Mengemudikan Hidup
09 August 2019

Dengan kewenangan-Nya yang tidak terbatas, Allah dipandang bertindak sesuka-suka-Nya tanpa ada yang dapat mencegah. Dilengkapi dengan alasan bahwa Allah tidak pernah gagal mengambil keputusan dan Allah baik adanya, maka konsep Allah menentukan segala sesuatu secara sepihak tanpa melibatkan kehendak bebas manusia, diyakini dan diterima dengan sepenuh hati. Dengan argumentasi tersebut, mereka yang berpendirian bahwa Allah menentukan takdir manusia, merasa memiliki pembenaran atas pandangan teologinya. Pikiran mereka semakin kokoh meyakini dan menerima apa yang salah, tetapi mereka merasa sedang meninggikan dan memuliakan Allah.

Pandangan salah di atas dapat melahirkan pemikiran bahwa manusia hanya menjadi obyek, bukan subyek. Konsep ini tidak benar. Sikap ini sebenarnya justru merupakan sebuah sikap menciderai Allah. Allah dinilai dan dipandang sebagai Pribadi yang bisa memberi sesuatu yang baik atau positif, tetapi juga bisa memberi sesuatu yang buruk atau negatif. Pandangan tersebut juga membangun pemahaman bahwa Allah yang kuat adalah Allah yang pikiran-Nya tidak sehat, sebab Allah bisa mendatangkan bencana bagi manusia dan semua makhluk di bumi ini. Bagaimana bisa mengatakan allah seperti ini adalah Allah yang baik? Sebenarnya Pandangan terhadap kedaulatan Allah yang memberi kehendak bebas kepada manusia tidak mengurangi hormat kita kepada Dia. Selamanya Dia tidak pernah bercacat dan tidak bercela. Sesungguhnya, Allah adalah Allah yang luhur, mulia, agung, dan suci. Keberadaan Allah adalah keberadaan yang sangat mulia. Kepada-Nya segala hormat dan pujian layak dinaikkan. Allah yang memberi tatanan kehendak bebas kepada manusia adalah Allah yang konsekuen terhadap tatanan tersebut.

Masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah yang memberi kendaraan, yaitu hidup ini. Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Kalau seseorang bermaksud menyerahkan kemudi hidupnya kepada Allah, berarti sama dengan meminta Allah menyangkali sifat dan hakikat-Nya yang telah memberikan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab.

Manusia harus belajar bagaimana mengemudikan hidupnya secara benar sesuai dengan kehendak yang menciptakan kehidupan itu dan mengarahkannya ke arah yang benar. Dalam sejarah kehidupan manusia, Adam dan Hawa telah gagal mengemudikan hidupnya. Mereka mengemudikan kendaraan hidup ini ke arah yang salah, sehingga Allah harus mengusir mereka dari Eden, jauh dari persekutuan yang ideal dengan Allah, Bapanya. Kemudian hari, Adam terakhir, yaitu Tuhan Yesus, berhasil mengemudikan hidup-Nya sehingga Ia menjadi pokok keselamatan, artinya menjadi penggubah. Kata “pokok keselamatan” dalam teks aslinya adalah penggubah (Yun. Aitios). Penggubah di sini maksudnya bahwa Allah Yesus yang mengubah hidup orang percaya melalui kasih karunia yang diberikan dan keteladanan hidup, Roh Kudus yang menuntun kepada segala kebenaran, Injil untuk memperbaharui pikiran, dan Allah bekerja dalam segala sesuatu sebagai proses pembentukan kita.

Kalau kendaraan secara umum tidak memiliki gairah sebab benda mati, tetapi kendaraan yang kita tunggangi dalam hidup ini memiliki gairah. Gairah itu ada di jiwa dan ada di tubuh daging ini. Kalau kendaraan secara harafiah adalah benda mati yang tidak memiliki keinginan atau gairah, berbeda dengan kendaraan hidup kita. Kita memiliki daging yang merekam banyak keinginan atau nafsu (lust). Kita juga memiliki jiwa yang sudah tercemari oleh berbagai hasrat (cita rasa jiwa) yang tidak sesuai dengan kehendak Allah yang bisa membelenggu. Kita juga memiliki nurani yang sudah tercemar oleh masukan berbagai filosofi hidup. Inilah yang dimaksud oleh Yohanes sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Semua itu bukan berasal dari Bapa. Semua keinginan itu akan lenyap, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa memperoleh hidup kekal.

Dalam diri orang percaya terdapat dua gairah yang saling bertentangan, yaitu kehendak Allah atau kehendak Roh dan kehendak diri kita sendiri. Di sini terjadi friksi antara keinginan roh dengan keinginan daging. Keinginan roh artinya keinginan yang sesuai dengan kehendak Allah, tetapi keinginan daging bertentangan dengan kehendak roh. Dalam Galatia 5:17, Paulus menulis: Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -karena keduanya bertentangan- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.