Mengasihi Allah Dengan Segenap Hidup
20 May 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 8:28-29 tertulis: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dalam ayat ini, ditunjukkan kepada kita bahwa target hidup kekristenan adalah “serupa dengan Yesus.” Untuk itu, Allah harus bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, dan kebaikan tersebut adalah serupa dengan Yesus.

Mengapa Allah harus menggunakan segala kejadian atau peristiwa dalam kehidupan ini guna perubahan kita agar menjadi serupa dengan Yesus? Sebab Allah tidak berintervensi di dalam jiwa manusia untuk dapat mengubahnya agar serupa dengan Yesus. Allah menggunakan sarana kejadian-kejadian dalam kehidupan untuk mengubah orang percaya. Ini berarti, perubahan yang dialami orang percaya bukan paksaan dari pihak Allah, tetapi juga melibatkan respons manusia. Allah mengizinkan peristiwa-peristiwa terjadi dalam hidup, di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran rohani yang berdaya guna memroses orang percaya agar dapat mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi.

Adapun apakah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh orang percaya benar-benar berdaya guna mengubah masing-masing individu, tergantung dari masing-masing individu. Dalam hal ini, masing-masing individu memiliki kebebasan apakah menangkap dan menerima berkat rohani melalui peristiwa-peristiwa hidup tersebut atau tidak sama sekali. Dalam hal ini, tanggung jawab masing-masing individu tetap ada. Jadi, kalau ada orang Kristen tidak bertumbuh dewasa atau tidak semakin seperti Yesus, bukan karena Allah diskriminatif. Seberapa banyak seseorang dapat menangkap dan menerima berkat rohani dari peristiwa-peristiwa hidup yang dialami, ditentukan oleh kualitas masing-masing individu. Kualitas tersebut diukur dari seberapa dalam dan seberapa luas seseorang memiliki pemahaman yang benar mengenai kebenaran Alkitab dan kesediaan meninggalkan percintaan dunia, serta kehidupan yang bersih.

Tanpa kualitas hidup yang baik, seseorang berkeadaan buta terhadap berkat rohani yang Allah berikan melalui berbagai peristiwa-peristiwa hidup yang dialami. Sehingga, berkat rohani yang diberikan tidak berdaya guna mengubah hidup. Dalam hal ini, masing-masing orang bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani atau keselamatan kekalnya. Hal di atas ini meneguhkan apa yang dikemukakan di dalam Lukas 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Ayat ini menunjukkan bahwa kalau seseorang masih terikat dengan mamon, maka tidak akan mengerti kebenaran, yang sama dengan tidak menangkap suara Tuhan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi. Di dalam Matius 5:8 tertulis,Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Ayat ini menunjukkan, kesucian hati membuat seseorang dapat melihat (Yun. horao – melihat dengan hati dan pikiran) atau menangkap suara Tuhan melalui peristiwa-peristiwa.

Di dalam Roma 8:28-29 tertulis, “… mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Kalimat dalam ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menerima atau menolak anugerah-Nya, apakah seseorang bersedia mengasihi Allah atau tidak. Kalau dikatakan Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, ini hanya ditujukan untuk mereka yang mengasihi Dia. Hal “mengasihi Allah” menunjuk sesuatu yang sangat pribadi, yaitu menyangkut perasaan. Tentu saja hal ini ada di wilayah diri manusia. Allah tidak berintervensi pada wilayah ini. Wilayah ini adalah wilayah kedaulatan individu. Kalau orang yang tidak mengasihi Allah tidak mengalami penggarapan dari Allah, berarti setiap individu menentukan apakah hidup di dalam berkat atau tidak.

Berhubung target yang dicapai adalah sesuatu yang nilainya sangat tinggi—yaitu serupa dengan Yesus—maka dibutuhkan pertaruhan yang mahal. Pertaruhan itu adalah mengasihi Allah, tentu dengan standar mengasihi sesuai dengan kehendak Allah. Mengasihi Allah yang benar adalah mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Ini berarti Allah layak menerima persembahan segenap hidup tanpa batas. Hal ini sinkron dengan Matius 6:24, bahwa orang percaya tidak boleh mengabdi kepada dua tuan. Maksud ayat ini adalah orang percaya harus mengasihi Allah dengan segenap hidup atau tidak usah sama sekali. Hanya orang yang berani “kehilangan nyawa”—yang sama dengan kehilangan segala kesenangan, karena hanya mengasihi Allah—yang dapat menerima penggarapan Allah untuk menjadi serupa dengan Yesus, yang sama dengan menerima keselamatan.