Mengarahkan Hidup
31 August 2019

Untuk hidup yang berpusat pada Allah, orang percaya harus berani memancangkan perhatian dan tujuan hidupnya hanya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Harus diakui bahwa arah perjalanan hidup manusia dewasa ini makin tidak jelas. Sebagian besar orang melakukan berbagai kegiatan hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebagian lain berusaha untuk menikmati hidup dengan segala caranya, mereka bukan kelompok orang yang sekadar mempertahankan hidup, sebab bagi mereka segala kebutuhan sudah terpenuhi. Kelompok ini adalah kelompok yang terbilang beruntung secara dunia, tetapi sebenarnya berkeadaan malang secara rohani, sebab mereka semakin buta dan jauh terhadap kebenaran Allah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang kaya sukar masuk surga. Sukar bukan berarti tidak bisa, tetapi cenderung mustahil. Menuntut perjuangan dan pengorbanan yang lebih berat.

Tidak jelasnya arah perjalanan hidup ini bukan saja ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, tetapi juga ada dalam kehidupan orang percaya yang pengertiannya mengenai kebenaran Allah tidak mendalam. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang sangat rentan terhadap pencobaan, sangat rawan terhadap serangan musuh. Kalau sekarang masih dijumpai banyak orang Kristen yang mudah berbuat dosa, malas melayani Tuhan, menolak berkorban bagi pekerjaan Allah dan tidak menyukai ibadah kepada Tuhan, hal ini disebabkan ia tidak memiliki arah perjalanan hidup yang benar atau disorientasi.

Rasul Paulus dalam suratnya berkata: Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1Kor. 9:26). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis di mana garis finish-nya, ia tahu ke mana seharusnya ia berlari. Seorang atlet harus berlari, bukan berjalan. Hal ini menunjuk kepada pergumulan kompetisi yang hebat dalam pertandingan itu. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya, tetapi juga arah langkahnya. Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa, artinya sesuatu yang yang harus digumuli secara serius. Pergumulan hidup kita bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan, tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.

Seseorang yang arah hidupnya sudah benar harus terus bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Terdapat banyak tekanan dalam hidup ini, tekanan yang bertujuan agar orang percaya bergeser dari jalur perjalanan hidup yang benar yang sudah dimiliki. Tekanan itu datang dari si musuh, yaitu kuasa kegelapan dalam berbagai bentuk dan cara. Orang percaya harus tetap waspada dan berjaga-jaga agar dapat mengenali tipu daya si musuh tersebut. Tekanan ini disebutkan oleh Petrus sebagai “penderitaan” yang dialami semua saudara seiman di seluruh dunia (1Ptr. 5:9). Tekanan itu bukan saja keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Justru keadaan hidup yang menyenangkan, malah jauh lebih berbahaya.

Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan beberapa kisah yang berkaitan dengan hal disorientasi ini. Kisah-kisah itu antara lain kehidupan Lot dan keluarganya (Kej. 19:1-29). Tuhan Yesus mengingatkan orang percaya agar tidak seperti istri Lot (Luk. 17:32). Istri Lot tidak fokus dalam melarikan diri dari Sodom dan Gomora. Keselamatan yang disediakan Allah atas hidupnya gagal terwujud. Iblis adalah oknum jahat yang selalu berusaha agar orang percaya tidak fokus. Orang percaya harus mencontoh sikap Yesus sendiri yang tidak terbelokkan oleh bujukan Iblis. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk berbelok dari misi-Nya agar menghindari salib. Tetapi Tuhan Yesus tetap pada tujuan pelayanan-Nya (Mat. 16:21-23). Sebagaimana Iblis menunjukkan kepada Tuhan Yesus kemuliaan dunia dan membujuk Tuhan Yesus untuk membelokkan misi-Nya (Luk. 4:5-8), Iblis juga berusaha membelokkan orang percaya dari arah hidup yang benar dengan memberi umpan keindahan dunia ini.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata: … aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Yesus Kristus (Flp. 3:13-14). Dalam pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Oleh sebab itu, langkah yang harus dilakukan orang percaya adalah memberi diri mengikuti segala jalan yang ditunjukkan-Nya. Orang percaya harus mengerti kebenaran Firman Tuhan, yaitu prinsip-prinsip kebenaran dalam Injil. Kalau seseorang salah dalam mengarahkan hidupnya, maka Tuhan tidak bisa membuat ia menemukan Kerajaan-Nya. Inilah tatanan Allah.