Mengenali Keadaan yang Sesungguhnya
20 February 2021

Play Audio

Satu hal yang harus menjadi pergumulan terbesar kita setiap hari adalah mengenali keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan Tuhan. Dalam kalimat lain, orang biasa mengatakan “mengenal diri sendiri.” Seseorang yang memahami keberadaan dirinya akan melakukan tindakan konkret untuk memperbaiki keadaannya. Namun, jika seseorang tidak mengenal keberadaan dirinya dan memandang bahwa ia baik-baik saja, maksud keselamatan dalam Tuhan Yesus tidak dapat tercapai. Untuk itulah penting untuk mengetahui kebenaran tentang mengenali diri sendiri sebagai orang yang hidup dalam pengampunan Tuhan.

Pada Matius 21:31 tertulis, “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal, akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.’” Kalimat ini merupakan kalimat kontroversial, sebab sangat bertentangan dengan pandangan orang-orang beragama pada masa itu. Dalam konsep mereka, pemungut cukai dan perempuan sundal adalah golongan orang yang tidak akan diterima dalam Kerajaan Allah karena dosa-dosa mereka. Sedangkan para rohaniwan seperti orang Farisi dan ahli Taurat akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah. Namun, ternyata Tuhan Yesus membalikkan logika ini dengan menyatakan bahwa pemungut cukai dan perempuan sundal yang mewakili kalangan orang berdosa akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah dibanding dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Sesungguhnya, hal ini tidak menunjukkan bahwa orang berdosa lebih mudah masuk surga ketimbang orang yang tidak memiliki label sebagai orang berdosa. Perkataan ini hendak menunjuk pada sikap hati seseorang yang merasa diri perlu berubah di hadapan Allah. Pemungut cukai dan perempuan berdosa merasa dirinya berdosa dan mau menyelesaikannya di hadapan Allah dengan bertobat. Mereka mengenali dosa mereka atau keadaan mereka yang sesungguhnya di hadapan Allah, maka Tuhan bergaul dan menerima mereka. Sedangkan terhadap ahli Taurat dan orang Farisi, Tuhan sering kali mengecam mereka karena kemunafikannya. Diri mereka penuh dengan kejahatan, namun merasa tidak memiliki kejahatan yang harus diselesaikan.

Orang percaya harus mengenali keadaan diri yang sesungguhnya di hadapan Allah. Jabatan gerejawi seperti pendeta, aktivis, majelis, penginjil atau hamba Tuhan sering kali membuat orang percaya menjadi lengah, bahkan lupa dengan keadaan dirinya. Orang percaya yang memiliki jabatan gerejawi sering kali merasa telah memiliki citra atau brand image tertentu yang membuatnya dipandang lebih baik dibanding orang lain. Hal ini sebenarnya dapat membahayakan, sebab kita akan mudah terlena dengan citra tersebut. Padahal, keberadaan dan keadaan diri kita belum sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Kita yang seharusnya masih harus berbenah, malah tenggelam dalam brand image yang dilekatkan jemaat atau masyarakat umum kepada kita. Sesungguhnya, hal ini adalah halusinasi atau fantasi yang terjadi dalam diri orang percaya. Keadaan diri mereka masih buruk, namun merasa diri sudah baik karena pandangan orang lain.

Hal serupa tidak hanya dialami oleh mereka yang memiliki jabatan gerejawi, namun juga setiap jemaat yang sudah merasa diri selamat ketika menjadi orang Kristen. Banyak orang Kristen yang sudah merasa selamat dengan menerima Tuhan Yesus pada saat dibaptis. Mereka berpikir bahwa setiap orang yang menerima Yesus sudah otomatis selamat atau masuk surga. Sesudah menerima Yesus, mereka menjalani hidupnya seperti biasa dan tenggelam dalam percintaan dunia. Sejatinya, mereka tidak mengerti tentang maksud sesungguhnya dari keselamatan. Keselamatan mengembalikan karakter manusia pada rancangan semula. Penerimaan akan Yesus melalui pengakuan dan baptisan adalah langkah awal untuk hidup di dalam Dia. Selanjutnya, seseorang harus mengenali keberadaan dirinya untuk kemudian diperbaiki oleh Allah melalui kebenaran dan peristiwa hidup. Jika seseorang sudah salah berpikir dengan konsep keselamatan yang otomatis, maka hal itu sangat berpotensi menghalangi seseorang masuk dalam keselamatan yang sesungguhnya. Oleh karenanya, setiap kita harus mengenali keberadaan diri kita hari ini di hadapan Tuhan. Apakah aku sudah berkenan? Bagaimana kalau hari ini aku berjumpa dengan Dia? Apakah Dia akan mengenaliku sebagai kekasih-Nya? Mengenal keberadaan diri kita dengan jujur merupakan awal untuk diubahkan oleh Tuhan. Seseorang yang merasa tidak perlu berubah, sesungguhnya orang yang tidak mengenal keberadaan dirinya.