Menemukan Mentor Yang Benar
24 June 2020

Play Audio Version

Di mana Tuhan dapat dikenal dan ditemukan oleh orang percaya? Tuhan sudah hadir dalam kehidupan setiap orang, sebab sejak kedatangan Anak Allah yang bernama Yesus, Allah berkenan hadir dalam kehidupan setiap insan umat pilihan. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa Yesus adalah Immanuel, artinya Allah beserta dengan kita. Bagi orang percaya, Roh Kudus dimeteraikan untuk membimbing kehidupannya. Ini berarti Tuhan bukan hanya mendampingi orang percaya, melainkan Tuhan tinggal di dalam kehidupan orang percaya. Tidak ada pemisah antara Allah dan manusia. Itulah sebabnya, sering dikatakan bahwa Allah hanya sejauh doa. Di mana Allah dapat ditemukan? Jawabnya adalah di dalam kehidupan orang percaya di dalam segala hal dan di mana pun mereka berada. Dalam hal ini, orang percaya tidak perlu meyakini ada tempat-tempat khusus di mana Allah bisa lebih dapat dijumpai.

Allah dapat dikenal dan ditemukan di sepanjang menit, detik, dan setiap saat dalam perjalanan hidup kita. Orang percaya tidak perlu mencari-cari Allah di tempat tertentu. Di mana pun orang percaya berada dan dalam segala keadaan, Allah hadir dan bergerak. Allah tidak pernah berhenti memelihara, melindungi, dan mendidik orang percaya. Masalahnya terletak pada masing-masing individu, apakah menanggapi kehadiran Allah dalam hidup ini. Bagaimana cara menanggapi kehadiran Allah tersebut? Tentu membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang memberi bimbingan atau penggembalaan. Untuk itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Allah memilih atau menunjuk orang-orang yang menjadi hamba-Nya untuk menjadi pembicara yang menuntun umat agar dapat menemukan dan mengalami Tuhan (Yoh. 21:15-17; 1Ptr. 5:2).

Masalahnya kemudian adalah hamba-hamba Tuhan yang mestinya menggembalakan jemaat dengan memberi tuntunan bagaimana menanggapi kehadiran Allah hanya menjejali pikiran jemaat dengan doktrin atau ajaran yang hanya di dalam nalar. Doktrin dan ajaran-ajaran tersebut kurang, bahkan tidak memiliki implikasi yang jelas dalam menjalani hidup kekristenan. Kalau jujur, bisa dikatakan bahwa sangat sedikit atau hampir-hampir tidak ada jemaat yang berinteraksi langsung dengan Allah sebagai hasil dari menerima doktrin atau ajaran-ajaran para pembicara di mimbar gereja. Ironisnya, teolog-teolog tersebut merasa sudah memenuhi tanggung jawabnya dalam melayani jemaat, dan inilah standar pelayanan dalam gereja-gereja pada umumnya.

Lebih dari siapa pun yang dapat dijadikan sebagai gembala atau mentor bagi jemaat, setiap orang percaya harus memiliki interaksi langsung dengan Allah. Masing-masing individu harus bertanya kepada Allah dengan kesungguhan, ke mana mereka harus berjemaat atau bergereja. Sudah saatnya setiap orang percaya memperkarakan siapa yang benar-benar menjadi jurubicara Tuhan yang dapat menggembalakan umat agar bisa menjumpai Allah, dan dapat berinteraksi langsung dengan Allah. Allah pasti berbicara kepada masing-masing orang percaya dan memberi petunjuk.

Dengan kehadiran Allah di tengah-tengah orang percaya, seharusnya orang percaya dapat mendengar suara-Nya. Hendaknya, orang percaya tidak ragu-ragu terhadap bimbingan langsung dari Allah kepada setiap individu secara khusus. Untuk ini, orang percaya harus berani menginvestasikan waktunya guna menemukan Allah dan hidup berjalan dengan Dia. Orang percaya harus bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Allah, serta meninggalkan percintaan dengan dunia. Orang percaya harus berani untuk tidak duniawi. Harus selalu diingat bahwa kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa, kita juga meninggal dunia tidak membawa apa-apa. Menemukan Allah dan hidup dalam Dia harus menjadi agenda satu-satunya dalam kehidupan.

Kalau seseorang tidak bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela serta tidak bersedia meninggalkan percintaan dunia, sebaiknya atau seharusnya berhenti jadi orang Kristen, sebab percuma ke gereja dan menjadi orang Kristen. Dengan semangat dunia yang tidak ditanggalkan, seseorang tidak akan bisa menjumpai Allah. Tekad memang tidak otomatis dapat membuat seseorang hidup suci dan meninggalkan percintaan dunia, tetapi Allah akan menuntunnya sampai orang percaya yang berkomitmen dapat menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya bergantung pada doktrin atau ajaran sistematika teologi manusia.

Selain memahami doktrin dan ajaran yang benar, setiap individu harus menemui Allah yang hidup. Setiap jemaat yang sungguh-sungguh mencari Allah akan menemukan tempat di mana ia belajar lebih mendalam mengenai Dia dalam doktrin dan sistematika teologi yang benar-benar Alkitabiah. Orang yang benar-benar menemukan Allah pasti tidak tertarik lagi dengan dunia ini, pasti hidup tidak bercela, rela berkorban apa saja demi Kerajaan-Nya, dan menyadari serta menghayati penuh bahwa dunia bukan rumahnya. Hatinya sudah dipindahkan di Kerajaan Surga sehingga memiliki kerinduan untuk pulang ke surga. Sampai pada taraf ini, kematian tidak lagi menjadi realita yang menakutkan. Orang percaya seperti ini adalah orang percaya yang siap untuk meninggal dunia.