, melainkan untuk dikonsumsi jiwa atau pikiran. Buah ini sebenarnya sebuah figuratif yang menunjuk pengaruh jahat Lusifer yang jatuh. Buah tentang pengetahuan yang baik dan jahat adalah suara yang bukan dari Allah.

Dalam Kitab Kejadian 2:16, Allah berfirman: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas.” Ini berarti bahwa Adam dan Hawa harus makan, baik makanan jasmani—yaitu buah-buahan untuk fisik mereka—maupun buah dari pohon kehidupan untuk jiwa atau pikiran mereka; sebagai makanan rohani. Sebagaimana tubuh jasmani membutuhkan makanan buah-buahan secara harafiah, demikian pula dengan manusia rohani atau batiniah membutuhkan makanan rohani pula, yaitu kebenaran Firman Tuhan. Di dalam Injil Matius 4:4 Yesus berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Harus diingat, bahwa sejak manusia diciptakan, manusia bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga masuk makhluk rohani; artinya manusia bukan saja membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani. Ini adalah tatanan semula, yang tidak pernah akan diubah sampai selama-lamanya.

Kisah Adam dan Hawa harus dipahami secara benar, dewasa, dan cerdas. Kisah Adam dan Hawa bukanlah dongeng yang berunsur mitos dalam pengertian umum. Kalau makan buah secara harfiah membuat pikiran terbuka, itu berarti sebuah mitos. Bagaimana mungkin makan buah mengakibatkan pikirannya terbuka (Kej. 3:7)? Logikanya adalah saat memakan buah, tentu perut yang menjadi kenyang. Dalam hal ini, buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat sebenarnya adalah figuratif (Ing. the tree of knowledge of good and evil; Ibr. Ve’ets hadaath tov wora – וְעֵ֕ץ הַדַּ֖עַת ט֥וֹב וָרָֽע׃). Juga pohon kehidupan (Ing. the tree of life; Ibr. ve’ets – hakhayim; ועֵ֤ץ הַֽחַיִּים). Demikianlah bahwa dua buah pohon yang ada di tengah taman, yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat adalah untuk konsumsi jiwa. Manusia diperhadapkan pada pilihan, apakah mengisi pikirannya dengan kebenaran sehingga bisa mengerti kehendak Allah dengan sempurna, atau mengisi pikirannya dengan filosofi yang tidak berstandar kebenaran Allah yang sempurna sehingga memiliki pengertian (understanding) yang mengakibatkan manusia tidak bisa mencapai kesucian Allah.8