Mengampuni Tanpa Syarat
22 February 2021

Play Audio

Ketika Tuhan mengatakan “Ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” hal ini mengindikasikan suatu kemutlakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah. Pengampunan tersebut haruslah tanpa syarat. Mengampuni tanpa syarat memiliki beberapa makna. Pertama, tidak perlu menunggu orang meminta maaf kepada kita terlebih dahulu baru kita ampuni. Sering kali seseorang mengampuni dengan syarat orang yang bersalah tersebut harus meminta maaf terlebih dahulu, ditambah dengan cara tertentu. Pengampunan dalam standar kekristenan tidak memandang apakah orang tersebut telah meminta maaf terlebih dahulu atau tidak. Kita mengampuni karena keberadaan kita sudah diubahkan Tuhan, sehingga sulit untuk tidak mengampuni.

Kedua, pengampunan tanpa syarat juga berarti tidak melihat besar kecilnya kesalahan dalam mengampuni. Banyak orang dapat mengampuni orang yang bersalah padanya dalam ukuran tertentu. Namun ketika sampai di satu level atau stadium, ia merasa sulit untuk mengampuni seseorang. Bahkan pada tahap tertentu, ada orang yang tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain karena kesalahan tersebut dirasa sangat fatal dan melukainya. Sesungguhnya, pengampunan yang tanpa syarat merujuk pada kemampuan seseorang untuk melepaskan pengampunan tanpa terhalang besar kecilnya kesalahan yang dilakukan seseorang. Hal ini dapat tumbuh dari kesadaran seseorang ketika ia membandingkan kesalahannya yang banyak telah dihapus oleh Tuhan tanpa syarat.

Setiap kita harus berani mengampuni tanpa syarat. Artinya, sebesar apa pun kesalahan orang kepada kita, kita tidak memperhitungkannya dan tidak berniat untuk menghukumnya. Mengampuni berarti menyerahkan penghakiman, penghukuman, atau pembalasan di tangan Tuhan. Tentu yang tidak kalah penting, kita tidak mengharapkan mereka yang telah melukai kita itu mendapat celaka. Inilah standar orang percaya, yakni mengampuni orang tanpa syarat seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Ketika seseorang mengampuni orang yang bersalah kepadanya tanpa syarat, sejatinya ia sedang melakukan perbuatan baik.

Perbuatan baik yang dimaksud tidak sama sekali menggantikan keselamatan dalam Tuhan Yesus. Ketika seseorang berbuat baik dengan mengampuni tanpa syarat, hal ini menunjukkan bahwa ia melakukan perbuatan kasih dalam kehidupannya yang telah diperbarui. Keselamatan manusia dimulai dari salib. Salib adalah satu-satunya jalan menyelesaikan dosa. Dengan salib, maka tersedia pengampunan bagi seluruh orang percaya. Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana, maka Ia harus mengurbankan Putra Tunggal-Nya sebagai kurban tebusan bagi penebusan manusia. Tuhan Yesus bisa mengampuni kita pun karena ada tatanan, yaitu ketika Ia mati di kayu salib memikul dosa-dosa kita. Setelah ia mengurbankan nyawa-Nya, barulah Anak Manusia berhak mengampuni. Tetapi sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mengatakan “dosamu telah diampuni,” bukan “Kuampuni.” Hal ini menunjukkan bahwa sebelum Yesus disalib, yang mengampuni adalah Allah Bapa, belum Tuhan Yesus. Dengan ini jelas tampak tatanan yang ada dalam diri Allah. Tuhan Yesus dan Bapa sendiri—yaitu Allah Bapa—bisa mengampuni kita pun karena melalui sarana atau mekanisme. Darah binatang tidak bisa menyucikan. Darah binatang hanya merupakan sebuah tindakan profetis; nubuatan mengenai darah sesungguhnya yang bisa menghapus dosa, yaitu darah Tuhan Yesus.

Pengampunan diberikan supaya orang yang diampuni bisa mengampuni. Jika seseorang tidak bersedia mengampuni orang lain, maka ia pun tidak diampuni. Dia menerima kebaikan Allah supaya dia bisa menjadi baik atau agar dia menjadi baik. Kalau dia tidak menjadi baik, maka kebaikan yang Allah berikan dibatalkan. Tuhan Yesus mengatakan berulang-ulang dalam beberapa Injil, “Kalau kamu tidak mengampuni saudaramu atau tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak mengampuni kamu.” Pengampunan ini menjadi simbol atau lambang dari karakteristik yang harus dimiliki pula oleh setiap orang percaya. Jika Allah memiliki karakteristik mengasihi dan mengampuni, maka hal itu harus dimiliki oleh orang percaya sebagai anak-anak-Nya.