Menghujat Roh Kudus
23 January 2017

Mereka yang memercayai adanya api penyucian juga melandaskan pandangannya atas apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 12:32. Di dalam ayat tersebut Alkitab menunjukkan adanya pengampunan dosa di dunia yang akan datang: Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak. Ayat ini oleh mereka diartikan sebagai menunjuk adanya pengampunan di dunia yang akan datang, dimana hal ini disamakan dengan adanya penyucian atau pemurnian di api purgatori. Untuk memperdalam makna ayat Matius 12:32, perlu kita membahas dua pokok pikiran penting yaitu hal menghujat Roh Kudus, sebab kata menentang Roh Kudus sama dengan menghujat Roh Kudus. Selanjutnya kita perlu membahas mengenai makna pengampunan.

Kata menghujat dalam teks bahasa Yunani adalah blasphemia, kata ini bisa berarti defamation (an attack on samebody’s good name, character or reputation ; menyerang nama baik, reputasi seseorang). Arti yang lain adalah vilification (malign somebody: to make malicious and abusive statements about something). Kata vilification sendiri berasal dari bahasa Latin vilificare, yang artinya tidak menganggap berharga atau meremehkan sesuatu. Kata blasphemia ini dalam teks bahasa Ibrani sejajar dengan kata barakh dan gadhaph, yang artinya mengucapkan kata-kata atau memberi pernyataan yang melecehkan dan merendahkan seseorang, dalam hal ini biasanya digunakan untuk hubungan manusia dan Allah.

Dalam pengertian yang sempit kata menghujat Roh Kudus artinya mengucapkan kata-kata yang merendahkan atau melecehkan Tuhan atau Roh Kudus, tetapi dalam arti yang luas menghujat Roh Kudus artinya tidak menerima karya Roh Kudus secara berulang-ulang, sengaja dan terus menerus sehingga Roh Kudus tidak lagi berbicara kepada orang tersebut dan orang tersebut mengeraskan hati untuk tidak lagi menyambut karya Roh Kudus. Dengan demikian menghujat Roh Kudus tidak hanya menunjuk kepada suatu perbuatan salah atau dosa yang dilakukan seseorang, tetapi lebih menunjuk kepada suatu stadium atau tingkatan di mana seseorang oleh karena selalu menolak karya Roh Kudus (tidak mendengar teguran dan peringatan-Nya), maka ia tidak lagi memiliki kepekaan menangkap teguran Tuhan dan tidak lagi memiliki hasrat atau niat untuk bertobat.

Roh Kudus adalah wakil Tuhan yang bekerja dalam diri seseorang, jadi kalau seseorang sudah menolak suara-Nya, maka tidak ada lagi wakil Tuhan dalam diri manusia yang menuntunnya kepada kebenaran. Dalam hal ini kita mengerti mengapa dalam Lukas 12:10 Tuhan Yesus berkata: Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Seseorang masih bisa melawan Yesus (Anak manusia), tetapi Allah masih memberi kesempatan ia untuk bertobat, sebab Roh-Nya masih ditaruh dalam diri orang itu. Hal ini terbukti dalam peristiwa di kota Yerusalem ketika orang-orang menghujat Yesus dan menyalibkan-Nya, tetapi tentu atau logis kalau di antara mereka akhirnya bertobat pada hari Pentakosta. Zaman sekarang pun dapat kita temui orang-orang mantan agama lain yang tadinya melawan dan menghujat Yesus, tetapi akhirnya oleh pekerjaan Roh Kudus bertobat dan berbalik kepada Tuhan menjadi orang percaya.

Tuhan dalam kesabaran-Nya selalu menuntun umat-Nya, walau umat-Nya sering mengecewakan-Nya. Roh Kudus selalu berbicara kepada seseorang kalau orang tersebut berbuat suatu kekeliruan atau dosa. Tahap pertama seseorang sebelum menghujat Roh Kudus adalah mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30). Kapan hal ini terjadi? Kalau seorang anak Tuhan hidup dalam dosa dan tidak mau mendengar suara teguran Tuhan. Dosa yang dilakukan anak manusia akan pasti mendukakan hati Allah (Kej. 6:6; Yes. 63:10). Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk menyenangkan hati-Nya dengan melakukan kehendak Bapa. Tahap kedua yaitu memadamkan Roh Kudus (1Tes. 5:19). Dalam tingkatan ini Roh Kudus tidak lagi berbicara kepada seseorang, karena orang itu tidak lagi mendengar suara-Nya. Mereka menganggap remeh Roh Kudus dan karya-Nya. Mereka yang disebut telah memadamkan Roh Kudus adalah mereka yang telah menutup hati nuraninya mendengar suara Roh Kudus. Akhirnya yang mereka dengar adalah suara diri mereka sendiri. Tahap terakhir, bila tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat berarti ia menghujat Roh Kudus.