Mengikuti Perlombaan
23 August 2018

Betapa mahal harga jiwa untuk memperoleh keselamatan yang dibayarkan Putra Tunggal Bapa bagi kita. Harganya adalah Diri Tuhan Yesus sendiri. Harga yang tidak pernah dapat kita mengerti. Ketika Yesus membayar hutang kita, itu berarti Diatelah memikul semua hukuman yang seharusnya kita tanggung. Kita dibebaskan dari semua hukuman akibat dosa-dosa kita. Tuhan Yesus membawa kita kepada Bapa untuk menjadi anak-anak-Nya. Bapa tidak mungkin menolak kita, sebab Bapa mengasihi Putra Tunggal-Nya, dan tidak akan berkhianat kepada-Nya. Bapa menyambut kita sebagai anak-Nya dan sungguh-sungguh mengasihi kita. Tetapi keadaan kita masih belum bisa bersekutu secara harmoni dengan Bapa. Kita masih berkeadaan tidak layak menjadi anak Bapa. Secara hukum Bapa pasti menerima kita sebagai anak-Nya, tetapi dalam kenyataan berkenaan dengan keadaan kita yang telah rusak, kita masih belum layak bagi-Nya. Untuk itu Bapa harus mendidik kita, supaya kita terus menerus mengalami perubahan, agar kita menjadi umat dan anak yang layak bagi-Nya.

Sekarang, yang menjadi tanggung jawab kita adalah menerima didikan-Nya, agar kita menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Inilah yang Tuhan Yesus katakan kepada kita, sebelum kembali ke tempat dari mana Ia berasal, bahwa kita harus menjadi murid-Nya. Menjadi murid-Nya artinya belajar hidup seperti cara hidup yang telah dijalani-Nya. Hal ini harus menjadi satu-satunya isi dan tujuan hidup kita. Tidak boleh ada yang lebih menarik dalam hidup kita selain hal ini. Kita tentu tahu, Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa kita harus melepaskan segala sesuatu barulah dapat menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Maksudnya, kalau kita bersedia meninggalkan keterikatan dengan segala hal di dunia ini, selain terikat dengan Allah Bapa dan Anak, barulah kita dapat diubah.

Untuk itu Bapa menaruh Roh-Nya di dalam kita sebagai materai, maksudnya sebagai tanda bahwa kita milik Bapa dan harus mengikuti perlombaan yang wajib semua orang percaya ikuti. Perlombaan itu adalah berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dengan hal ini, kita berusaha untuk memiliki iman yang sempurna, artinya kita bisa menghormati Bapa sebagai Bapa kita, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hal ini sama dengan berkeadaan sebagaimana mestinya seorang anak bagi Bapa di surga. Ini adalah perlombaan satu-satunya yang paling terhormat dan agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Perlombaan ini telah diikuti oleh Adam manusia pertama, bagaimana seharusnya ia menjadi manusia yang menghormati Elohim Yahweh dengan menuruti segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Ternyata Adam gagal menjadi anak bagi Bapa, dan hal ini menyedihkan hati-Nya. Kegagalan Adam adalah kegagalan semua manusia keturunannya. Hanya satu cara untuk menyelamatkan manusia, Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya. Putra Tunggal-Nya menjadi manusia dan berhasil berkeadaan sebagai manusia yang layak sebagai Anak Bapa. Hal itu menyenangkan hati Bapa. Itulah sebabnya Bapa menyatakan bahwa Bapa berkenan kepada Yesus.

Kita harus mengerti dan bersedia mengikuti perlombaan memiliki iman yang sempurna seperti Yesus, yaitu ketaatan dan penghormatan-Nya kepada Bapa. Perjuangan dalam perlombaan itu telah dilakukan oleh Yesus. Perlombaan itu dimaksudkan agar kita dapat dikembalikan menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa oranag percaya harus mengikut Dia. Mengikut Dia tidaklah cukup menjadi orang Kristen seperti yang dipahami dan dilakukan banyak orang Kristen saat ini. Mengikut Dia berarti menjadi manusia yang memiliki pola hidup sama seperti kehidupan yang telah dijalani oleh Yesus. Kalau kita hanya menjadi orang Kristen, berarti belum mengikut Dia dengan benar. Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan hal ini, agar kita tidak sampai ditolak ketika mau masuk ke dalam Kerajaan Surga, sebab tidak melakukan kehendak Bapa

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa sudah pergi ke gereja dan mengaku Kristen berarti sudah menjadi anak Allah. Manusia yang disebut sebagai anak Allah adalah orang yang memiliki kodrat seperti DiriAllah. Kodrat seperti ini telah dibangun oleh Putra Tunggal Bapa pada waktu menjadi manusia. Yesus dilahirkan dengan keadaan melepaskan semua keberadaan-Nya sebagai Allah. Dalam segala hal disamakan dengan manusia. Kita harus memperhatikan, bagaimana Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya, sampai Ia mencapai kesempurnaan. Setelah Ia mencapai kesempurnaan, maka bagi kita -selain Yesus membayar harga atau biaya agar orang percaya dapat mengikuti perlombaan ini- Ia memberi teladan bagaimana kita bisa menang seperti Dia telah menang.